HINDU KAHARINGAN

September 18, 2009 at 2:17 pm (Artikel, Karya Ilmiah)

Hindu Kaharingan

Oleh

Pranata

Selama ribuan tahun yang lalu penduduk Indonesia yang mendiami kepulauan Kalimantan yang dikenal dengan suku Dayak, telah mengalami perkembangan suatu keyakinan akan keagamaan yang percaya kepada Tuhan  Sebagaimana bangsa-bangsa didunia, akibat bahasa dan budaya yang berbeda-beda  maka penyebutan nama Tuhan juga berbeda-beda, namun secara esensial sangat dipercaya bahwa penguasa alam semesta beserta segala isinya itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, Good, Allah, Sanghyang Widhi Wasa, dan Ranying Hatala Langit.

Sesuai dengan pasal 39 ayat 8 Kitab Suci Panaturan berbunyi :

“      Ie Ranying Hatalla Palus Mukei Kahain Kuasae

, Mampaurai Japa Jimat Tantenge, Hayak Auh

Nyahu Batengkung Ngaruntung Langit,

Malentar Kilat Kilat Basiring Hawun,

Ie Manampa Kakare Kutak Pander

Ewen Sama Hakabeken Tuntang Palus

Mubah Ngabeken Kea Kare Tiruk Tuga,

Itung Pitungae “

Artinya :

“     Ia Ranying Hatalla Menjadikan KehendakNya

Dengan Segala Kekuasaan CiptaanNya, bersama

Suara Nyahu Batengkung Ngaruntung Langit,

Ia Menjadikan bermacam-macam bahasa

Bagi mereka semua, sekaligus Membagi – bagi

Cara berpikir mereka”.

(MB-AHK, Panaturan ; 2001)

Berdasarkan ayat tersebut, maka sangat jelas bahwa bahasa yang berbeda-beda dan tata pikiran yang berbeda-beda antar umat manusia adalah atas kehendak Ranying Hatalla Langit (Tuhan), maka untuk itu kita tidak boleh membeda-bedakan sesuatu hanya karena bahasa, sebutan dan ciri fisik lainnya, karena semuanya adalah atas kehendak Tuhan, Ranying Hatalla Langit. Agama Hindu Kaharingan didalam perkembangannya tidak luput dari pengaruh-pengaruh setelah ia mulai berkembang. Setelah terjadi kontak dengan orang-orang Barat (Penjajah), maka banyak nama yang melekat padanya sesuai dengan misi-misinya; ada yang menyebut dengan agama ngaju, agama hidden dan ada yang menyebutnya agama kapir.

Sesudah kemerdekaan Republik Indonesia, maka tumbuhlah suatu tuntutan baru,  suatu keinginan ikut berperan serta dalam pembangunan, namun karena didalam negara Republik Indonesia ada rumus- rumus tertentu maka kedudukan  ” KAHARINGAN ” masih belum jelas, namun masih dapat bertahan  karena Kaharingan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa yang disebut dengan Ranying Hatalla Langit. Untuk mengaktualisasikan tuntutan-tuntutan  tersebut maka pada tanggal 20 Juli 1950 diadakan konggres Kaharingan pertama dengan membentuk suatu organisasi dengan nama SKDI ( Serikat Kaharingan Dayak Indonesia) yang berkedudukan di Tangkahen dan sejak saat itu disepakati bersama menyebutkan nama agama yang dianut yaitu “ AGAMA KAHARINGAN ”.

Setelah melalui perjalanan yang panjang kemudian pada tahun 1972 oleh para tokoh Kaharingan dibentuklah Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan, yang mempunyai program utama memperjuangkan agar Kaharingan dibina melalui Departemen Agama, dan melalui proses pemerintahan negara Republik Indonesia akhirnya keluarlah SK. Nomor : H/37/SK/1980 tanggal 19 April 1980 dari Departemen Agama RI. Tentang pengukuhan Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan menjadi Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan yang berpusat di Palangka Raya maka sebutan Kaharingan sekarang dikenal nama  “AGAMA HINDU KAHARINGAN “ .Inilah  awal terjadinya integrasi antara Agama Kaharingan dengan Agama Hindu.

Agama Hindu Kaharingan berasal dari kata : A dan Gam, A berarti tidak dan Gam berarti pergi , jadi yang dimaksud dengan agama artinya tidak pergi/ abadi. Sedangkan Hindu berasal dari kata Sindu ( nama salah satu sungai di India) yang berarti air kehidupan, dan Kaharingan berasal dari kata Haring yang berarti hidup dalam kekuasaan Tuhan. Jadi Yang dimaksud dengan Agama Hindu Kaharingan adalah Kehidupan yang kekal abadi yang berasal dari kekuasaan Tuhan dan mengalir air kehidupan ( Danum Kaharingan Belum ). (MB-AHK, 1977).

Kaharingan berasal dari kata Haring artinya hidup (Tjilik, 2003;478). Lebih jauh Tjilik Riwut menjelaskan bahwa Kaharingan tidak dimulai sejak zaman tertentu, Kaharingan telah ada sejak awal penciptaan, sejak awal Ranying Hatalla menciptakan manusia, sejak adanya kehidupan, Ranying Hatalla telah mengatur segala sesuatu yang untuk menuju jalan kehidupan kearah kesempurnaan yang kekal abadi.( Tjilik, 2003;478).

Dananjaya dalam Koentjaringrat (2004;137) menyatakan bahwa agama asli penduduk pribumi (suku Dayak) adalah agama Kaharingan. Sebutan itu dipergunakan sesudah perang dunia ke II, waktu diantara penduduk pribumi di Kalimantan timbul suatu kesadaran akan kepribadian kebudayaan mereka sendiri dan suatu keinginan kuat untuk menghidupkan kembali kebudayaan dayak asli dan sebelum kepercayaan itu disebut dengan nama Kaharingan, disebut dengan istilah helu (dahulu). Kepercayaan itu tidak mempunyai nama, tetapi karena ajaran itu ada sejak dahulu maka disebutlah kepercayaan itu Helu (dulu)

Didalam ajaran Hindu Kaharingan terdapat suatu ajaran tentang kekuasaan yang maha tinggi yang disebutnya Sang Hyang Widhi Wasa atau  Ranying Hatalla Langit. Ia inilah sebagai sumber segala aturan yang ada dialam semesta ini, sumber tata aturan kehidupan, kesucian, kebesaran dan kemuliaan yang termuat didalam sumber ajaran yang dipercaya oleh umatNya yaitu :  Kita Suci Weda dan Kitab Suci Panaturan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: