KONSEPSI PENDIDIKAN MENURUT AJARAN HINDU KAHARINGAN

September 15, 2009 at 8:59 am (Pandehen, Siraman Rohani)

Tabe salamat Lingu Nalatai Salam Sujud Karendem Malempang

Bapak-Bapak,Ibu-Ibu dan Saudara dalam kasih Ranying Hatalla Langit

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perkenan bapak/ibu/suadara meminta saya untuk menyampaikan pandehen / dharma wacana  dengan topik Makna sangku Tambak Raja Dalam Upacara Persembahyangan Basarah.

Bapak-bapak, ibu-ibu umat sedharma yang berbahagia.

Didalam ajaran agama Hindu Kaharingan, apabila kita menginginkan mengupas atau meninjau pendidikan dari asfek ajaran Hindu Kaharingan , maka dapat kita lihat dari berbagai segi baik dari Kitab suci Panaturan maupun adari sumber-sumber ajaran lainnya yakni Tawur, Bahasa sangiang dan lainnya.

Berdasarkan Kitab suci Panaturan yang menjadi pegangan umat Hindu Kaharingan didalam menjalankan kehidupannya sebagai manusia yang beragama, maka kita dapat meninjau makna-makna pendidikan didalam Kitab Suci Panaturan tersebut, yang berisikan firman-firman Ranying Hatalla Langit kepada umat manusia yang diturunkan ke pantai danum kalunen (dunia).

Sesuai dengan pasal 41 di Kitab suci Panaturan yaitu “ Bawi Ayah Hadir Di Lewu Telu Menuju Pantai danum Kalunen”, yang mana didalam pasal 41 ini  Dalam pasal 41 ini mengungkapkan tentang firman Ranying Hatala yang memerintahkan Raja Uju Hakanduang , Kanaruhan Hanya Basakati agar segera turun kelewu Telu Kalabuan Tingang, Rundung Epat Kalihulun Talawang. Raja Uju Hakanduang memberitahukan firman dari Ranying Hatalla Langit agar mereka dilewu Telu turun menuju pantai danum kalunen untuk mengajar anak cucu Raja Bunu tentang pelaksanaan upacara Tiwah Suntu dilewu Bukit Batu Nindan Tarung. Dan yang akan turun sebagaimana yang difirmankan oleh Ranying Hatala Langit yaitu Raja Tunggal Sangiang , Raja Mantir Mama Luhing Bungai , Raja Rawing Tempun Telun , yang akan mengajar tentang tata upacara pelaksanaan Balian dan ajaran- ajaran upacara lainnya, dari upacara yang terkecil sampai pada yang terbesar. Demikian pula Raja Duhung Mama Tandang yang akan mengajar tentang Tata cara upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei , perjalanan Banama Nyahu dan macam- macam upacara lainnya yang berhubungan dengan upacara kematian. Dan Raja Linga Rawing Tempun Telun nantinya kalian mengajar tentang tata cara pelaksanaan hanteran sampai kepada tata cara upacara Tiwah. Selanjutnya Raja Garing Hatungku, Nyai Endas Bulau Lisan Tingang, Nyai Inai Mangut yang nantinya mengajar tentang segala peralatan upacara , membuat katupat, kambungan, sanggar, palangka dan peralatan lainnya  serta mengajar tentang upacara perkawinan , upacara kehamilan, dan melahirkan bayi. dan kalian yang turun kepantai danum kalunen nanti akan diberi nama oleh Ranying Hatalla Langit Yaitu “ BAWI  AYAH ‘. Artinya kalian ini nantinya yang pertama kali mengajar orang perempuan dalam melaksanakan Balian dipantai danum kalunen serta menyebutkan nama mereka bernama “ BAWIN BALIAN ‘. Selanjutnya Raja Uju Hakanduang berpesan lagi dengan Raja Ungkuh Batu , Tuhan Jenjang Liang agar ia turun paling dahulu menuju pantai danum kalunen untuk mencari tempat yang cocok. Setelah itu Raja Ungkuh Batu tiba dipuncak Bukit Samantuan dan langsung milir menelusuri sungai menuju kampung yang dilihatnya bercahaya dan singgah disebuah rumah. Setelah bertemu dengan pemilik rumah, Ungkuh Batu lalu membicarakan perjalanannyadan sejak saat itu namanya menjadi  UNGKUH JALAYAN lalu Ungku Jalayan menanyakan nama kampung tersebut kepada pemilik rumah dan diberitahukan nama kampung tersebut bernama “ Lewu Tutuk Juking dan Sungai bernama  KAHEAN. Sekarang aku datang memenuhi firman Ranying Hatalla Langit yang disebabkan keturunan Raja Bunu dipantai danum kalunen sudah banyak lupa terhadap firman  dan ajaran Ranying Hatalla Langit. Sewaktu melakukan Tiwah Suntu dilewu Bukit Batu Nindan Tarung dan setelah saya nanti ada maka dilewu telu turun menuju kampung ini. Pada saat itu nanti yang dipanggil untuk menerima ajaran dari Bawi Ayah adalah :

–       Raja Helu Maruhum Usang

–       Raja Sariantang Penyang

–       Kameluh Rangkang Sangiang

–       Raja Landa Bagatung Batu

–       Raja Sina Bakuncir panjang

–       Raja Siam tempun tambaku mangat

–       Raja Kalung Babilem Pamungkal Garantung

–       Raja Pait Panuang Duit

–       Ratu Jampa panuang Balanga

–       Garahasi Minton panuang Badil Tambun

–       Nyai Siti

–       Diang Lawai

–       Nyai Bitak

–       Nyai Bunum

–       Raja Malayu baratupung Bulau

–       Patih Rumbih

–       Dambung Mangkurat

–       Patih Dadar

Setelah Ungku Jalayan lenyap dari pandangan mereka dan pada suatu pagi mereka disepanjang kampung tiba-tiba mereka mendengar suatu suara yang gumuruh dari arah atas yaitu Palangka Bulau Lambayung Nyahu turun dari lewu telu yang dipimpin oleh Raja Tunggal Sangumang , Raja Linga Rawing Tempun Telun , Raja Duhung Bulau , Sahawung Bulau Tampung Buang Panjang mereka turun membangun Balai tempat mereka mengajar Balian.

Setelah semua bangunan Balai tersebut sudah selesai, disitu Sahawung Bulau Tempun Buang Penyang menanam beberapa pohon pinang tawar disisi bangunan Balai yang merupakan pertanda, apabila pinang ini berbuah maka mereka dari lewu Telu akan datang dan mulai mengajar. Tidak beberapa lama buah pinang tersebut berbuah , maka pada saat itu pula Bawi Ayah turun menuju Lewu Tutuk Juking dan mulai mengajar tentang tatacara Balian dari upacara yang terkecil sampai yang terbesar. Sewaktu Bawi Ayah mengajar mereka Balian , disitu mereka membagi tugasnya. Kemudian untuk keturunan anak cucu Raja Bunu yang hidup menetap dan menyebar diseluruh permukaan bumi ini terdapat banyak perbedaan dan melaksanakan bermacam-macam upacara, hal ini disebabkan mereka menyesuaikan dengan keadaan alam lingkungannya. Setelah itu Bawi Ayah menasehati , mengajar anak turunan Raja Bunu mulai dari tata cara berbicara, tingkah laku dan sopan santun. Seandainya apakah terjadi kesalahan pembicaraan yang sengaja maupun tidak sengaja terhadap kerabat keluarganya maka ia dikenakan singer (denda). Seusai Bawi Ayah melaksanakan tugasnya mengajar, tepat tujuh tahun lamanya ,merekapun pulang kembali menuju Lewu Telu, bersama itu mereka menyebutkan nama tempat mereka mengajar tersebut yaitu :  Lewu Tanjung Nyahu , Rundung Karangan panjang. Begitu pula nama sungai yang menjadi tempat kampung tersebut berada, yaitu : “ Batang Danum Nyahu Maruang Duhung, Guhung Pintih Tambarirang Nahasak Hanyi Dan saat itu pula umat manusia menyebutkan Ranying Hatalla Yaitu :  “ RANYING HATALA LANGIT , RAJA TUNTUNG MATAN ANDAU , TUHAN TAMBING KABUNTERAN BULAN , JATHA BALAWANG BULAU , KANARUHAN BAPAGER  HINTAN “.

Bapak-bapak, ibu-ibu umat sedharma yang berbahagia

Berdasarkan pasal 41 ini maka kita bias melihat suatu proses pembelajaran yang diinginkan oleh Ranying Hatalla langit melalui utusannya Bawi Ayah yang melaksanakan firman Ranying Hatalla Langit kepada anak keturunan Raja Bunu yaitu umat manusia di dunia agar tidak lupa terhadap ajaran-ajaran atau perintah-perintahNya, sehingga umat Hindu Kaharingan dapat menjalankan kehidupannya dengan baik dan bermoral.

Selanjutnya Di dalam Hindu Kaharingan dinyatakan mekanisme , menuju kerukunan, persamaan  visi dan misi demi keutuhan, sebagai berikut:

“ Hatamuei lingu nalatai, hapangaja karendem malempang’ (artinya bermusyawarahlah kamu untuk mempersatukan pikiran, visi, dan misi”).Kemudian;

“ Hapungkal lingu nalatai, habangkalan  karendem malempang(artinya bermufakatlah mencapai kebulatan,  menjadi visi dan misi hal-hal yang mendasar) selanjutnya;

“ hariak lingu nalatai haringkai karendem malempang “(artinya sama-sama menyebar luaskan  visi, misi ,kesepakatan itu dengan penuh rasa tanggung  jawab  dalam pelaksanaannya).

Kalau nilai-nilai tersebut sebagai karangka acuan bagi umat didlam menjalankan kehidupannya  maka isi dan sasaran-sasarannya adalah:

(1) Untuk mempersatukan dan menetapkan persatuan dan kesatuan masyarakat pendukungnya (penyang Hinje Simpei Paturung Humba Tamburak);

(2) Membina Integritas kepribadian identitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Ela Buli Manggetu Hinting Bunu Panjang, Isen Mulang, Manetes Rantai Kamara Ambu);

(3)      Meningkatkan kesejahteraan dalam kehidupan bermasyarakat (Hatangku Manggetu Bunu, Kangkalu penang  mamangun Betang);

(4)Menciptakan manusia yang berkeTuhanan (Ranying Hatalla Langit Katamparan);

(5)       Mewujudkan kehidupan yang damai, adil dan beradab. (Hatamuei Lingu Nalatai, Hapangaja Karendem Malempang = Silahturahmi);

Kemudian kekayaan nilai-nilai tersebut akan mempunyai kemampuan yang perlu didayagunakan dalam pelaksanaan sebagai umat manusia, karena ia mempunyai pranata, lembaga atau norma-norma yang selama ini telah dapat membuktikan diri sebagai landasan hidup bersama.

Pengembangan Pranata tersebut diambil dari filosofi: “ Haring Hatungku Tungket Langit “ (Tiga Tungku Pohon Kehidupan = Kayun Pambelum)

  1. Kayun Gambalang Nyahu;(kaum Agamawan Yang Melaksanakan Firman Tuhan).
  2. Kayu Erang Tingang; (Kaum Ahli Adat dan Hukum Adat).
  3. Kayu Pampang Saribu; (Kaum Cendikkiawan).

Jika ketiganya ini bersatu dan berfungsi di dalam kehidupan bersama, maka mereka dapat berfungsi dan mempunyai mekanisme sendiri dalam menyelesaikan dalam setiap masalah dan dapat pula menghindari dan menyelesaikan konflik semacam katub pengaman  dalam kehidupan bersama

Didalam ajaran agama Hindu Kaharingan ada suatu kalimat didalam bahasa Sangiang yaitu “ Ela Kurang Penyang Panggarasang Belum Batu Panggiri Linggu Maharing Nyangkelan Garing Raja wen Beken” yang maksudnya : “ Janganlah engkau kekurangan terhadap Imanmu serta penuhilah dfirimu dengan kebijaksanaan hidup (ilmu pengetahua) dan beribadat serta beramal sehingga menjadikan hidupmu disegani dan dihormati diantara orang-orang lain yang berkuasa”.

Berdasarkan tinjauan-tinjauan yang berhubungan dengan pendidikan diatas, maka kita dapat menarik suatu ulasan bahwa didalam ajaran agama Hindu kaharingan memiliki 5 (lima) hal pokok yang menjadikan manusia sukses didalam mencapai tujuan yang diharapkan yaitu :

1. Penyang                  : Iman, Ilmu, Kasih Sayang

2. Pangarasang            : Pengetahuan

3. Batu                        : Beribadat laksana batu karang

4. Panggiri                  : Amal

5. Linggum                 : Keteladanan, nilai-nilai luhur kebijaksanaan

Untuk mendapatkan kelima nilai-nilai tersebut, haruslah melalui suatu proses pendidikan dan pengajaran sehingga akhirnya dapat mengabungkan kelima unsure tersebut menjadi suatu yang bulat dan utuh sebagai bekal menjalani kehidupan didunia yang penuh dengan keaneka ragaman sikap dan perilaku.

Demikianlah pandehen/dharma wacana ini disampaikan, semoga memberikan manfaat yang besar bagi kita semua. Sebelumnya saya memohon maaf apabila saya selama menyampaikan pandehen ini ada kata-kata saya yang tidak berkenan dihati umat sekalian, semoga Ranying Hatalla Langit memberikati kita semua ,

Sahiy, Sahiy, sahiy.

Penyampai pandehen

Pranata, S.pd

Iklan

1 Komentar

  1. suardeyasasri said,

    tulisannya bagus pak…perlu lebih banyak lagi…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: