KONSEPSI PENDIDIKAN MENURUT AJARAN HINDU KAHARINGAN

September 15, 2009 at 8:59 am (Pandehen, Siraman Rohani)

Tabe salamat Lingu Nalatai Salam Sujud Karendem Malempang

Bapak-Bapak,Ibu-Ibu dan Saudara dalam kasih Ranying Hatalla Langit

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perkenan bapak/ibu/suadara meminta saya untuk menyampaikan pandehen / dharma wacana  dengan topik Makna sangku Tambak Raja Dalam Upacara Persembahyangan Basarah.

Bapak-bapak, ibu-ibu umat sedharma yang berbahagia.

Didalam ajaran agama Hindu Kaharingan, apabila kita menginginkan mengupas atau meninjau pendidikan dari asfek ajaran Hindu Kaharingan , maka dapat kita lihat dari berbagai segi baik dari Kitab suci Panaturan maupun adari sumber-sumber ajaran lainnya yakni Tawur, Bahasa sangiang dan lainnya.

Berdasarkan Kitab suci Panaturan yang menjadi pegangan umat Hindu Kaharingan didalam menjalankan kehidupannya sebagai manusia yang beragama, maka kita dapat meninjau makna-makna pendidikan didalam Kitab Suci Panaturan tersebut, yang berisikan firman-firman Ranying Hatalla Langit kepada umat manusia yang diturunkan ke pantai danum kalunen (dunia).

Sesuai dengan pasal 41 di Kitab suci Panaturan yaitu “ Bawi Ayah Hadir Di Lewu Telu Menuju Pantai danum Kalunen”, yang mana didalam pasal 41 ini  Dalam pasal 41 ini mengungkapkan tentang firman Ranying Hatala yang memerintahkan Raja Uju Hakanduang , Kanaruhan Hanya Basakati agar segera turun kelewu Telu Kalabuan Tingang, Rundung Epat Kalihulun Talawang. Raja Uju Hakanduang memberitahukan firman dari Ranying Hatalla Langit agar mereka dilewu Telu turun menuju pantai danum kalunen untuk mengajar anak cucu Raja Bunu tentang pelaksanaan upacara Tiwah Suntu dilewu Bukit Batu Nindan Tarung. Dan yang akan turun sebagaimana yang difirmankan oleh Ranying Hatala Langit yaitu Raja Tunggal Sangiang , Raja Mantir Mama Luhing Bungai , Raja Rawing Tempun Telun , yang akan mengajar tentang tata upacara pelaksanaan Balian dan ajaran- ajaran upacara lainnya, dari upacara yang terkecil sampai pada yang terbesar. Demikian pula Raja Duhung Mama Tandang yang akan mengajar tentang Tata cara upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei , perjalanan Banama Nyahu dan macam- macam upacara lainnya yang berhubungan dengan upacara kematian. Dan Raja Linga Rawing Tempun Telun nantinya kalian mengajar tentang tata cara pelaksanaan hanteran sampai kepada tata cara upacara Tiwah. Selanjutnya Raja Garing Hatungku, Nyai Endas Bulau Lisan Tingang, Nyai Inai Mangut yang nantinya mengajar tentang segala peralatan upacara , membuat katupat, kambungan, sanggar, palangka dan peralatan lainnya  serta mengajar tentang upacara perkawinan , upacara kehamilan, dan melahirkan bayi. dan kalian yang turun kepantai danum kalunen nanti akan diberi nama oleh Ranying Hatalla Langit Yaitu “ BAWI  AYAH ‘. Artinya kalian ini nantinya yang pertama kali mengajar orang perempuan dalam melaksanakan Balian dipantai danum kalunen serta menyebutkan nama mereka bernama “ BAWIN BALIAN ‘. Selanjutnya Raja Uju Hakanduang berpesan lagi dengan Raja Ungkuh Batu , Tuhan Jenjang Liang agar ia turun paling dahulu menuju pantai danum kalunen untuk mencari tempat yang cocok. Setelah itu Raja Ungkuh Batu tiba dipuncak Bukit Samantuan dan langsung milir menelusuri sungai menuju kampung yang dilihatnya bercahaya dan singgah disebuah rumah. Setelah bertemu dengan pemilik rumah, Ungkuh Batu lalu membicarakan perjalanannyadan sejak saat itu namanya menjadi  UNGKUH JALAYAN lalu Ungku Jalayan menanyakan nama kampung tersebut kepada pemilik rumah dan diberitahukan nama kampung tersebut bernama “ Lewu Tutuk Juking dan Sungai bernama  KAHEAN. Sekarang aku datang memenuhi firman Ranying Hatalla Langit yang disebabkan keturunan Raja Bunu dipantai danum kalunen sudah banyak lupa terhadap firman  dan ajaran Ranying Hatalla Langit. Sewaktu melakukan Tiwah Suntu dilewu Bukit Batu Nindan Tarung dan setelah saya nanti ada maka dilewu telu turun menuju kampung ini. Pada saat itu nanti yang dipanggil untuk menerima ajaran dari Bawi Ayah adalah :

–       Raja Helu Maruhum Usang

–       Raja Sariantang Penyang

–       Kameluh Rangkang Sangiang

–       Raja Landa Bagatung Batu

–       Raja Sina Bakuncir panjang

–       Raja Siam tempun tambaku mangat

–       Raja Kalung Babilem Pamungkal Garantung

–       Raja Pait Panuang Duit

–       Ratu Jampa panuang Balanga

–       Garahasi Minton panuang Badil Tambun

–       Nyai Siti

–       Diang Lawai

–       Nyai Bitak

–       Nyai Bunum

–       Raja Malayu baratupung Bulau

–       Patih Rumbih

–       Dambung Mangkurat

–       Patih Dadar

Setelah Ungku Jalayan lenyap dari pandangan mereka dan pada suatu pagi mereka disepanjang kampung tiba-tiba mereka mendengar suatu suara yang gumuruh dari arah atas yaitu Palangka Bulau Lambayung Nyahu turun dari lewu telu yang dipimpin oleh Raja Tunggal Sangumang , Raja Linga Rawing Tempun Telun , Raja Duhung Bulau , Sahawung Bulau Tampung Buang Panjang mereka turun membangun Balai tempat mereka mengajar Balian.

Setelah semua bangunan Balai tersebut sudah selesai, disitu Sahawung Bulau Tempun Buang Penyang menanam beberapa pohon pinang tawar disisi bangunan Balai yang merupakan pertanda, apabila pinang ini berbuah maka mereka dari lewu Telu akan datang dan mulai mengajar. Tidak beberapa lama buah pinang tersebut berbuah , maka pada saat itu pula Bawi Ayah turun menuju Lewu Tutuk Juking dan mulai mengajar tentang tatacara Balian dari upacara yang terkecil sampai yang terbesar. Sewaktu Bawi Ayah mengajar mereka Balian , disitu mereka membagi tugasnya. Kemudian untuk keturunan anak cucu Raja Bunu yang hidup menetap dan menyebar diseluruh permukaan bumi ini terdapat banyak perbedaan dan melaksanakan bermacam-macam upacara, hal ini disebabkan mereka menyesuaikan dengan keadaan alam lingkungannya. Setelah itu Bawi Ayah menasehati , mengajar anak turunan Raja Bunu mulai dari tata cara berbicara, tingkah laku dan sopan santun. Seandainya apakah terjadi kesalahan pembicaraan yang sengaja maupun tidak sengaja terhadap kerabat keluarganya maka ia dikenakan singer (denda). Seusai Bawi Ayah melaksanakan tugasnya mengajar, tepat tujuh tahun lamanya ,merekapun pulang kembali menuju Lewu Telu, bersama itu mereka menyebutkan nama tempat mereka mengajar tersebut yaitu :  Lewu Tanjung Nyahu , Rundung Karangan panjang. Begitu pula nama sungai yang menjadi tempat kampung tersebut berada, yaitu : “ Batang Danum Nyahu Maruang Duhung, Guhung Pintih Tambarirang Nahasak Hanyi Dan saat itu pula umat manusia menyebutkan Ranying Hatalla Yaitu :  “ RANYING HATALA LANGIT , RAJA TUNTUNG MATAN ANDAU , TUHAN TAMBING KABUNTERAN BULAN , JATHA BALAWANG BULAU , KANARUHAN BAPAGER  HINTAN “.

Bapak-bapak, ibu-ibu umat sedharma yang berbahagia

Berdasarkan pasal 41 ini maka kita bias melihat suatu proses pembelajaran yang diinginkan oleh Ranying Hatalla langit melalui utusannya Bawi Ayah yang melaksanakan firman Ranying Hatalla Langit kepada anak keturunan Raja Bunu yaitu umat manusia di dunia agar tidak lupa terhadap ajaran-ajaran atau perintah-perintahNya, sehingga umat Hindu Kaharingan dapat menjalankan kehidupannya dengan baik dan bermoral.

Selanjutnya Di dalam Hindu Kaharingan dinyatakan mekanisme , menuju kerukunan, persamaan  visi dan misi demi keutuhan, sebagai berikut:

“ Hatamuei lingu nalatai, hapangaja karendem malempang’ (artinya bermusyawarahlah kamu untuk mempersatukan pikiran, visi, dan misi”).Kemudian;

“ Hapungkal lingu nalatai, habangkalan  karendem malempang(artinya bermufakatlah mencapai kebulatan,  menjadi visi dan misi hal-hal yang mendasar) selanjutnya;

“ hariak lingu nalatai haringkai karendem malempang “(artinya sama-sama menyebar luaskan  visi, misi ,kesepakatan itu dengan penuh rasa tanggung  jawab  dalam pelaksanaannya).

Kalau nilai-nilai tersebut sebagai karangka acuan bagi umat didlam menjalankan kehidupannya  maka isi dan sasaran-sasarannya adalah:

(1) Untuk mempersatukan dan menetapkan persatuan dan kesatuan masyarakat pendukungnya (penyang Hinje Simpei Paturung Humba Tamburak);

(2) Membina Integritas kepribadian identitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Ela Buli Manggetu Hinting Bunu Panjang, Isen Mulang, Manetes Rantai Kamara Ambu);

(3)      Meningkatkan kesejahteraan dalam kehidupan bermasyarakat (Hatangku Manggetu Bunu, Kangkalu penang  mamangun Betang);

(4)Menciptakan manusia yang berkeTuhanan (Ranying Hatalla Langit Katamparan);

(5)       Mewujudkan kehidupan yang damai, adil dan beradab. (Hatamuei Lingu Nalatai, Hapangaja Karendem Malempang = Silahturahmi);

Kemudian kekayaan nilai-nilai tersebut akan mempunyai kemampuan yang perlu didayagunakan dalam pelaksanaan sebagai umat manusia, karena ia mempunyai pranata, lembaga atau norma-norma yang selama ini telah dapat membuktikan diri sebagai landasan hidup bersama.

Pengembangan Pranata tersebut diambil dari filosofi: “ Haring Hatungku Tungket Langit “ (Tiga Tungku Pohon Kehidupan = Kayun Pambelum)

  1. Kayun Gambalang Nyahu;(kaum Agamawan Yang Melaksanakan Firman Tuhan).
  2. Kayu Erang Tingang; (Kaum Ahli Adat dan Hukum Adat).
  3. Kayu Pampang Saribu; (Kaum Cendikkiawan).

Jika ketiganya ini bersatu dan berfungsi di dalam kehidupan bersama, maka mereka dapat berfungsi dan mempunyai mekanisme sendiri dalam menyelesaikan dalam setiap masalah dan dapat pula menghindari dan menyelesaikan konflik semacam katub pengaman  dalam kehidupan bersama

Didalam ajaran agama Hindu Kaharingan ada suatu kalimat didalam bahasa Sangiang yaitu “ Ela Kurang Penyang Panggarasang Belum Batu Panggiri Linggu Maharing Nyangkelan Garing Raja wen Beken” yang maksudnya : “ Janganlah engkau kekurangan terhadap Imanmu serta penuhilah dfirimu dengan kebijaksanaan hidup (ilmu pengetahua) dan beribadat serta beramal sehingga menjadikan hidupmu disegani dan dihormati diantara orang-orang lain yang berkuasa”.

Berdasarkan tinjauan-tinjauan yang berhubungan dengan pendidikan diatas, maka kita dapat menarik suatu ulasan bahwa didalam ajaran agama Hindu kaharingan memiliki 5 (lima) hal pokok yang menjadikan manusia sukses didalam mencapai tujuan yang diharapkan yaitu :

1. Penyang                  : Iman, Ilmu, Kasih Sayang

2. Pangarasang            : Pengetahuan

3. Batu                        : Beribadat laksana batu karang

4. Panggiri                  : Amal

5. Linggum                 : Keteladanan, nilai-nilai luhur kebijaksanaan

Untuk mendapatkan kelima nilai-nilai tersebut, haruslah melalui suatu proses pendidikan dan pengajaran sehingga akhirnya dapat mengabungkan kelima unsure tersebut menjadi suatu yang bulat dan utuh sebagai bekal menjalani kehidupan didunia yang penuh dengan keaneka ragaman sikap dan perilaku.

Demikianlah pandehen/dharma wacana ini disampaikan, semoga memberikan manfaat yang besar bagi kita semua. Sebelumnya saya memohon maaf apabila saya selama menyampaikan pandehen ini ada kata-kata saya yang tidak berkenan dihati umat sekalian, semoga Ranying Hatalla Langit memberikati kita semua ,

Sahiy, Sahiy, sahiy.

Penyampai pandehen

Pranata, S.pd

Iklan

Permalink 1 Komentar

Pandehen

September 12, 2009 at 6:33 am (Pandehen, Siraman Rohani)

PANDEHEN / DHARMA WACANA

MAKNA SANGKU TAMBAK RAJA DALAM UPACARA PERSEMBAHYANGAN BASARAH

Tabe salamat Lingu Nalatai Salam Sujud Karendem Malempang

Bapak-Bapak,Ibu-Ibu dan Saudara dalam kasih Ranying Hatalla Langit

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perkenan bapak/ibu/suadara meminta saya untuk menyampaikan pandehen / dharma wacana  dengan topik Makna sangku Tambak Raja Dalam Upacara Persembahyangan Basarah.

Bapak-bapak, ibu-ibu umat sedharma yang berbahagia.

Agama Hindu Kaharingan yang didalam penyebaran agamanya memiliki dimensi  yang sangat luas serta fleksibel dan didalam perkembangannya selalu diikuti dengan Desa, Kala dan Patra yang berarti selalu menyesuaikan dengan tempat, waktu dan keadaan dimana umat Hindu Kaharingan itu berada, tumbuh dan berkembang dalam menjalankan kehidupan beragamanya. Dengan demikian tidak heran jika disetiap daerah didalam umat Hindu Kaharingan menjalankan ritual agamanya terdapat perbedaan-perbedaan  dari segi wujud  dan sifat pelaksanaannya, namun pada prinsipnya,  inti maksud dan tujuannya adalah sama yaitu mencapai suatu kebaikan (dharma). Dalam keberagaman tersebut bukan berarti agama Hindu Kaharingan didaerah yang satu dengan yang lain adalah berbeda. Satu hal yang mencirikan agama Hindu adalah terdapatnya konsep Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yaitu Tattwa (Ketuhanan), Etika (aturan tingkah laku), dan Upacara (ritual keagamaan).

Khusus umat Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah didalam mendekatkan dirinya dengan Ranying Hatalla Langit mengenal suatu upacara persembahyangan yang disebut dengan          “ BASARAH ”.  Umat Hindu Kaharingan di kabupaten Katingan juga mengenal kegiatan persembahyangan yang disebut juga dengan istilah BASARAH.

Agama Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah didalam mendekatkan dirinya dengan Ranying Hatalla Langit yaitu  melaksanakan persembahyangan Basarah. Yang mana Basarah artinya menyerahkan segalanya kepada Sang Pencipta Ranying Hatalla Langit agar didalam kita menjalani kehidupan  di dunia (lewu injam tingang) selalu disertai dan diberkati oleh Ranying Hatalla Langit.

Dalam upacara persembahyangan basarah haruslah dilaksanakan oleh seluruh umat Hindu Kaharingan yaitu dengan susunan basarah sebagai berikut :

  1. Mangaru Sangku Tambak Raja
  2. Doa Pembuka Basarah
  3. Kandayu Manyarah Sangku Tambak Raja
  4. Mabaca Pampeteh Ranying Hatalla Huang Panaturan
  5. Kandayu Mantang Kayu Erang
  6. Pandehen
  7. Kandayu Parawei
  8. Doa Kahapus Basarah
  9. Mambuwur behas hambaruan

Adapun sarana yang dipergunakan dalam persembahyangan basarah adalah :

  1. Sangku
  2. Behas
  3. Dandang Tingang
  4. Sipa (Giling Pinang) dan Ruku (Rukun Tarahan)
  5. Duit Singah Hambaruan
  6. Behas Hambaruan
  7. Undus Tanak
  8. Tampung Tawar
  9. Parapen/garu,manyan

10. Benang Lapik Sangku

11. Tanteluh Manuk

12. Kambang

Bapak-bapak , ibu-ibu umat sedharma yang saya hormati

Didalam kegiatan persembahyangan basarah ini intinya adalah menyerahkan persembahyangan Basarah suci Sangku Tambak Raja beserta segala isinya kepada Ranying Hatalla Langit melalu persembahyangan basarah, kemudian kita memohon  kepada Ranying Hatalla Langit agar dapat memberikan sinar suci kekuatanNya bagi kehidupan manusia agar menjalani kehidupan ini selalu mendapatkan bimbingan  menuju kejalan yang benar dan selalu mendapatkan berkat dan anugrah dariNya. Hal ini dapat kita lihat didalam kegiatan persembahyang Basarah yaitu pada saat Manggaru Sangku Tambak Raja  yaitu intinya adalah memberikan suatu keharuman Sangku Tambak Raja yang akan diserahkan kepada Ranying Hatalla Langit agar kegiatan Basarah tersebut akan mendapatkan berkah dan rahmad dariNya.

Pada pelaksanaan persembahyangan basarah , seperti yang tertuang diatas tadi yaitu berupa sarana  yang digunakan tentunya mempunyai makna yang harus diketahu oleh umat Hindu Kaharingan yaitu :

1.    SANGKU

Sangku biasanya digunakan dalam setiap upacara keagamaan Hindu Kaharingan khususnya dalam persembahyangan basarah yang dalam bahasa Sangiang disebut “ Sangku Tambak Raja, Saparanggun Dalam Kangatil Bawak Lamiang “ yang artinya “ Sangku yang telah dilengkapi oleh berbagai alat-alat upacara basarah”. Didalam upacara persembahyangan basarah, Sangku Tambak Raja tersebut haruslah ditempatkan diatas meja kecil , sehingga Sangku Tambak Raja tersebut akan nampak lebih tinggi , serta beralaskan kain yang berwarna warni dan bersih. Hal ini terlihat dalam makna Kandayu Manyarah Sangku Tambak Raja  yaitu Kandayu yang berisikan ungkapan syukur tentang maksud dan tujuan upacara persembahyangan Basarah yaitu dengan maksud menyerahkan Sangku Tambak Raja beserta segala isinya kepada Ranying Hatalla Langit melalui persembahyangan basarah tersebut dan kemudian memohon kepada Ranying Hatalla Langit agar dapat memberikan sinar suci kekuatanNya bagi kehidupan manusia agar didalam menjalani kehidupan ini (di lewu injam tingang)  senantiasa mendapat bimbingan  dalam berpikir yang baik, berkata yang benar serta menjalankan perbuatan yang baik dan benar pula.

Filosopis Sangku Tambak Raja ini merupakan suatu perwujudan dari seluruh kemahakuasaan Ranying Hatalla Langit yaitu sebagai simbolis penyatuan lahir dan bathin umat yang melaksanakan persembahyangan basarah tersebut kehadapan Ranying Hatalla Langit.

2.    BERAS

Dalam bahasa Sangiang , behas disebut dengan nama “ Behas Manyangen Tingang” . Berdasarkan mithologi agama Hindu Kaharingan bahwa pada masa penciptaan alam semesta, Ranying Hatalla Langit menciptakan beras untuk menjaga kelangsungan kehidupan  Raja Bunu yang menjadi asal mula umat manusia didunia dan kelangsungan hubungan dengan Ranying Hatalla Langit. Dari mithologi tersebut, maka umat Hindu Kaharingan menyakini bahwa didalam beras tersebut telah terkandung kekuasaan Ranying Hatalla Langit yang akan menjadi sarana penghubung antara manusia dengan Ranying Hatalla Langit.

Hal ini terbukti didalam ayat suci manawur yang berbunyi :

“ Balang Bitim Jadi Isi, Hampuli Balitam jadi Daha, Dia baling Bitim Ijamku Akan Duhung Luang Rawei Pantai Danum Kalunen, Isen Hampuli Balitam Bunu Bamban Panyaruhan Tisui Luwuk Kampungan Bunu “

Artinya :

“ Behas Manyangen Tingang, Bukan Saja Sebagai Kelangsungan Hidup Manusia, Maka Ia Juga Sebagai Perantara Manusia Dengan Yang Maha Kuasa Serta Sebagai Perantara Antara Manusia Dengan Para Leluhur” .

3.    DANDANG TINGANG

Menurut mithologi agama Hindu Kaharingan bahwa burung Tingang adalah salah satu penciptaan Ranying Hatalla Langit , yaitu melalui perubahan wujud Luhing Pantung Tingang yang terlepas dan kejadian dengan keberadaan Nyalung Kaharingan Belum (air suci kehidupan) pada saat Raja Bunu menerimanya dari ranying Hatalla Lngit yang kemudian berubah wujud menjadi seekor burung Tingang yang dalam bahasa Sangiang disebut “ Tinggang Rangga Bapantung Nyahu” yang menempati sebuah pohon beringin besar yang disebut dalam bahasa Sangiang “ Lunuk Jayang Tingang , Baringen Sempeng Tulang Tambarirang “. Oleh karena itu didalam pelaksanaan persembahyangan basarah burung Tingang tersebut dilambangkan dengan Dandang Tingang, yang memiliki khas tersendiri yaitu berupa warna putih diatas, warna hitam ditengah dan warna putih dibawah.

Dilihat dari filosopis agama Hindu Kaharingan mengandung makna:

– Warna putih diatas berarti alam kekauasaan Ranying Hatalla langit.

– Warna Hitam ditengah berarti alam kehidupan manusia didunia yang selalu penuh dengan pertentangan antara kebaikan dan kejahatan.

– Warna putih dibawah artinya kesucian yang didapat melalui usaha individu dalam melawan ketidakbenaran.

4.    SIPA (GILING PINAG) DAN RUKU (RUKUN TARAHAN)

Sipa yang dalam bahasa Sangiang disebut “Giling Pinang” yang terdiri dari daun sirih , kapur dan buah pinang  serta tembakau yang dilipat menyerupai kerucut yang diisi dengan belahan buah pinang dan tembakau.

Ruku yang dalam bahasa Sangiang disebut “ Rukun Tarahan “ yaitu rokok yang terbuat dari daun nipah yang disebut rokok pusuk.

Penggunaan kedua sarana ini dalam persembahyangan basarah berdasarkan mithologi agama Hindu Kaharingan menyebutkan pada saat penciptaan , yaitu Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut, Sahawung Tangkuranan Hariran dengan Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan , Limut Batu Kamasan Tambun yang berubah wujudnya atas kehendak Ranying Hatalla Langit menjadi Mangku Amat Sangen dan Nyai Jaya Sangiang, yang pada suatu ketika tak kala ia mengobati Raja Pampulau Hawun, saat itulah Mangku Amat Sangen dan Nyai Jaya Sangiang mengalami perubahan wujud menjadi beberapa benda seperti biji matanya menyatu pada buah pinang dan rukun tarahan yang digunakan dalam setiap kegiatan keagamaan Hindu Kaharingan.

5.   DUIT SINGAH HAMBARUAN

Duit Singah Hambaruan dalam bahasa Sangiang disebut “ Bulau Pungkal Raja” yaitu mata uang yang digunakan yang hendaknya mata uang logam perak dan akan lebih baik jika menggunakan emas yang maksudnya mata uang tersebut akan memancarkan sinar terang secara rohaniah, sehingga persembahan suci Sangku Tambak Raja akan tampak jelas kehadapa Ranying Hatalla Langit dan para leluhur serta dengan uang tersebut pula berfungsi sebagai pelengkap atas segala kekurangan alat-alat upacara.

6.    BEHAS HAMBARUAN

Behas Hambaruan adalah beras yang dipilih dari beras biasa yang bersih bening dan tidak sedikitpun cacat dengan jumlah 7 (tujuh) biji  beras. Dan beras yang sudah dipilih tersebut dibungkus dengan kain putih dan inilah yang disebut dengan “ Behas Hambaruan”. Yang ditempatkan ditengah Sangku Tambak Raja berdampingan dengan Dandang Tingang dengan maksud bahwa Behas Hambaruan tersebut sebagai perlambang wujud Raja Uju Hakanduang , Kanaruhan Hanya Basakati, yang nantinya  pada akhir persembahyangan basarah diberi/diterima oleh seluruh yang mengikuti persembahyangan basarah tersebut.

7.    UNDUS TANAK

Undus Tanak dalam bahasa Sangiang disebut “ Minyak Bangkang Haselan Tingang, Uring Katilambung Nyahu “ yaitu minyak kelapa yang terbaik . Hal ini sesuai dengan mithologi yang menyatakan bahwa buah kelapa adalah penjelmaan dan penyatuan dari kepala Mangku Amat Sangen dan Nyai Jaya Sangiang, maka oleh karena itu buah kelapa dalam bahasa Sangiang disebut “ Bua Katilambung Nyahu “ . Dengan demikian undus tanak berarti suci sehingga digunakan yang didasarkan pada hakekat minyak yang licin dan terasa hangat, sehingga dapat melepaskan dan memperbaiki sesuatu yang kusut dalam diri manusia dan kehangatan minyak itu dapat menghangatkan iman manusia terhadap Ranying Hatalla Langit, serta segala sesuatu yang diolesi minyak akan terlihat bersih dan mengkilap.

8.    TAMPUNG TAWAR

Tampung Tawar yaitu terbuat dari daun kelapa muda yang dianyam sedemikian rupa yang digunakan untuk memercikan air suci pada upacara Agama Hindu Kaharingan dan air yang disucikan itu sebagai symbol dari Nyalung Kaharingan yang pada akhir Upacara Basarah bersamaan dengan pelaksanaan mambuwur behas hambaruan juga dipercikan kepada semua peserta Upacara Basarah.  Dengan pengertian bahwa selesai melaksanakan basarah selayaknya menerima anugrah dari Ranying Hatalla Langit dan sebaliknya segala sesuatu yang sifatnya jahat, baik pikiran maupun perasaan dapat di netralisir oleh kesucian air suci kehidupan tersebut.

9.    PARAPEN, GARU/MANYAN

Kata Parapen berarti perapian yang berasal dari kata api, kegunaan parapen pada upacara Basarah adalah sebagai tempat membakar garu/manyan yang merupakan sarana untuk mengiringi pengucapan mantra/Do’a. Asap garu/manyan dapat menumbuhkan ketenangan pikiran dan perasaan sehingga dapat memudahkan untuk memusatkan pikirannya kepada Ranying Hatalla Langit. Dengan demikian hendaknya bara api pada parapen jangan sampai padam selama Persembahyangan/Basarah berlangsung.

10.  BENANG LAPIK SANGKU

Benag lapik sangku artinya kain yang digunakan menjadi alas dimana Sangku Tambak Raja ditempatkan. Kain melambangkan keindahan yang didalam mithologi Agama Hindu Kaharingan bukan saja keindahan alam semeta akan tetapi juga keindahan dari kesucian dan kemahakuasaan Ranying Hatalla Langit.

11.  TANTELUH MANUK

Tanteluh manuk dalam Bahasa Sangiang disebut Tanteluh Manuk Darung Tingang. Pada upacara Basarah telur diletakan berdampingan dengan Dandang Tingan yaitu ditengah-tengah Sangku Tambak Raja, setelah berakhir upacara Basarah telur tersebut diambil cairannya dan dioleskan pada kedua tulang salangka serta dioleskan didahi dan diterima oleh semua yang ikut Basarah. Maksunya dengan telur yang telah disucikan tersebut, untuk menyucikan jasmani dan rohani serta menetralisir hal-hal yang tidak baik dari hati nurani dan pikiran manusia.

12.  KAMBANG

Kambang selalu digunakan dlam upacara basarah yang ditempatkan diatas Sangku Tambak Raja yang maknanya agar laksana bunga yang harum semerbak akan menerima anugrah yang baik dari Ranying Hatalla Langit. Pada akhir upacara basarah, bunga tersebut dicampurkan kedalam Tampung Tawar dan di percikan kepada seluruh peserta basarah.

Bunga yang digunakan untuk upacara basarah hendaknya dipilih yang berwarna merah, putih dan kuning. Bunga merah melambangkan Raja Tunggal Sangumang yang melambangkan penciptaan sekaligus lambang keberanian dalam membela kebenaran demi kedamaian hidup.

Bunga putih melambangkan ketulusan dan kesucian hati, bunga kuning melambangkan kekuasaan Ranying Hatalla Langit dalam memelihara ciptaanya serta melambangkan keteguhan hati.

Demikianlah pandehen/dharma wacana ini disampaikan, semoga memberikan manfaat yang besar bagi kita semua. Sebelumnya saya memohon maaf apabila saya selama menyampaikan pandehen ini ada kata-kata saya yang tidak berkenan dihati umat sekalian, semoga Ranying Hatalla Langit memberikati kita semua ,

Sahiy, Sahiy, sahiy.

Penyampai pandehen

Pranata, S.pd. M.Si

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar