Januari 6, 2010 at 6:47 am (Artikel, Karya Ilmiah, Uncategorized)

Habukung Dalam Upacara Kematian

Di Kecamatan Mentaya Hulu Kabupaten Kotim

Oleh : Pranata

Dalam suatu upacara kematian di kecamatan Mentaya Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur dikenal suatu acara yang disebut dengan Habukung. Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh-tokoh agama Hindu Kaharingan mengenai latar belakang diadakannya Upacara Ritual Habukung yaitu  berawal dari suatu legenda pada zaman dahulu kala pada sebuah dusun atau pemukiman yang terdiri dari 7 (tujuh) buah rumah, terjadilah suatu peristiwa yang menimpa seorang pemuda dusun tersebut yang baru saja membina rumah tangga kurang lebih berjalan 1 (satu) tahun. Pada hari itu terjadilah suatu musibah yang tidak disangka-sangka, istrinya yang sedang menggandung sekitar 7 bulan , tiba-tiba meninggal dunia. Karena  istrinya meninggal dunia tersebut, sang suami sangat bersedih sekali dan selalu menangis sambil memeluk mayat istrinya. Dan selama itu juga sang suami tidak mau makan dan berbicara dengan siapa pun. Orang tua dan pihak keluarga pemuda tersebut selalu berupaya untuk menesehati pemuda tersebut  agar mayat istrinya segera dimakamkan, tetapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pemuda tersebut dan ia pun tetap berbaring sambil memeluk mayat istrinya.

Pihak keluarga mulai gelisah guna mencari jalan keluar untuk membujuk sang pemuda tersebut agar mau memakamkan istrinya, dan kurang lebih berjalan 15 (lima belas) hari, pada suatu malam ayah sang pemuda bermimpi  bertemu seseorang dan orang tersebut berkata kami akan menolong bapak untuk menghibur anak bapak yang ditinggalkan istrinya dengan cara berangsur – angsur dan beritahu kepada penduduk lainnya jangat takut atas kedatangan kami yang aneh-aneh. Setelah terbangun pada pagi harinya, maka sang ayah segera bangun untuk memberitahukan mimpi tersebut kepada warga setempat.

Pada malam harinya sekitar pukul 21.00, terdengarlah suara gemuruh  dan derap-derap kaki dan diselingi suara musik gong dan lainya, kemudian muncullah orang banyak sekali memakai suatu topeng yang terbuat dari kayu Palawi. Topeng inilah yang disebut dengan Bukung. Sambil membunyikan alat-alat musik dan disertai dengan berbagai macam tarian sambil membunyikan bamboo yang dibuat sedemikian rupa yang disebut dengan “Selekap”. Tarian tersebut dibuat dengan gaya yang lucu-lucu sehingga membuat orang yang melihat terhibur dan tertawa-tawa.

Begitulah bukung tersebut datang setiap malam, sehingga sang pemuda yang istrinya meninggal tersebut berangsur-angsur membaik sudah mau makan dan berbicara dengan orang lain.

Bukung – bukung itu datang setiap malam sambil membawa uang, barang- barang lainya yang akan disumbangkan kepada keluarga yang mengalami musibah menginggal dunia tersebut. Hal ini berlangsung selama beberapa malam, sehingga bermacam-macam  bentuk dan pakaian yang dipakai serta da yang membungkus dirinya dengan rumput, daun pisang dan lain-lain. Selama beberapa malan tersebut setelah adanya bukung tersebut, maka banyak sekali barang-barang sumbangan yang diberikan menumpuk  seperti beras, gula, kopi, ayam, babi dan lainnya.

Selanjutnya pada suatu malam pihak keluarga sang pemuda memyampaikan kepada pemuda yang istrinya meninggal dunia rencana untuk memakamkan istrinya. Hasilnya sang suami setuju untuk memakamkan istrinya sampai pada ketentuan bahwa keluarga harus menyiapkan biaya untuk pelaksanaan penguburan dengan bantuan bukung tadi (biaya yang sudah ada). Menyelang hari pelaksanaan pemakaman bukung berjalan terus tiap malam tanpa henti. Tepat pada hari pemakaman, bukung terus diadakan sampai peti jenasah (raung) dibawa ke liang lahat (dikuburkan). Dan bukung yang terakhir ikut mengangkat dan membawa peti jenasah ke kuburan, bukung yang ikut mengangkat peti jenasah tersebut yaitu bukung kinyak atau bukung belang.

Berdasarkan dari legenda/mitos itulah maka bagi pemeluk agama Hindu Kaharingan di kecamatan Mentaya Hulu kabupaten Kotawaringin Timur selalu melaksanakan Habukung setiap ada keluarga yang meninggal dunia.

Iklan

Permalink 2 Komentar

PILOSOFIS PERKAWINAN NYAI ENDAS BULAU LISAN TINGANG DENGAN RAJA GARING HATUNGKU MENURUT AGAMA HINDU KAHARINGAN

Oktober 29, 2009 at 4:14 pm (Artikel, Karya Ilmiah)

PILOSOFIS PERKAWINAN NYAI ENDAS BULAU LISAN TINGANG DENGAN RAJA GARING HATUNGKU

MENURUT AGAMA HINDU KAHARINGAN

Oleh

Pranata

Menurut ajaran Agama Hindu Kaharingan upacara perkawinan adalah suci  dan harus dilaksanakan oleh setiap pasangan yang akan hidup berumah tangga yang mempunyai kesadaran tentang tanggung jawab  sebagai suami dan istri dan yang paling penting adalah bagaimana suami istri tersebut mempu mengedepankan ajaran agama. Hal ini seperti yang tertuang dalam Kitab Suci Panaturan Pasal 19 ayat 3 yaitu :      Ewen due puna palus lunuk hakaja panting baringen hatamuei bumbung, awi ewen sintung due dapit jeha ije manak manarantang hatamunan aku huang pantai danum kalunen ije puna ingahandak  awi – Ku tuntang talatah panggawi manjadi suntu akan pantai danum kalunen. selanjutnya adalah tentang makna perkawinan  Nyai endas Bulau Lisan Tingang dan Raja Garing Hartungku sebagaimana yang tertuang dalam pasal 30 ini menuturkan tentang anak dari Raja Tantaulang Bulau yaitu Nyai Endas Bulau Lisan Tingang yang kesohoran kecantikannya yang sampai juga kepada Raja Uju Hakanduang. Lalu mereka berpikir bahwa hanya Garing Hatungku yang mampu mencari semua yang diminta oleh Nyai Endas Bulau Lisan Tingang. Setelah itu Raja Uju Hakanduang turun menuju Bukit Batu Nindan Tarung menyerahkan alat-alat hakumbang Auh. Setelah semuanya sudah dimufakatkan dan waktu pelaksanaan sudah ditetapkan, maka Raja Uju Hakanduang pulang kembali menuju tahta kemuliaannya. Mendekati waktu yang telah dimufakatkan pada saat upacara meminang maka Raja Uju Hakanduang datang lagi untuk menanggar janji waktu pelaksanaan perkawinan. Sudah tiba saatnya mereka akan melasanakan upacara perkawinan, maka Raja Uju Hakanduang memberitahukan terlebih dahulu tentang keberangkatan mereka kepada Ranying Hatalla Langit. Kemudian Ranying Hatalla Langit berfirman. “ Laksanakan oleh kalian upacara untuk Raja Garing Hatungku, disana kalian mamelek sinde uju dan nanti aku akan datang pada upacara itu, karena mereka berdua berjanji dihadapanku “. Setelah upacara dilaksanakan maka diadakan acara Haluang Hapelek yaitu disebut pelek Rujin pengawin semua pelek pengawin seperti yang diucapkan yaitu :

–               Kalata Padadukan

–                Duhung Tejepan Pandung

–               Rabayang Kawit Kalakai

–               Gundi Lumpang Tusu

–               Gahuri nutup sangku

–               Tabasah Sinjang Entang

–               Ehet Peteng Sabangkang, Pisau Pantun Sabangkang.

Pelek Rujin pangawin inilah yang menjadi contoh dari Ranying Hatalla Langit untuk manusia turunan Raja Bunu. Dan pelek kawin inilah yang menjadi awal perempuan ada jalan hadatnya atau ada mas kawinnya. Setelah semua selesai Raja Uju Hakanduang berpesan kepada Raja Garing Hatungku agar melaksanakan pantangan selama tujuh hari tujuh malam. Setelah berakhir masa pantangan, Nyai Endas Bulau Lisan Tingang merasa kurang senang kepada suaminya, karena mas kawinnya belum dilengkapi oleh suaminya, yaitu Banama Bulau Pahalendang Tanjung, Anjung Rabia Pahalingei Luwuk dan Bukit Lampayung Nyahu, dan berkata pula Nyai Endas Bulau Lisan Tingang, kalau engkau suamiku mampu mendapat semua permintaanku demikian pula manusia nantinya mampu memeliharanya, maka mereka akan dapat hidup sampai selama-lamanya.

Berdasarkan permintaan dari Nyai Endas Bulau Lisan Tingang tersebut, maka dimplikasikan dalam kehidupan umat manusia di Pantai Danum Kalunen ini, maka permintaan tersebut berwujud Peti Jenazah dimana hal ini melambangkan bahwa perkawinan ini nantinya tidak akan terpisahkan oleh apapun kecuali kematianlah yang memisahkan, dan Mampu memberikan anak keturunan yang berbudi pekerti luhur dan gagah berani.

Bila Raja Garing Hatungku berangkat yang dibekali oleh istrinya tujuh ruas bambu lamiang, sebuah rambat Behong uang Aeng , Sirat Tatai Hatuen Nyaring. Dan tibalah ia disebelah Bukit yang berada di Kokosongan alam luas, dan disana terdapat sebuah pohon kayu diatasnya yaitu Kayu Erang Tingang , Bulus Andung Nyahu. Dari atas puncak Kayu Erang Tingang, Bulus Andung Nyahu tersebut, terlihatlah Bukit Bulau Lampayung Nyahu dan Banama Bulau Pahalendang Tanjung, Anjung Rabia Pahalingei Luwuk. Lalu Raja Garing Hatungku bersabda dalam kekuasaannya kekuatan dan penciptaannya, menghimpun semua yang diminta istrinya dan dimasukan didalam supu Bulau , supu hintan, yang telah menyatu dengan Nyalung Kaharingan Belum. Setelah Raja Garing Hatungku mengucapkan pujian suci Tukiii tingang lalu terlepas Luhing Salengkat lawungnya dan berubah menjadi Kuwung Bulau Sangkalemu. Setelah itu putus lagi Ulai Telun Penyangnya dan berubah menjadi Darung hanjaliwan, selanjutnya lepas pula panatau penyang karuhei dan berubah menjadi burung kangkang Bulau Sangkalemu . Setelah satu ruas bambu lamiang langsung kejadian menjadi Depung Bulau Sangkalemu . Dan rambat Behong Uang Aeng berubah pula menjadi Bajang Kalingkai Lawung, selanjutnya Bajang Kalengkai Lawung kembali berubah menjadi Karangking Penyang Karuhei tatau. Berasal dari kejadian ini , dalam kehidupan manusia apabila pada saat bertandang, pergi jauh atau melaksanakan perkawinan terdapat Duhung Bajang, Kuwung, Hanjaliwan, Depung, Kangkang, maka mereka harus melaksanakan secara khusus kurban suci kepada Dahiang menuju Raja Garing Hatungku. Lalu Raja Garing Hatungku pulang menemui istrinya dan menyerahkan pelaku istrinya yang benda didalamnya supu Bulau, supu intan yang mengandung Nyalung Kaharingan Belum. Sejak saat itu hubungan mereka sangat baik dan dipelihara bersama untuk selama-lamanya.

 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KITAB SUCI HINDU KAHARINGAN

Oktober 29, 2009 at 4:10 pm (Artikel, Karya Ilmiah)

KITAB SUCI AGAMA HINDU KAHARINGAN

 

Oleh

Pranata

Didalam perkembangannya, Agama Hindu Kaharingan  berusaha untuk  mampu mensejajarkan dirinya dengan agama-agama lain dibumi ini, sebagai sebuah agama, Agama Hindu Kaharingan memiliki suatu pedoman yang menjadi dasar pegangan bagi umatnya  “ Hindu Kaharingan “ Didalam menjalankan kehidupannya yang percaya terhadap     “ RANYING HATALLA LANGIT “   yaitu sebuah kitab suci Panaturan.  Sebagai Kitab Suci PANATURAN, maka didalamnya terdapat kandungan-kandungan tentang nilai-nilai keagamaan yang menjadi pegangan hidup bagi penganutnya, seperti juga yang dimiliki agama-agama lain  “ Alquran oleh Agama Islam, Alkitab oleh Kristen dan lain-lain.

Kitab Suci Panaturan ini memuat tentang pedoman, ajaran, nilai agama Hindu Kaharingan mulai dari proses penciptaaan alam semesta dengan segala isinya sampai kepada  ajaran didalam kehidupan umat manusia hingga penyatuan kembali kepada pencipta Ranying Hatalla Langit. Nilai-nilai atau pedoman-pedoman yang terkandung didalam Kitab Suci Panaturan inilah yang harus selalu dihayati dan diamalkan oleh umat Hindu Kaharingan, sehingga mereka mampu menjadi manusia yang berSradha dan Bakti didalam melaksanakan kewajiban didunia ini.

Kitab Suci Panaturan berasal dari bahasa Sangiang yaitu “ Naturan “ yang artinya menuturkan atau mensilsilahkan (materi Pokok Bahasa Sangiang . 1996 ;15). Yang kemudian mendapatkan awalan Pa sehingga menjadi “ PANATURAN “ yang artinya Kitab Suci yang menuturkan atau mensilsilahkan tentang penciptaan alam semesta beserta isinya, dan fungsi bagi umat manusia yang merupakan wahyu Ranying Hatalla Langit yang diyakini oleh seluruh umat Hindu Kaharingan.

Penaturan berasal dari Bahasa Sangiang yaitu kata “NATURAN” yang artinya menuturkan / mensilsilahkan.

( Materi pokok Bahasa Sangiang , 1996; 15 ).

Yang  mendapatkan awalan Pa, maka menjadi kata “PANATURAN” yang berarti Kitab Suci yang menuturkan / mensilsilahkan tentang proses penciptaan alam semesta beserta isinya, para malekat dan fungsinya bagi umat manusia, tata aturan dikehidupan manusia serta tata cara ritual umat Hindu Kaharingan.

Panaturan adalah memuat tentang ajaran-ajaran, norma- norma didalam agama Hindu Kaharingan yang memuat tentang wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang oleh umat Hindu Kaharingan disebut dengan Ranying Hatalla Langit Tuhan Tambing Kabanteran Bulan Raja Tuntung Matan Andau  Jatha Balawang Bulau Kanaruhan Bapager Hintan.

( Panaturan, 2001; 7 ).

Hal ini dapat kita lihat dari ayat Tawur yang berbunyi “ Balang Bitim Jadi Isi Hamtampuli Balitan Jadi Daha Dia Balang Bitim Injam Akan Tuntung Luang Rawei , Uluh Pantai Danum Kalunen Nalatai Tisui Luwuk Kampungan Bunu Dengan Ranying Hatalla , Sahur Parapah Baratuyang Hawun”

( Panaturan, 2001; 7 ).

Kitab Suci Panaturan diyakini dan sebagai pedoman hidup oleh umat Hindu Kaharingan merupakan sumber ajaran , bimbingan, dan tauladan yang sangat diperlukan didalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Kitab Suci Panaturan yang merupakan wahyu dari Ranying Hatalla Langit yang mengandung ajaran atau pedoman hidup didunia ini dan diakhirat nanti merupakan penuntun tindakan umat Hindu Kaharingan sejak ia dilahirkan sampai kepada ia kembali kepada Ranying Hatalla Langit. Ajaran atau pedoman yang tertulis didalam Kitab Suci Panaturan tidak hanya terbatas sebagai tuntunan hidup individual melainkan juga sebagai tuntunan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.       Ajaran yang tertulis didalam Kitab Suci tersebut diwahyukan oleh Ranying Hatalla Langit dan diterima oleh para Basir ( Ulama umat Hindu Kaharingan ) dan disampaikan secara lisan didalam segala kegiatan ritual agama Hindu Kaharingan.

Didalam Kitab Suci Panaturan  yang dikeluarkan oleh Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan ( MB-AHK ) cetakan tahun 2001 memuat 63 pasal yang terdiri dari 2951 ayat.

Permalink 2 Komentar

PERKAWINAN AGAMA HINDU KAHARINGAN

September 18, 2009 at 2:25 pm (Artikel, Karya Ilmiah)

PERKAWINAN MENURUT AGAMA HINDU KAHARINGAN

Oleh

Pranata

A. HAKUMBANG AUH

Hakumbang Auh adalah proses awal dari suatu hubungan bagi proses suatu perkawinan yaitu dari pihak laki-laki memberikan uang (tanda bahwa dari pihak laki-laki menginginkan seorang perempuan) kepada pihak perempuan, yang mana uang tersebut nantinya digunakan oleh pihak pihak perempuan untuk mengumpulkan seluruh keluarganya dan menceritakan maksud dari uang tersebut bahwa ada pihak laki-laki menginginkan anak perempuannya untuk dijadikan istri. Apakah uang tersebut dapat diterima atau ditolak. Setelah hasil kesepakatan keluarga pihak perempuan dapat menerima uang tersebut, maka pihak keluarga perempuan mengirim pesan kepada pihak keluarga laki-laki bahwa uang tersebut dapat diterima dan mengharapkan kehadiran keluarga pihak laki-laki untuk membicarakan kelanjutan dari maksud mereka tersebut sekaligus untuk membicarakan jalan hadat yang digunakan. Setelah kabar diterima oleh keluarga pihak laki-laki, kemudian dari pihak keluarga laki-laki kembali mengunpulkan seluruh keluarganya menceritakan bahwa uang yang diberikan mereka dapat diterima dan kita diharapkan untuk mendatangi mereka untuk merencanakan kelajutan dari rencana tersebut serta sama-sama merundingkan tentang jalan hadat. Setelah seluruh keluarga mengetahui semua , maka mereka lalu merencanakan untuk berangkat misek (Meminang).

B. MAJA MISEK (MAMANGGUL)

Maja Misek /Mamanggul adalah suatu kelanjutan dari Hakumbang Auh yaitu selain untuk meminang serta untuk sama-sama merencanakan kelanjutan dari rencana perkawinan serta sama-sama merundingkan tentang jalan hadat yang akan dilaksanakan pada saat perkawinan nantinya.

Setelah dari pihak laki-laki semua sepakat untuk berangkat Misek (meminang, maka dari pihak keluarga laki-laki menyiapkan Garantung (Gong) satu buah, Lilis Lamiang satu buah, kain pakaian selengkapnya. Setelah semua siap maka mereka berangkat menuju ketempat pihak perempuan . Setelah sampai ditempat pihak perempuan, mereka disambut  oleh pihak perempuan yang mana dirumah tersebut juga berkumpul keluarga dari pihak perempuan untuk bersama-sama merundingkan rencana perkawinan tersebut. Dihadapan seluruh keluarga baik dari pihak laki-laki dan pihak perempuan, ayah dari pihak pihak perempuan menguraikan tentang seluruh jalan hadat yang akan digunakan, serta menentukan lamanya waktu perkawinan serta kedua pihak sepakat menekan kontrak janji peminangan (hisek) . setelah semua selesai mereka semua pulang ketempatnya masing-masing  dan kedua orang tua pihak laki-laki setelah sampai dirumahnya mengikat lilis lamiang kepada anak laki-lakinya dan mambuwur behas hambaruan serta menceritakan lamanya janji perkawinan.

C. MANANGGAR JANJI

Mananggar Janji adalah penegasan waktu dan tempat pelaksanaan perkawinan. Dimana orang tua dari pihak perempuan datang kerumah pihak laki-laki guna mananggar janji serta untuk menagih Rapin Tuak. Setelah kedua belah pihak sepakat tentang tanggal pelaksanaan maka orang tua pihak laki-laki memberikan biaya kepada orang tua pihak perempuan untuk biaya Panginan jandau (Biaya makanan untuk resepsi) serta biaya untuk membelikan tempat tidur penganten sesuai dengan jumlah yang telah disepakati pada saat Maja Hisek.

D. PELAKSANAAN PERKAWINAN

Sehari sebelum hari/tanggal  perkawinan dilaksanakan, maka orang tua pihak laki-laki menyembelih satu ekor ayam untuk manyaki Rambat anaknya yang akan segera melangsungkan perkawinannya, serta sekaligus menyiapkan Rambat, Sipet, Uei ije kadereh (rotan) , rotan tersebut diukur sepanjang satu depa, satu hasa, satu kilan dan tiga jari selanjutnya dibuatkan ukiran patung pada ujungnya. Dari hari manyaki rambat tersebut dari hari tersebut maka sang laki-laki disebut dengan Penganten serta diikatkan lilies lamiang.dan dari hari itu penganten laki-laki tidak boleh keluar rumah sampai pada hari ia berangkat menuju ketempat penganten perempuan.

Pagi harinya maka orang tua pihak penganten laki-laki kembali menyembelih dua atau tiga ekor ayam serta mengundang orang banyak supaya ikut mengantar anak berangkat kawin. (Panganten Mandai) Setelah semua orang kumpul dan menyantap makanan yang telah disediakan serta penganten laki-laki sudah siap dengan pakaiannya maka penganten laki-laki istirahat sebentar, setelah sudah siap maka penganten laki-laki sebelum keluar rumah maka ia berdiri sambil memegang sebatang rotan memakai tangan sebelah kanan dan didampingi  oleh satu orang untuk memegang payung, satu orang membawakan Rambat dan memegang Sipet serta satu orang lagi membawakan tas pakaian penganten laki-laki tersebut. Didalam Rambat yang dibawa dimasukan pakaian untuk penganten laki-laki sebagai ganti pakaiannya, isin baliung, Salipi behas  dan tanteluh manuk. Setelah semua siap barulah penganten laki-laki berangkat menuju ketempat penganten perempuan.

Sampai ditempat penganten perempuan, didepan rumah penganten perempuan pihak penganten laki-laki disambut dengan Lawang Sekepeng yaitu masing-masing dari kedua belah pihak penganten sama-sama mengadakan seni pencak silat untuk membuka Lawang Sekepeng tersebut dengan diiringi tetabuhan gendang dan gong. Setelah Lawang Sekepeng terbuka maka penganten laki-laki berjalan masuk dimana sampai didepan rumah penganten laki-laki dipapas oleh pihak penganten perempuan yaitu mamapas membuang sial, dahiang, dan segala jenis pali setelah itu penganten laki-laki menginjak sebutir telur yang diletakan di atas batu asa.setelah itu baru penganten laki-laki masuk rumah yang disambut oleh calon mertuanya dan penganten laki-laki beristirahat menganti pakaiannya.

Hari itu juga orang tua penganten perempuan menyiapkan satu ekor babi kecil untuk memberikan makanan Pali, dimana langsung membuat sebuah rumah kecil, ketupat empat belas buah, tambak dan hambaruan satu buah, tekang hambaruan basir yang menawur pali, lamiang satu pucuk dan satu buah baliung untuk digigit. Manawur pali ini dimaksudkan agar penguasa pali dimana sifat – sifat buruk dari pali jangan menganggu upacara perkawinan serta jangan mengganggu kehidupan kedua mempelai dalam berumah tangga.

Pada upacara Manawur Pali, Basir          yang melaksanakan Manawur Pali berdiri menghadap Pasah Bantanan (rumah kecil) yang sudah di isi berbagai macam makanan , tambak, sipa ruku serta berdiri sambil menginjak Baliung yang sudah di gigit.

Pada malam harinya, orang tua penganten perempuan menyiapkan Sangku yang di isi beras, Hampatung Tabalien Hampatung Pelek (ukiran patung dari kayu besi), uang logam/perak disusun keliling Sangku, telur ayam kampong, lilies lamiang didirikan di atas beras , botol undus (minyak kelapa), Tampung Tawar, Parepen (tempat menyimpan bara api) untuk garu manyan.

Setelah itu Amak Pasar (tikar pasar), di paparkan di tengah-tengah rumah, serta diberikan pembatas kain panjang untuk membatasi ruangan rumah, ayam di potong satu ekor   untuk saki pelek (manyaki panganten).

Selanjuntya orang tua penganten perempuan menyiapkan satu orang tua sebagai Mantir Mamelek (orang yang bisa mamelek), ditambah dengan tukang luang (yang membantu pelaksanaan mamelek) sebanyak tiga orang.

Mereka berempat ini menjadi mantir pelek dan luang telu inyaki awi ayah penganten perempuan serta diikatkan tekang hambaruae (biasanya diikatkan uang dengan kain).

Selanjutnya orang tua dari pihak penganten laki-laki juga menyiapkan  satu buah lamiang, telur ayam kampong satu buah,  baliung , kain hitam akan tutup uwan, bahalai sinjang entang (kain panjang), benang lapik luang (kain panjang), Salipin behas , Pingan Pananan serta seluruh jalan hadat yang telah disepakati bersama, serta menyiapkan satu orang tua sebagai Mantir Manyambut, orang tua tersebut inyaki malas dan diikatkan tekang hambaruae.

Setelah itu Mantir Mamelek dan Mantir manyambut berdialog melalui perantara luang telu (luang tiga) . seteleh dialog tersebut mencapai suatu kesepakatan, maka ditambah lagi dua orang luang karundi. Setelah menambah luang Karundi tersebut , maka dinding pembatas di buka, dari pihak penganten perempuan mengeluarkan Sangku Pelek, dilanjutkan Mantir Pelek Manyaki semua peralatan Haluang Hapelek.

Isi yang disampaikan oleh Mantir Pelek dalam Manyaki peralatan Mamelek :

  1. Nyakiku purun ije indu lapik haluang hapelek tuh mangat lampang darem tuh ria-riak kilau riak hendan bulau hadare tuah rajaki akan anu ……………..(nama panganten berdua), ewen dua ije matuh kabalumae belum mangun batang panjang huma hai parataran lumbah.
  2. Nyakiku ikau tuh jarati lapik sangku mangat pambelum anu ………………(nama Panganten berdua) ewen due tege kea lapik halapik tuah rajaki untung panjang. Nyakiku ikau Sangkun Pelek bara likut sampai baun, nampara andau alem tuh ewen due tuh mambelum arep mangat sanang mangat , nyambau naharep katatau kasungah.
  3. Nyakiku behas timbuk pelek kilau behas tuh ije nangalan ije supak ije gantang ; tau narantang pulu, kalute kea ampi tuah rajaki ewen due tuh mambelum arep. Nyakiku tinai duit karambang pambelum pelek , mangat ikau tuh akan ngarambang pambelum anu ……………….  ( nama penganten berdua) ewen ndue basa duit tuh ije puna batang pambelum ulun kalunen akan panatau panuhan.
  4. Nyakiku lamiang turus pelek kilau lamiang ije dia tau hubah handing kalute kea ampin itung huang anu ………..(nama penganten berdua), ewen ndue umba kulae. Nyakiku bulau Singah Pelek manggat ikau tuh akan singah pambelum anu ………..(nama mereka berdua) ewen due basa ikau tuh aluh hatampulu nanak mapui nyuhu-nyuhu kahalap dia tau ubah dia tau rusak. Kalute kea ampin pambelum anu …………. (nama mereka berdua) ewen ndue tuh.
  5. Nyakiku Tanteluh manuk, mangat manjadi auhku ije nanggare aram SARUNGKUL SABUNGKAL hapa mungkal tuah rajakin untung anu ……………….(nama penganten berdua), ewen ndue tuh mangat menjadi ije . Nyakiku Bendang Bulau Sangkalemu hapa ikei melek mampah kare rujin palaku bili palus panatau panuhan akan anu …………… (nama penganten berdua) ewen ndue tuh. Kalute kea tabalien hampatung pelek, mangat malabien tarung sewut anu …………………(nama penganten berdua) , ewen ndue tuh kareh mambelum arep.
  6. Nyakiku minyak Bangkang Haselan Tingang Uring Katilambung Nyahu, ije belum gantung-gantung indu tihang lewu pulu, gantung kea tuah rajakin anu …………..(nama penganten berdua) ewen ndue tuh belum . Tampung tawar ije asal bara sadap saribu kambang kayun karuhei ije mangambang tuah rajaki bateras penyang karuhei tatau.

Setelah selesai acara Manyaki peralatan Mamelek , maka dilanjutkan dengan acara Haluang Hapelek yaitu di mulai dengan Mantir Pelek memulai dengan

Pelek Sinde Uju yaitu :

I. LIME SARAHAN

  1. HATALLA KATAMPARAN
  2. LANGIT KATAMBUAN
  3. PETAK TAPAJAKAN
  4. NYALUNG KAPANDUYAN
  5. KALATA PADADUKAN

II.  DUHUNG TAJEPAN PANDUNG

III. RABAYANG KAWIT KALAKAI

IV. GUNDI LUMPANG TUSU

  1. GAHURI NUTUP SANGKU
  2. TABASAH SINJANG ENTANG
  3. EHET PETENG SABANGKANG PISAU PATUN SABANGKANG

Dilanjutkan kemudian dengan Pelek Handue Uju yaitu :

1    .   MANUK SAKIN PELEK

2    .   JARATI LAPIK SANGKU

3    .   BEHAS TIMBUK PELEK

4    .   LAMIANG TURUS PELEK

5    .   BULAU SINGAH PELEK

6    .   DUIT KARAMBANG PELEK

7    .   GARANTUNG KULUK PELEK

8    .   PINGAN PANANAN PAHANJEAN KUMAN

9    .   TIMBUK TANGGA

10. RAPIN TUAK

11. TUTUP UWAN

12. BULAU KANDUNG

13. SINJANG ENTANG/LAPIK LUANG

14. SAPUT/PAKAIAN

15. PALAKU

Barang-barang inilah yang pada acara Haluang Hapelek di serahkan oleh  pihak penganten laki-laki kepada pihak perempuan melalui para luang. Setelah itu dilanjutkan dengan Pelek Hantelu Uju Yaitu :

  1. Arut papan epat, jala ije kabanggunan, tege 2 biti pambujang hatue ije kamburi ije haluan mambesei ie
  2. Haguet bara batang mahalau lawang labehun Jata Pukung Pahewan Antang, te tege Kadandang Kajang Labehun bulau Singah Labehu
  3. Ie sampai lewun empue palus tende intu batang panjang salawi lime. Manggar tampajat malaseh tabalien , tege kamar mandui intu kamburie.
  4. Ije tege intu batang tea rut kurik hai sukup besei teken kalabie tege rahai sarat puat dagang dagangan laut batang jete akan dinding mandui
  5. Palus ie lumpat manetei hejan tabalien lampat saratus uju puluh uju kalampat. Amun danum teah te lampang saratus leteng uju puluh uju kalampat. Amun danum handalem leteng saratus lampang uju puluh uju kalampat.
  6. Sampai hunjun tiwing te ie mite parantaran lumbah hayak bujur tiring akan ngaju ngawa
  7. Intu saran parantaran te tege balai , ije sukup puate kare ramun malauk mambilis. Puket rengge haup hantai salambau pangalau pisi taut harus rawei, embang saluang buwu tali sauk sahar tampirai buwu humbang. Intu panda balai te ganggulang eka manasal, hayak sukup tasal tasalan baputan bawin tasal hayak tege due biti pambujang hatue tukang tasal intu hete
  8. Ie palus mananjung manuju huma empue, sampai palataran tabalien , ie manetei palataran tabalien te ije tambing jahawen tuntung jalatien;
  9. Bara benteng palatar te ie nampayah akan hila ngaju taragitae pukung bua jambu nagka paken dahuyan sungkup rihat, uras kanjera mamua masak sangkelang.

10.  Nampayah tinai akan hila ngawa taragitae pukung pinang enyuh derem sinde kanjera mamua laba sangkelang batue mangur.

11.  Intu hila ngawa human empue tege lepau hai ije muat uju karangking parei uju karangking pulut, uju lusuk jelei uju lusuk jahe, intu panda lepau te tege karambang manuk, karambang itik, karambang gasa, intu balikat tege sarangan burung dara . ije 40 pehuk dan 40 jagau karehu nateluh manak.

12.  Hila ngambu lepau te atun pasha lisung intu hete sukup lisung halu kiap halap amak kalaya dan tege due biti pambujang bawi urai-urai balau tukang tepe. Intu panda pasah lisung te tege karambang bawui , bawui hai sumet upun hambie , ije nyarangan naming upun pinding napis uang panda ijang bawui te tege cagat impatei awi empue hapa manyaki mamalas ie.

13.  Nasmpayah tinai akan likut huma empue , taragite kawan sapi hadangan kambing tabir marindem sinde awi kare 40 hatue 40 bawie uras karehu manak batihi

14.  Nampayah tinai human empue , huma hai jalatien ruang , jihi tabalien , laseh tabalien, dinding tabalien , marawung tambaga nyampiang salaka.

15.  Sampai bapatah batu susun uju tinjak telu , hete tege nyadia awi empue pinggan tapak penyau paie bakam batu akan senduk

16.  Ie palus lumapt manetei mandai tangga hete tinai nyadia awi empue bulau singah pakang lamiang tukang sapau manuk ije kungan tatukan sial.

17.  Ie sampai huang huma , ie mite puat hum ate sukup macam panatau, Hatuen balanga 40, hatuen halamaung 40, hatuen barahan 40, hatuen rantian 40, balanga rempah 40, bawin halamaung 40, bawin barahan 40, basir hewah 40, rumus 40, repang garantung kaliling huma, rarehan garing bara dereh, tampung lamiang bara gayung, bantilan timpung pati tabala raja tambuk tanduk galungan penyang, kalabie ramu anak ije salun.

18.  Ie sampai ruang bentuk hete ie mite sukup paramun hapa manjawet njabeta langgei simbel, bilap tantawa, jarenang bahalap handing, kalabie pilus ije sulep betung.

19.  Ie sampai huma dapur ie mite sukup kenceng ketel rinjing landai piring mangkuk senduk kaluir kawu dampuhan kayu lawas haran danum. Balanai siam 40, lalang rangkang 40, bongkong 40, gahuri 40, uras nyuang behas parei kurik bawak. Limbah te lakang asu 40, lakang pusa 40 , kanjera manak batihi. Tege tinai due biti pambujang bawi panjang balau tukang barapi manjuhu.

20.  Mules tinai jalanae maname karung garing lawang tambarirang ije nyadia awi empue eka menter batiruh, hete ie mite purun pararani sadia birang, ranjang gantung-gantung, tilam bagander purun dare lapik hunjue, jangkut sutra tabir aer busi bantal gaguling malang , baun ranjang te tege saramin hai hete tukep saramin te sindur sarak minyak mamburih undussandu taheta tanak. Limbah te tege pinggan tatar matan andau eka kuman garantung sarabun eka munduk, balanga eka basandar

21.  empue mampatei bawui hai sumet upun hambie hapa manyaki mamalas ie. Lilies manas peteng sambil gantau, sanaman akan pangkit, pakayan sinde mendeng akan pakayae, jarati akan sandurung, ragam akan kampuh, garantung akan tanggui, ringgit 4 kabawak tambatun putting sinjang, bawin halamaung  akan pasuk, ba,langa habobot turus panatau. Palus manggulak hampatung pelek hayak hamauh PELEK JETUH PELEK INDU SANGUMANG

22.  Limbah te mantie pelek mameteng lamiang huang panganten ije bawi palus nampung nawar ie hayak nyaki hapan dahan manuk sakin pelek. Kalute kea mantie manyambut mameteng lamiang huang panganten ije hatue nampung nawar nyaki malas. Luang lime mimbit kare ramun haluang hapelek akan huang karung panganten ije bawi, gain haluang hapelek selesai.

Setelah pelaksanaan Haluang Hapelek yang dilaksanakan pada malam harinya, maka pada pagi harinya keluarga yang melaksanakan persta perkawinan, memotong babi atau hewan lainnya. Bawi, ayam atau hewan yang dipotong harus dibawah atap rumah, serta diberikan /diusapkan undus ( minyak kelapa) serta inggraru manyan selengkapnya, setelah selesai barulah hewan-hewan tersebut di potong. Darah dari hewan-hewan tersebut diambil untuk mamalas penganten. Selanjutnya hati babi diperiksa betul-betul apakah dalam keadaan baik atau ada tanda yang yang tidak baik.

Makanan yang akan disajikan untuk orang banyak sudah masak, maka pihak keluarga penganten memberikan atau mempersilahkan kepada Mantir Manyambut, Mantir Mamelek dan luang lime untuk makan terlebih dahulu.

Setelah selesai mereka makan, maka mereka melaksanakan tugas untuk mamalas penganten. Sebelumnya orang tua penganten perempuan menyiapkan batang sawang , uei (rotan), Ranying Bunu, amak pasar(tikar), garantung (gong) tempat penganten duduk, makanan sahur parapah/Putir santang, darah ayam   dan babi, air dalam mangkuk , tanah dipinggir mangkuk, tambak timbuk tangga, baliung, ringgit perak satu buah, jangkut, tasal, katipm, jala, tutup ketel, panginan tingkes , sipa, air minum,parapen, garu manyan, undus (minyak kelapa), lilies manas  dan air untuk cuci tangan.

Batang sawang, uei, ranying bunu didirikan ditengah-tengah amak pasar (tikar) yang sudah dibuka dan peralatan yang lain di letakkan disekeliling batang sawang, garantung (gong) tempat penganten duduk diletakkan pada arah matahari terbit. Setelah semua peralatannya sudah lengkap, maka penganten berdua duduk diatas garantung (gong) sambil memegang batang sawang dan telunjuk penganten berdua menunjuk keatas.

Setelah penganten berdua duduk diatas garantung (gong), maka Mantir Mamelek dengan satu orang luang manyaki semua peralatan yang sudah disiapkan dari yang kecil sampai yang besar.

Isi yang disampaikan pada saat manyaki peralatan hasaki hapalas yaitu :

  1. Nyakiku purun dare, mangat hadare kea tuah rajaki akan anu ………….. (nama penganten berdua) ewen ndue ije matuh kabaluma belum mangun batang panjang huma hai parataran lumbah, hurun-hurun ruhu ruhus ampi kare jawet ramu uang duit panatau panuhan pangkat galar ewen ndue. Nyakiku batang sawang jangkang nyahu, uei rantihan tingang, ranying pandereh bunu, mangat tau mantis bulau untung panjangpanyampah garing manarantang.
  2. Nyakiku sambaing garantung ije eka panganten ewen ndue munduk tuh, mangat kilau garantung ije batengkung auh amun imantu, kalute kea tarung sewut panganten ewen ndue tuh mambelum arep. Nyakiku rangkan panginan manggat hai tawue jurung akan Putir Santang Bawi Sintung Uju, manggat Putir Santang umba nanteman aseng darah belum akan anu …………….. (nama penganten berdua).
  3. Nyakiku tasal, kilau tasal ije tau hapa manasal manampa pisau langgei , narai bewei uras tau manjadi, kalute kea ampi anu ……………… (Nama penganten berdua), ewen ndue tuh tau mambelum arep uras tau murah ie dinun tuah rajaki. Nyakiku katip kilau katip ije tau hapa mangatip barah apui ije balasut mahi ulih dinun.
  4. Nyakiku jangkut kilau jangkut ije tau hapa nalawang nyamuk ranggit, manggat sial kawe pali endus. Nyakiku  tutup kilau tutup ije nalawang rutik puhuk kalurte kea ampin sial kawe pali endus peres badi dia tau manderoh pambelum anu ……………..(nama penganten berdua).

Setelah selesai manyaki peralatan hasaki hapalas, maka dilanjutkan dengan manyaki mamalas penganten berdua, yang dilakukan oleh Mantir Mamelek dan satu orang luang.

Isi yang disampaikan pada saat manyaki penganten berdua yaitu :

  1. Nyakiku tutuk tunjuk sarapumpung panyurung nanjung, nyurung kea tuah rajaki ketun ndue belum palus mumpung panatau panuhan anak jarian
  2. Nyakiku likut tatap malapatap sial kawe tamanang tambisu
  3. Nyakiku buku laling hila luar , maling malewar peteh liau matei, nyakiku buku laling hila huang, bataling aseng nyaman ketua ndue belum
  4. Nyakiku tambang takep mangat nambang kayun penyang karuhei tatau, nambang tuah rajaki.
  5. Nyakiku utut mangat batuntut ketua ndue umba kare gawin uluh ije bujur kabajuran.
  6. Nyakiku kakis hila sambil hapam ngakis mangian utang silih, lau hutus, kukut hila gantau hapam mukut tuah rajaki untung panjang.
  7. Nyakiku sikum hapan nyiku hagagian peres baratus  area manggian tamanang tambisu
  8. Nyakiku Rahepan  hapam naharep kare raja awing beken dia tau giring bulum
  9. Nyakiku Likut hapam hatalikut umba sial kawe pali endus dahiang baya taluh je papa.

10.  Nyakiku Balengkung tingang batengkung kambang tarung ketun belum tatau manyambung

11.  Nyakiku Batu Junjun kare purum mahunjun kea kambang tarung ketun belum

12.  Nyakiku hapan dahan bawui tuh mangat kasaingen aseng nyaman ketun ndue hayak batuah marajaki, te kea muwur kuh behas tuh mangat kilau behas ije tau mangkar manyiwuh nangalan ije supak ije gantang tau naratang pulu, kalute kea ampin tuah rajaki ketun ndue belum. Nantisan kuh minyak bangkang haselan tingang  uring katilambung nyahu  ije belum gantung-gantung  indu tihang lewu pulu, mangat gantung kea sewut saritan ketun ndue belum mangun betang panjang huma hai palataran lumbah. te kea sanaman tuh mangat katekang mahambaruan ketun ndue aluh tampapulu  nyahu batengkung dia tau giring bulu. (Agan, Thian.1996)

Setelah itu penganten berdua makan makanan yang disebut panginan Putir Santang yang telah disiapkan. Dan kemudian mereka berdua  dilanjutkan memakan sipa. Setelah selesai maka mereka berdua berdiri dan berjalan menuju ke pintu rumah dan bersama-sama menangkap tiang pintu rumah sambil manukiy (teriakan khas) sebanyak tujuh kali. Maka selesaikan acara manyaki penganten tersebut.

Selanjutnya para orang tua kedua belah pihak memberikan nasehat-nasehat dan petuah kepada penganten berdua untuk bekal mengarungi rumah tangga. Dan kepada para tamu dan undangan dipersilahkan untuk menikmati makanan yang telah disiapkan dan memberikan ucapan selamat kepada mempelai berdua.

Setelah semua rangkaian acara selesai, maka penganten berdua menjalankan pali (pantangan) selama tujuh hari  yaitu tidak boleh berjalan keluar rumah dan tidak boleh bertamu kerumah orang lain. Setelah pali (pantangan) tersebut selesai maka penganten berdua maruah pali yaitu dengan cara berangkat menimba air, berangkat mencari ikan, berangkat mencari kayu, lawas. Setelah selesai maka dilanjutkan dengan penganten berdua bertamu ketempat keluarga.

Tiga bulan setelah berlangsungnya  upacara perkawinan tersebut, maka penganten laki-laki bias pulang mendatangi orang tuanya dua sampai tiga hari, kemudian baru kembali ketempat istrinya.

Setelah itu mertuanya (orang tua pihak laki-laki) melaksanakan upacara pakaja manantu dengan menjalankan janji yang sesuai dengan apa yang tertuang dalam surat kontrak kawin, maka selesailah seluruh pelaksanakan upacara perkawinan tersebut.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

HINDU KAHARINGAN

September 18, 2009 at 2:17 pm (Artikel, Karya Ilmiah)

Hindu Kaharingan

Oleh

Pranata

Selama ribuan tahun yang lalu penduduk Indonesia yang mendiami kepulauan Kalimantan yang dikenal dengan suku Dayak, telah mengalami perkembangan suatu keyakinan akan keagamaan yang percaya kepada Tuhan  Sebagaimana bangsa-bangsa didunia, akibat bahasa dan budaya yang berbeda-beda  maka penyebutan nama Tuhan juga berbeda-beda, namun secara esensial sangat dipercaya bahwa penguasa alam semesta beserta segala isinya itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, Good, Allah, Sanghyang Widhi Wasa, dan Ranying Hatala Langit.

Sesuai dengan pasal 39 ayat 8 Kitab Suci Panaturan berbunyi :

“      Ie Ranying Hatalla Palus Mukei Kahain Kuasae

, Mampaurai Japa Jimat Tantenge, Hayak Auh

Nyahu Batengkung Ngaruntung Langit,

Malentar Kilat Kilat Basiring Hawun,

Ie Manampa Kakare Kutak Pander

Ewen Sama Hakabeken Tuntang Palus

Mubah Ngabeken Kea Kare Tiruk Tuga,

Itung Pitungae “

Artinya :

“     Ia Ranying Hatalla Menjadikan KehendakNya

Dengan Segala Kekuasaan CiptaanNya, bersama

Suara Nyahu Batengkung Ngaruntung Langit,

Ia Menjadikan bermacam-macam bahasa

Bagi mereka semua, sekaligus Membagi – bagi

Cara berpikir mereka”.

(MB-AHK, Panaturan ; 2001)

Berdasarkan ayat tersebut, maka sangat jelas bahwa bahasa yang berbeda-beda dan tata pikiran yang berbeda-beda antar umat manusia adalah atas kehendak Ranying Hatalla Langit (Tuhan), maka untuk itu kita tidak boleh membeda-bedakan sesuatu hanya karena bahasa, sebutan dan ciri fisik lainnya, karena semuanya adalah atas kehendak Tuhan, Ranying Hatalla Langit. Agama Hindu Kaharingan didalam perkembangannya tidak luput dari pengaruh-pengaruh setelah ia mulai berkembang. Setelah terjadi kontak dengan orang-orang Barat (Penjajah), maka banyak nama yang melekat padanya sesuai dengan misi-misinya; ada yang menyebut dengan agama ngaju, agama hidden dan ada yang menyebutnya agama kapir.

Sesudah kemerdekaan Republik Indonesia, maka tumbuhlah suatu tuntutan baru,  suatu keinginan ikut berperan serta dalam pembangunan, namun karena didalam negara Republik Indonesia ada rumus- rumus tertentu maka kedudukan  ” KAHARINGAN ” masih belum jelas, namun masih dapat bertahan  karena Kaharingan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa yang disebut dengan Ranying Hatalla Langit. Untuk mengaktualisasikan tuntutan-tuntutan  tersebut maka pada tanggal 20 Juli 1950 diadakan konggres Kaharingan pertama dengan membentuk suatu organisasi dengan nama SKDI ( Serikat Kaharingan Dayak Indonesia) yang berkedudukan di Tangkahen dan sejak saat itu disepakati bersama menyebutkan nama agama yang dianut yaitu “ AGAMA KAHARINGAN ”.

Setelah melalui perjalanan yang panjang kemudian pada tahun 1972 oleh para tokoh Kaharingan dibentuklah Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan, yang mempunyai program utama memperjuangkan agar Kaharingan dibina melalui Departemen Agama, dan melalui proses pemerintahan negara Republik Indonesia akhirnya keluarlah SK. Nomor : H/37/SK/1980 tanggal 19 April 1980 dari Departemen Agama RI. Tentang pengukuhan Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan menjadi Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan yang berpusat di Palangka Raya maka sebutan Kaharingan sekarang dikenal nama  “AGAMA HINDU KAHARINGAN “ .Inilah  awal terjadinya integrasi antara Agama Kaharingan dengan Agama Hindu.

Agama Hindu Kaharingan berasal dari kata : A dan Gam, A berarti tidak dan Gam berarti pergi , jadi yang dimaksud dengan agama artinya tidak pergi/ abadi. Sedangkan Hindu berasal dari kata Sindu ( nama salah satu sungai di India) yang berarti air kehidupan, dan Kaharingan berasal dari kata Haring yang berarti hidup dalam kekuasaan Tuhan. Jadi Yang dimaksud dengan Agama Hindu Kaharingan adalah Kehidupan yang kekal abadi yang berasal dari kekuasaan Tuhan dan mengalir air kehidupan ( Danum Kaharingan Belum ). (MB-AHK, 1977).

Kaharingan berasal dari kata Haring artinya hidup (Tjilik, 2003;478). Lebih jauh Tjilik Riwut menjelaskan bahwa Kaharingan tidak dimulai sejak zaman tertentu, Kaharingan telah ada sejak awal penciptaan, sejak awal Ranying Hatalla menciptakan manusia, sejak adanya kehidupan, Ranying Hatalla telah mengatur segala sesuatu yang untuk menuju jalan kehidupan kearah kesempurnaan yang kekal abadi.( Tjilik, 2003;478).

Dananjaya dalam Koentjaringrat (2004;137) menyatakan bahwa agama asli penduduk pribumi (suku Dayak) adalah agama Kaharingan. Sebutan itu dipergunakan sesudah perang dunia ke II, waktu diantara penduduk pribumi di Kalimantan timbul suatu kesadaran akan kepribadian kebudayaan mereka sendiri dan suatu keinginan kuat untuk menghidupkan kembali kebudayaan dayak asli dan sebelum kepercayaan itu disebut dengan nama Kaharingan, disebut dengan istilah helu (dahulu). Kepercayaan itu tidak mempunyai nama, tetapi karena ajaran itu ada sejak dahulu maka disebutlah kepercayaan itu Helu (dulu)

Didalam ajaran Hindu Kaharingan terdapat suatu ajaran tentang kekuasaan yang maha tinggi yang disebutnya Sang Hyang Widhi Wasa atau  Ranying Hatalla Langit. Ia inilah sebagai sumber segala aturan yang ada dialam semesta ini, sumber tata aturan kehidupan, kesucian, kebesaran dan kemuliaan yang termuat didalam sumber ajaran yang dipercaya oleh umatNya yaitu :  Kita Suci Weda dan Kitab Suci Panaturan.

Permalink 1 Komentar

Perkawinan Hindu Kaharingan

September 12, 2009 at 6:39 am (Artikel, Karya Ilmiah)

SARANA DAN PELAKSANAAN  UPACARA RITUAL PERKAWINAN

AGAMA HINDU KAHARINGAN DI KABUPATEN BARITO SELATAN

Oleh : Pranata

ABSTRAK

Menghadapi Zaman global tentunya  akan membawa angin perubahan terhadap kehidupan masyarakat dan mereka harus siap menghadapi kekuatan global ini agar tetap eksis sebagai masyarakat pemegang budaya.

Pelaksanaan upacara ritual merupakan salah satu kekayaan budaya yang perlu dipertahankan, ditingkatkan dan dikembangkan dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dilandasi oleh iman dan taqwa. Upacara-upacara yang dilakukan oleh umat Hindu Kaharingan dalam menjalankan kehidupannya itu mulai dari sejak dalam kandungan, lahir hingga dewasa dan sampai pada ia kembali kehadapan Ranying Hatalla Langit, selalu dilaksanakan dengan upacara ritual. Salah satunya yang perlu dipertahankan dan dilaksanakan adalah upacara ritual perkawinan (manusia Yadnya).

Sehubungan dengan hal tersebut, kita semua mempunyai tugas untuk melestarikan tata nilai ritual terutama tentang upacara ritual perkawinan yang sangat erat hubungannya dengan perkembangan agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tentang jenis upacara ritual perkawinan,untuk mengetahui tentang Sarana yang dipakai dalam upacara ritual perkawinan dan untuk mengetahui tentang tata cara Upacara Ritual Perkawinan menurut agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan.

Berdasarkan dari hasil penghimpunan data dan wawancara peneliti dengan para nara sumber di Kabupaten Barito Selatan Kecamatan Karau Kuala Desa Talio  menyatakan bahwa upacara ritual perkawinan menurut agama Hindu Kaharingan terdapat  3 (tiga) jenis perkawinan yaitu disebut dengan :

  1. Kawin Hisek
  2. Kawin Lari
  3. Mandai Balai Sumbang

Adapun sarana atau peralatan  yang harus dipersiapkan untuk proses pelaksanaan upacara Ritual Perkawinan yaitu gong, Sangku, Rawayang, Amak/Tikar. Dadinding, Lilis, Bahalai/Kain Panjang, Batu Asa, Lakar, Lunta/Jaring, Rambat, Sawang, Kakambat, Telur, Buah Kelapa yang Bertunas

Sedangkan proses dari tata cara  ritual perkawinan menurut Agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan Kecamatan Karau Kuala Desa Talio yaitu melalui proses :

  • Besi Kurik
  • Hisek
  • Upacara Perkawinan
  • Pali

Kata Kunci : Sarana , Ritual  Perkawinan

I. PENDAHULUAN

Menghadapi  Zaman yang serba Globalisasi dewasa ini, yang mana sektor pendidikan akan mendapat suatu tantangan yang besar dan berat, karena dituntut untuk menciptakan dan menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Persiapan menyongsong zaman yang serba global yang penuh dengan persaingan global harus dilakukan dengan cermat dan terarah, sehingga mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang kita harapkan.

Zaman globalisasi membawa angin perubahan terhadap kehidupan masyarakat, hubungan masyarakat indonesia yang berpedoman pada budaya Pancasila harus siap menghadapi kekuatan global ini, agar tetap eksis sebagai masyarakat pemegang budaya.

Pelaksanaan upacara-upacara ritual Keagamaan merupakan salah satu kekayaan budaya yang ada  di Kalimantan Tengah  sangat perlu kita pertahankan, ditingkatkan dan dikembangkan, dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dilandasi oleh iman dan taqwa. Upacara-upacara keagamaan yang dilakukan oleh umat Hindu Kaharingan dalam menjalankan kehidupannya itu mulai dari sejak dalam kandungan, ia lahir hingga dewasa dan sampai pada ia kembali kehadapan Ranying Hatalla Langit, selalu dilaksanakan dengan dengan upacara Ritual Keagamaan.

Salah satu upacara Ritual Keagamaan yang selalu dilaksanakan dan perlu dipertahankan adalah Upacara Ritual Keagamaan Perkawinan (Manusa Yadnya).

Upacara Ritual Perkawinan adalah merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan sehingga perkawinan tersebut dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat, secara Hukum dan Agama. Bagi pemeluk Agama Hindu Kaharingan upacara ritual perkawinan mempunyai arti dan kedudukan  yang sangat penting dalam menjalankan kehidupannya seperti yang terdapat dalam Hukum Hindu  yang dikenal dengan WIWAHA. Wiwaha atau perkawinan yang dilaksanakan harus memenuhi persyaratan-persyaratan perkawinan yang berpedoman pada Hukum Adat Perkawinan dan khususnya pada Hukum Agama Hindu Kaharingan yang berlaku bagi umat Hindu Kaharingan.

Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana dipaparkan diatas, permasalahan pokok yang akan dibahas melalui kegiatan penelitian ini adalah apa saja tingkatan perkawinan dan  sarana yang digunakan serta bagaimanakah tata cara pelaksanaan Upacara Ritual Perkawinan menurut Agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan.

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Barito Selatan Kecamatan Karau Kuala desa Taliu.

II. PEMBAHASAN

A.  PENGERTIAN PERKAWINAN

Orang tua kita dulu dalam hal melangsungkan proses awal perkawinan  yaitu menentukan dan menetapkan calon bagi anak-anaknya dengan asumsi yang kuat bahwa tidak ada orang tua yang sengaja ingin menyengsarakan anaknya.

Dalam kondisi peranan orang tua yang demikian maka perlu tatacara perkawinan yang idial yaitu dapat memenuhi semua norma yang ada dimasyarakat. Kondisi ini mengalami tantangan, karena tatacara perkawinan pada masa sekarang cenderung mengarah kepada hal yang cepat dan praktis dengan melupakan  nilai-nilai sakral yang terdapat dalam proses Upacara Ritual perkawinan.

Adapun yang dimaksud dengan perkawinan itu sendiri, cukup banyak para ahli yang sudah mendefinisikan mengenai perkawinan ini diantaranya seperti yang dikemukakan oleh Hilman Hadikusuma, SH dalam bukunya yang berjudul  Hukum Perkawinan Adat, menyatakan bahwa  “ dikalangan masyarakat adat yang masih kuat prinsip kekerabatannya berdasarkan keturunan (Geonologis), maka perkawinan merupakan suatu nilai hidup untuk meneruskan keturunan, mempertahankan silsilah dan kedudukan sosial yang bersangkutan. Selanjutnya seperti yang terdapat didalam Undang – Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 pasal 1 disebutkan bahwa “ perkawinan ialah ikatan lahir dan bathin antara seoarng pria dengan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menurut ajaran Agama Hindu Kaharingan upacara perkawinan adalah suci  dan harus dilaksanakan oleh setiap pasangan yang akan hidup berumah tangga yang mempunyai kesadaran tentang tanggung jawab  sebagai suami dan istri dan yang paling penting adalah bagaimana suami istri tersebut mempu mengedepankan ajaran agama. Hal ini seperti yang tertuang dalam Kitab Suci Panaturan Pasal 19 ayat 3 yaitu :

“ Ewen due puna palus lunuk hakaja panting baringen hatamuei bumbung, awi ewen sintung due dapit jeha ije manak manarantang hatamunan aku huang pantai danum kalunen ije puna ingahandak  awi – Ku tuntang talatah panggawi manjadi suntu akan pantai danum kalunen “.

(MB-AHK, 2001).

Dari berbagai definisi diatas, maka perkawinan merupakan  suatu ikatan lahir bathin antara seorang pria dan seorang wanita yang akan melangsungkan perkawinan. Ikatan lahir dan bathin antara seorang pria dan seorang wanita ini haruslah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya, perkawinan tidak boleh dilaksanakan apabila dilakukan dengan paksaan atau pengaruh orang lain. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerenggangan setelah menjalankan hidup berumah tangga. Karena keberhasilan suatu perkawinan harus didasarkan kepada saling mencintai, saling bekerja sama, saling isi mengisi dalam setiap kegiatan rumah tangga. Perkawinan baru dianggap syah apabila telah dilaksanakan sesuai dengan tatacara agamanya dan dicatatkan berdasarkan hukum yang berlaku.

Dalam kehidupan berumah tangga, haruslah disertai adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban serta kedudukan antara suami dan istri . Artinya hak dan kedudukan istri harus seimbang dengan hak dan kewajiban suami didalam kehidupan rumah tangga, tidak ada kedudukan yang lebih tinggi ataupun kedudukan yang lebih rendah. Segala sesuatu yang terjadi didalam keluarga adalah merupakan hasil putusan bersama antara suami dan istri. Dengan demikian pengertian daripada perkawinan adalah benar-benar merupakan suatu ikatan lahir dan bathin dengan landasan saling mencintai, kasih mengasihi serta membagi suka maupun duka.

Menurut ajaran Agama Hindu upacara perkawinan adalah suci yang harus dilaksanakn oleh setiap pasangan yang akan hidup berumah tangga. Setiap pasangan aayang ingin membentuk rumah tangga harus sadar  tentang tanggung jawab sebagai suami istri dan yang paling penting adalah bagaimana sepasang suami istri tersebut mampu mengedepankan ajaran agama terutama bila ia ingin melangsungkan perkawinan.

B.  TUJUAN PERKAWINAN

Setiap orang yang akan kawin harus menyadari arti dan nilai perkawinan bagi kehidupan manusia, sehingga nilai perkawinan itulah yang menjadi landasan dan dasar kehidupan suami istri. Tujuan diadakan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa . tujuan inilah yang sangat didambakan oleh pasangan suami istri dalam kehidupan berumah tangga.

Perkawinan menurut ajaran agama Hindu adalah “Yadnya”, sehingga seorang yang memasuki ikatan perkawinana akan menuju gerbang Grehastha asrama yang merupakan lembaga suci yang harus dijaga keberadaannya serta kemuliaannya. Lembaga suci ini hendaknya dilaksanakan dengan kegiatan suci pula seperti melaksanakan Dharma Agama dan Dharma Negara, termasuk didalamnya pelaksanaan Panca Maha Yadnya.

Didalam Kitab Manawadharmasastra  Buku III Pasal 4  mengatakan :

“ Gurunanumatah snatwa

swawrtto yathawidhi,

Udwaheta dwijo bharyam

Sawarnam laksananwitam “

Artinya :

“ Setelah mandi, dengan seijin gurunya

dan melakukan sesuai dengan peraturan

upacara samawartana, seorang Dwijanti

akan mengawini seorang perempuan

dari warna yang sama yang memiliki

tanda-tanda baik pada badannya “.

(Manawa Dharmasastra, Buku III ,131)

Apabila kita simak makna dari pernyataan diatas, maka apa yang menjadi tujuan dari perkawinan yaitu ingin menciptakan suatu keluarga yang bahagia dan sejahtera akan tercapai apabila pasangan suami istri tersebut berasal dari keluarga yang baik dan yakin kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Begitu juga seperti yang tertuang dalam Kitab Suci Panaturan Pasal 28 ayat 40 yaitu :

“ Limbah jadi malalus kakare gawi akan Raja Bunu ewen due Kameluh Tanteluh Petak maatuh Kabaluma belum mangun batang panjang huma hai parataran lumbah “

(MB-AHK, 2001)

Perkawinan sebagai awal menuju masa Grehastha merupakan masa yang paling penting dalam kehidupan manusia. Didalam Grehastha inilah tiga perilaku yang harus dilaksanakan yaitu :

  1. Dharma adalah aturan-aturan  yang harus dilaksanakan dengan kesadaran yang berpedoman kepada Dharma Agama dan Dharma Negara.
  2. Artha adalah segala kebutuhan hidup berumah tangga untuk mendapatkan kesejahteraan yang berupa materi dan ilmu pengetahuan.
  3. Kama adalah rasa kenikmatan yang diterima dalam keluarga sesuai dengan ajaran agama.

Dengan demikian tujuan perkawinan yang paling pokok adalah terwujudnya keluarga bahagia, kebahagiaan dan kekekalan harus dibina sepanjang masa. Kebahagian dalam keluarga tidak saja menumpuknyaharta benda, tidak saja terpenuhinya sex, tetapi terpenuhinya kebutuhan jasmani dan rohani yang wajar.

Keturunan inilah yang nantinya bertugas untuk melakukan Sradha (Pitra Yadnya) untuk menyelamatkan dan mendoakan agar leluhurnya mendapatkan jalan yang terang. Anak/keturunan merupakan kelanjutan dari siklus kehidupan keluarga, oleh sebab itu diharapkan dalam sebuah keluarga dapat melahirkan anak/keturunan.

C. JENIS PERKAWINAN

Menurut Agama Hindu Kaharingan di desa Taliu kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito selatan , terdapat  suatu ritual keagamaan  dalam melaksanakan upacara perkawinan yang dibagi dalam 3   ( tiga ) jenis  upacara ritual perkawinan, serta mempunyai bermacam-macam syarat yang mesti harus dipenuhi serta tata cara dari pelaksanaan acara perkawinan baik dari proses pelamaran sampai kepada pelaksanaan upacara perkawinan.

Di desa Taliu Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan, upacara ritual perkawinan menurut Agama Hindu Kaharingan terdapat  3 (tiga) Jenis dalam melaksanakan perkawinan yaitu terdiri dari :

  • Kawin Hisek.

Dalam pelaksanaan upacara Ritual Perkawinan ini dilaksanakan perkawinan yang biasanya dilakukan oleh umat Hindu Kaharingan yang sesuai dengan adat dan ritual Agama Hindu Kaharingan.

  • Kawin Lari

Dalam pelaksanaan upacara ritual perkawinan ini dilaksanakan yang dilakukan apabila tidak direstui oleh orang tua kedua mempelai, sehingga mereka berdua melaskanakan perkawinannya sendiri yang dilaksanakan oleh seorang mantir .

  • Mandai Balai Sumbang

Dalam Pelaksanaan upacara ritual perkawinan ini adalah dilaksanakan suatu perkawinan yang dilakukan apabila perkawinan tersebut dilakukan kesalahan dalam silsilah keluarga misalnya seorang paman yang mengawinkan keponakannya maka mereka harus melaksanakan upacara perkawinan yaitu Mandai Balai Sumbang yang mana mereka berdua harus makan ditempat makanan babi (dulang Bawui) .

D. SARANA UPACARA RITUAL PERKAWINAN

Dalam melaksanakan upacara Ritual Perkawinan menurut agama Hindu Kaharingan di desa Taliu kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan  tentunya memerlukan suatu sarana-sarana yang harus dipersiapkan.  Dengan sarana inilah, maka proses perkawinan akan lebih sempurna dan mencapai apa yang akan menjadi tujuan dari perkawinan tersebut.

Adapun sarana-sarana yang harus dipersiapkan yaitu :

  • Gong

Digunakan sebagai tempat duduk bagi kedua mempelai dalam upacara mamalas .

  • Sangku

Digunakan sebagai tempat menyimpan/menyampaikan jakah paisek .

  • Rawayang

Digunakan untuk menyambut kedatangan penganten laki-laki dan juga digunakan untuk upacara mamalas yaitu diikat bersama-sama dengan hapatung rotan dan batang sawang.

  • Amak/Tikar

Digunakan untuk tempat duduk dalam upacara Hisek dan pada saat mamalas penganten.

  • Dadinding

Digunakan untuk menghias dibelakang tempat duduk penganten .

  • Lilis

Digunakan untuk di ikat ditangan kedua mempelai setelah upacara mamelek.

  • Bahalai/Kain Panjang

Digunakan sebagai alas tempat duduk penganten yang diletakan diatas gong.

  • Batu Asa

Digunakan sebagai tempat meletakan telur yang diinjak oleh mempelai laki-laki  pada saat sampai pada rumah mempelai perempuan.

  • Lakar

Digunakan sebagai pelengkap upacara perkawinan yang diletakan ditengah-tengah tempat upacara mamalas

  • Lunta/jarring

Digunakan sebagai pelengkap upacara perkawinan yang diletakan ditengah-tengah tempat upacara mamalas.

  • Rambat

Digunakan sebagai pelengkap upacara perkawinan yang diletakan ditengah-tengah tempat upacara mamalas

  • Sawang

Digunakan sebagai syarat upacara yang diletakan ditengah –tengah tempat upacara mamalas dan diikat dengan hampatung rotan dan rawayang

  • kakambat

Digunakan sebagai alat untuk mengikat batang sawang, hampatung rotan dan rawayang ditengah – tengah tempat upacara mamalas.

  • Telur

Digunakan untuk mamalas kedua mempelai

  • Buah Kelapa yang bertunas

Digunakan sebagai syarat upacara mamalas kedua mempelai dan pada saat upacara mamalas tersebut diletakan ditengah –tengah tempat upacara dan apabila upacara mamalas telah selesai, buah kelapa tersebut ditanam didepan rumah.

E.  PROSES PELAKSANAAN PERKAWINAN

Didalam pelaksanaan upacara ritual perkawinan di desa Taliu Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan , yang sering dilaksanakan  dan yang syah sesuai dengan ajaran agama Hindu Kaharingan yaitu Kawin Hisek, sebelum acara perkawinan dilangsungkan memiliki berbagai proses dari awal sampai akhir upacara. Adapun rangkaian dari acara-acara tersebut adalah :

  1. Besi Kurik
  2. Hisek
  3. Upacara Ritual Perkawinan
  4. Pali.
  1. A. Besi Kurik.

Dalam upacara ritual perkawinan bagi pemeluk agama Hindu Kaharingan di desa Taliu Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan , sebagai umat yang beragama, sebelum menginginkan memiliki seorang perempuan untuk dijadikan seorang istri maka pihak keluarga dari seorang laki-laki datang menemui keluarga seorang perempuan yaitu diadakan acara Besi Kurik. Dalam acara Besi Kurik ini keluarga calon mempelai laki-laki menyerahkan sejumlah uang  kepada keluarga calon mempelai perempuan sebagai tanda keinginandari pihak laki-laki yang menginginkan seorang perempuan untuk dijadikan istri. Dan dalam acara Besi Kurik ini sekaligus membuat Surat Perjanjian Pertunangan yang isinya mengenai jangka waktu pelaksanaan perkawinan.

  1. B. HISEK

Dalam pelaksanaan upacara ritual Hisek adalah pihak mempelai laki-laki kembali mendatangi pihak mempelai perempuan yang mana bertujuan untuk menelusuri kembali tentang kesepakatan yang telah ditanda tangani dalam penyampaian Besi Kurik. Dalam pelaksanaan upacara Hisek ini juga dilaksanakan acara Jakah Paisek yang mana dari mempelai laki-laki menyerahkan barang-barang yaitu :

Tapih, Pakaian perempuan lengkap, Selendang, Sabun, sikat, odol, Sandal, Bedak, farfum (alat kosmetik)

Peralatan perempuan lengkap ini disimpan didalam sangku.

Selanjutnya dalam upacara ritual Hisek ini pula diputuskan tentang :

–         Palaku

Palaku yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada  pihak perempuan biasanya dapat berupa tanah pekarangan dan dapat berupa barang emas. Palaku ini merupakan hasil kesepakatan kedua belah pihak.

–         Bulau kandung

Memutuskan tentang panginan jandau (makanan yang akan disiapkan untuk acara perkawinan) . Hal ini juga merupakan hasil kesepakatan kedua belah pihak.

–         Rapin Tuak

Memutuskan tentang minuman yang disiapkan sebagai syarat dalam upacara perkawinan, biasanya minuman yang beralkohol.

Dalam upacara ritual Hisek ini dipimpin oleh Matir Agama Hindu Kaharingan, Majelis Resort/Kelompok Agama Hindu kaharingan.

  1. UPACARA RITUAL PERKAWINAN.

Setelah semua upacara-upacara sebelumnya telah dilaksanakan dan semua persyaratan untuk proses pelaksanaan upacara ritual perkawinan sudah siap, maka proses pelaksanaan upacara ritual perkawinan dapat dilaksanakan.

Pertama –tama pihak mempelai laki-laki  berangkat menuju tempat mempelai perempuan , adapun sarana yang dibawa  oleh mempelai laki-laki dan rombongan  yaitu :

–         Hampatung Uei (rotan) sepanjang 4 meter yang diujungnya dibuatkan patung yang mana rotan ini dipegang ujungnya oleh mempelai laki-laki sampai didepan rumah mempelai perempuan.

–         Keris yang dibungkus dengan selendang

–         Butah (rambat) yang diisi dengan damek dan barang-barang lain yang diperlukan yang dibawa oleh penganpit penganten .

–         Kasur, bantal dan guling.

Selanjtnya mempelai laki-laki diapit oleh dua orang penganpit yang membawa mandau  diarak menuju ketempat mempelai perempuan diiringi dengan tetabuhan gong, gendang . begitu juga dengan alat transportasi yang digunakan (biasanya kapal) juga diberikan hiasan.

Setelah pihak mempelai laki-laki sampai ditempat upacara yaitu tempat mempelai perempuan, maka pihak mempelai perempuan sudah mempersiapkan daun sawang sebanyak 7 (tujuh) lembar yang beri tanda  Lapak Lampinak (Cacak Burung) yang digantung didepan rumah mempelai perempuan, kemudian memasang bendera merah putih dan dipinggir tebiung sungai dipasang bendera dari kain panjang (bahalai). Selanjutnya Mantir dari pihak pihak perempuan mempersiapkan Rawayang yang digunakan untuk menyambut mempelai laki-laki.

Setelah mempelai laki-laki sampai ditempat mempelai perempuan, maka disambut oleh Mantir dari mempelai perempuan dengan mendorong alat transportasi (biasanya Kapal/perahu) dengan menggunakan Rawayang sebanyak 3 (tiga) kali.

–         Dorongan yang pertama Mantir mendoakan agar menolak segala sial dari mempelai laki-laki.

–         Dorongan yang kedua Mantir mendoakan agar menolak segala omongan yang tidak baik.

–         Dorongan yang ketiga Mantir mendoakan agar menolak segala iri dengki.

Setelah sudah tiga kali dorongan yang dilakukan oleh Mantir, maka Mantir untuk yang terakhir kalinya mengait kapal/perahu yang digunakan mempelai laki-laki dengan menggunakan Rawayang sambil mendoakan agar mempelai laki-laki dalam menjalankan kehidupannya  mendapatkan tuah rejeki, umr panjang dan kebahagian hidup.

Sebelum mempelai laki-laki dan rombongan naik ketempat mempelai perempuan, maka Mantir melaksanakan upacara Manawur Pali yang bertujuan agar upacara perkawinan yang akan dilaksanakan tidak mendapatkan halangan dan gangguan . Setelah selesai Mantir Manawur Pali, maka mempelai laki-laki dan rombongan naik dan disambut denganolesan bedak dan minyak oleh pihak mempelai perempuan. Setelah selesai acara pengolesai bedak dan minyak, maka mempelai laki-laki dan rombongan disambut dengan Banjang (pantan), yang mana mantir dari pihak perempuan menanyakan maksud kedatangan rombongan dan dijawab oleh mantir mempelai laki-laki dan setelah selesai Tanya jawab maka mantir dari pihak laki-laki memotong Banjang (pantan) tersebut. Setelah Banjang(pantan) terpotong, pihak mempelai laki-laki dan rombongan dipersilahkan untuk menuju kedepan rumah, yang mana didepan rumah mempelai perempuan, mempelai laki-laki dibersihkan dengan acara Tampung Papas dan menginjak telur yang diletakkan diatas batu asa, setelah itu mempelai laki-laki baru dipersilahkan untuk masuk ke rumah tempat upacara perkawinan dilaksanakan dan beristirahat didalam kamar yang telah disiapkan yang terbuat dari dinding kain. Disaat mempelai laki-laki beristirahat mantir dari pihak laki-laki dan mantir dari pihak perempuan berunding tentang waktu dan persiapan untuk upacara Mamelek pada malam harinya.

Sebelum upacara Mamelek dilaksanakan maka diadakan Basarah (persembahyangan) bersama dan baru setelah selesai basarah dilanjutkan dengan upacara Ritual Mamelek. Adapun yang dipersiapkan dalam upacara Ritual Mamelek yaitu :

–         Mantir Pelek

–         Surat Nikah

–         Surat Pelaksanaan Mamelek

–         Surat Bukti Palaku

–         Surat Perjanjian Kawin

Adapun sarana dan prasaranan yang dipersiapkan dalam upacara ritual Mamelek yaitu :

–         Sangku 2 (dua) buah

–         Uang logam 21 (dua puluh satu) biji

–         Luang Panatup 4 (empat) orang

–         Sapatung Bendang 7 (tujuh) buah.

Setelah semua sarana dan prasarana telah dipersiapkan, maka dilanjutkan dengan upacara ritual Mamelek yang dipimpin oleh Mantir Pelek. Upacara ritual Mamelek adalah suatu upacara untuk menagih barang adat (palaku) dalam sebuah upacara perkawinan oleh mantir pihak perempuan  kepada pihak mempelai laki-laki. Adapun barang adat (palaku) yang ditagih yaitu :

–         Tutup Uwan ( Kain hitam)

–         Sinjang Entang (Kain Panjang/Bahalai)

–         Saput (Pakaian)

–         Lapik Ruji (Duit Ringgit)

–         Bulau Singah Pelek (Cincin kawin)

–         Rapin Tuak (Minuman)

–         Gatang Ijang Mantir (uang) dari kedua belah pihak

–         Akan Mantir Mangalakar (uang) dari kedua belah pihak sesuai kesepakatan.

Setelah upacara ritual Mamelek selesai, maka kedua mempelai keluar dari kamar dan disandingkan  diatas tikar dengan berpakaian adat, kemudian petugas mamalek (tukang luang) memasang lilies kepada kedua mempelai yang mana luang dari pihak perempuan memasang lilies untuk mempelai laki-laki dan luang dari pihak laki-laki memasang lilies untuk mempelai perempuan. Setelah selesai mengikat lilies, maka acara dilanjutkan dengan pembacaan surat kawin, surat pelek, surat nikah dan surat bukti palaku dan ditanda tangani oleh kedua mempelai dan dilanjutkan oleh ahli waris kedua mempelai, setelah selesai penanda tanganan maka selesailah upacara ritual Mamelek.

Keesokan harinya para Mantir menpersiapkan sarana dan prasarana untuk melaksanakan upacara mamalas penganten yaitu :

Lilis 14 buah (7 dari pihak laki-laki dan 7 dari pihak perempuan), Tikar, Gong, Dadinding, Lakar, Bahalai, Batu asa, Lunta, Rambat, Batang sawang, Kakamban, Rawayang, Sapatung uwei, Kelapa yang bertunas.

Semua peralatan tersebut diletakan ditengah-tengah tempat upacara mamalasa dilaksanakan. Setelah semua peralatan sudah siap , maka dilanjutkan dengan upacara Manawur Santang oleh Mantir. Adapun sarana yang dipersiapkan untuk Manawur Santang yaitu :

Beras tawur, 1 (satu) dulang makanan, Parapen, Tampung tawar, Undus (minyak).

Setelah selesai upacara Manawur Santang, maka kedua mempelai duduk diatas gong sambil memegang batang sawang dan kemudian para Matir yang berjumlah tujuh orangbergiliran mamalas penganten dan setelah selesai para Mantir mamalas penganten, maka kedua mempelai makan makanan yang telah disiapkan. Kemudian kedua mempelai disuruh berdiri dan tangannya diangkat keatas oleh Ketua Mejelis Resort/Kelompok Agama Hindu Kaharingan untuk acara pemberkatan penganten sambil menukiiy sebanyak 3 (tiga) kali.

Setelah selesai upacara Mamalas dan pemberkatan, kedua mempelai dipersilahkan keluar ke ruang tamu supaya dapat dilihat oleh para tamu yang diluar.

Selanjutnya kedua mempelai masuk kembali kekamar untuk menganti pakaian mereka dan setelah selesai menganti pakaian mereka , kedua mempelai kembali ke tempat upacara Mamalas dan duduk diatas kursi yang telah dipersiapkan. Dilanjutkan dengan Mantir lalu menyampaikan kepada kedua belah pihak yaitu :

  1. Mantir menyerahkan hasil tagihan luang berupa Rapin Tuak dari pihak perempuan dan diserahkan kepada pihak mempelai laki-laki selanjutnya diserahkan kembali kepada Mantir untuk membuka Tajau Tuak.
  2. Mantir menyerahkan penganten kepada ahli waris kedua belah pihak dan menyatakan tugas Mantir telah selesai untuk diserah terimakan kemudian dilanjutkan ahli waris pihak laki-laki menyerahkan penganten laki-laki  kepada ahli waris pihak perempuan.
    1. Mantir memberikan nasehat/tingak ajar kepada kedua mempelai.

Setelah Mantir memberikan nasehat selesai, selanjutnya ahli waris kedua mempelai kembali  menyerahkan kepada Mantir dan bertanya apakah masih ada sisa tentang tagihan luang. Dan dijawab oleh Mantir bahwa masih ada tentang tagihan luang yaitu :

–         Tajau Tuak sudah habis

–         Bulau kandung sudah habis

–         Yang belum adalah Mantir baundang-undang.

Mantir baundang-undang yaitu membaca surat kawin, sureat nikah, surat pelaksanaan mamelek dan Mantir langsung mangalakar dan menyampaikan bahwa semua angkos kawin sudah dipenuhi serta janji sangsi untuk mempelai bahwa bagi yang bersalah sampai mengakibatkan terjadinya perceraian, maka yang melakukan kesalahan akan membayar sesuai dengan apa yang tertuang didalam surat perjanjian kawin. Selanjutnya Mantir baundang-undang tentang tuntunan lawatan (memberitahukan kepada orang banyak)  yaitu Mantir menyampaikan tentang pnyerahan oleh orang rumah dan jumlah bantuan yang diberikan oleh orang kampung.

Setelah selesai acara Mantir baundang-undang, maka selesailah seluruh proses upacara ritual perkawinan.

  1. D. PALI

Dalam pelaksanaan upacara ritual perkawinan bagi umat Hindu Kaharingan, maka setelah proses upacara ritual perkawinan selesai,  untuk kedua mempelai wajib melaksanakan Pali/Pantangan. Adapun tanda bagi yang melaksanakan Mamali dalam upacara perkawinan yaitu daun sawang yang berjumlah 7 (tujuh) lembar diangkat  dan dipasang didapan pintu rumah selama 7 hari 7 malam untuk melaksanakan Pali tersebut. Adapun pali/pantangan tersebut yaitu :

–         Tidak boleh ada pertengkaran/perkelahian. Bagi yang melakukan pertengkaran/perkelahian dirumah yang mamali , maka yang bersangkutan harus mengadakan kembali upacara perkawinan bagi kedua mempelai.

–         Orang yang datang dari tempat kematian/melahirkan, sebelum masuk rumah harus dibersihkan terlebih dahulu dengan tampung papas.

–         Tidak boleh pergi bertamu.

Setelah selesai melaksanakan Pali selama 7 hari 7 malam, maka kedua mempelai melepaskan lilies dan pali / pantangan telah selesai dan kedua mempelai wajib melaksanakan untuk berangkat berusaha /bekerja selama 7 hari  7 malam  pula.

Setelah selesai melaksanakan pergi berusaha selama 7 hari 7 malam maka selesailah seluruh rangkaian upacara perkawinan bagi kedua mempelai.

III. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dalam tulisan ini adalah :

  1. Upacara ritual perkawinanmenurut agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan Kecamatan Karau Kuala Desa Talio terdapat 3 (tiga) jenis Upacara Ritual Perkawinan yaitu  Kawin Hisek, Kawin Lari, Mandai Balai Sumbang.
  2. Sarana dan prasarana yang dipakai dalam upacara Ritual Perkawinan tersebut yaitu Sangku, Rawayang, Amak/Tikar, Dadinding, Lilis, Bahalai, Batu Asa, Lakar, Lunta/Jaring, Rambat, Ssawang, Kakamban, Telur dan Buah Kelapa yang Bertunas.
  3. Proses Pelaksanaan Upacara Ritual Perkawinan yaitu melalui proses :

a. Besi Kurik

b. Hisek

c. Upacara Perkawinan

d. Pali.

DAFTAR PUSTAKA

Anak Agung Gde Oka Netra, Drs, 1984. Tuntunan Dasar Agama Hindu,

G. Pudja MA, 2002, Manawa Dharma Sastra, CV. Felita Nursatama Lestari, Jakarta.

Hadikusuma, Hilman, 1977, Hukum Perkawinan Adat, Alumni, Bandung,

MB-AHK, 2001, Panaturan, Palangka Raya

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar