Perkawinan Hindu Kaharingan

September 12, 2009 at 6:39 am (Artikel, Karya Ilmiah)

SARANA DAN PELAKSANAAN  UPACARA RITUAL PERKAWINAN

AGAMA HINDU KAHARINGAN DI KABUPATEN BARITO SELATAN

Oleh : Pranata

ABSTRAK

Menghadapi Zaman global tentunya  akan membawa angin perubahan terhadap kehidupan masyarakat dan mereka harus siap menghadapi kekuatan global ini agar tetap eksis sebagai masyarakat pemegang budaya.

Pelaksanaan upacara ritual merupakan salah satu kekayaan budaya yang perlu dipertahankan, ditingkatkan dan dikembangkan dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dilandasi oleh iman dan taqwa. Upacara-upacara yang dilakukan oleh umat Hindu Kaharingan dalam menjalankan kehidupannya itu mulai dari sejak dalam kandungan, lahir hingga dewasa dan sampai pada ia kembali kehadapan Ranying Hatalla Langit, selalu dilaksanakan dengan upacara ritual. Salah satunya yang perlu dipertahankan dan dilaksanakan adalah upacara ritual perkawinan (manusia Yadnya).

Sehubungan dengan hal tersebut, kita semua mempunyai tugas untuk melestarikan tata nilai ritual terutama tentang upacara ritual perkawinan yang sangat erat hubungannya dengan perkembangan agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tentang jenis upacara ritual perkawinan,untuk mengetahui tentang Sarana yang dipakai dalam upacara ritual perkawinan dan untuk mengetahui tentang tata cara Upacara Ritual Perkawinan menurut agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan.

Berdasarkan dari hasil penghimpunan data dan wawancara peneliti dengan para nara sumber di Kabupaten Barito Selatan Kecamatan Karau Kuala Desa Talio  menyatakan bahwa upacara ritual perkawinan menurut agama Hindu Kaharingan terdapat  3 (tiga) jenis perkawinan yaitu disebut dengan :

  1. Kawin Hisek
  2. Kawin Lari
  3. Mandai Balai Sumbang

Adapun sarana atau peralatan  yang harus dipersiapkan untuk proses pelaksanaan upacara Ritual Perkawinan yaitu gong, Sangku, Rawayang, Amak/Tikar. Dadinding, Lilis, Bahalai/Kain Panjang, Batu Asa, Lakar, Lunta/Jaring, Rambat, Sawang, Kakambat, Telur, Buah Kelapa yang Bertunas

Sedangkan proses dari tata cara  ritual perkawinan menurut Agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan Kecamatan Karau Kuala Desa Talio yaitu melalui proses :

  • Besi Kurik
  • Hisek
  • Upacara Perkawinan
  • Pali

Kata Kunci : Sarana , Ritual  Perkawinan

I. PENDAHULUAN

Menghadapi  Zaman yang serba Globalisasi dewasa ini, yang mana sektor pendidikan akan mendapat suatu tantangan yang besar dan berat, karena dituntut untuk menciptakan dan menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Persiapan menyongsong zaman yang serba global yang penuh dengan persaingan global harus dilakukan dengan cermat dan terarah, sehingga mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang kita harapkan.

Zaman globalisasi membawa angin perubahan terhadap kehidupan masyarakat, hubungan masyarakat indonesia yang berpedoman pada budaya Pancasila harus siap menghadapi kekuatan global ini, agar tetap eksis sebagai masyarakat pemegang budaya.

Pelaksanaan upacara-upacara ritual Keagamaan merupakan salah satu kekayaan budaya yang ada  di Kalimantan Tengah  sangat perlu kita pertahankan, ditingkatkan dan dikembangkan, dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dilandasi oleh iman dan taqwa. Upacara-upacara keagamaan yang dilakukan oleh umat Hindu Kaharingan dalam menjalankan kehidupannya itu mulai dari sejak dalam kandungan, ia lahir hingga dewasa dan sampai pada ia kembali kehadapan Ranying Hatalla Langit, selalu dilaksanakan dengan dengan upacara Ritual Keagamaan.

Salah satu upacara Ritual Keagamaan yang selalu dilaksanakan dan perlu dipertahankan adalah Upacara Ritual Keagamaan Perkawinan (Manusa Yadnya).

Upacara Ritual Perkawinan adalah merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan sehingga perkawinan tersebut dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat, secara Hukum dan Agama. Bagi pemeluk Agama Hindu Kaharingan upacara ritual perkawinan mempunyai arti dan kedudukan  yang sangat penting dalam menjalankan kehidupannya seperti yang terdapat dalam Hukum Hindu  yang dikenal dengan WIWAHA. Wiwaha atau perkawinan yang dilaksanakan harus memenuhi persyaratan-persyaratan perkawinan yang berpedoman pada Hukum Adat Perkawinan dan khususnya pada Hukum Agama Hindu Kaharingan yang berlaku bagi umat Hindu Kaharingan.

Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana dipaparkan diatas, permasalahan pokok yang akan dibahas melalui kegiatan penelitian ini adalah apa saja tingkatan perkawinan dan  sarana yang digunakan serta bagaimanakah tata cara pelaksanaan Upacara Ritual Perkawinan menurut Agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan.

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Barito Selatan Kecamatan Karau Kuala desa Taliu.

II. PEMBAHASAN

A.  PENGERTIAN PERKAWINAN

Orang tua kita dulu dalam hal melangsungkan proses awal perkawinan  yaitu menentukan dan menetapkan calon bagi anak-anaknya dengan asumsi yang kuat bahwa tidak ada orang tua yang sengaja ingin menyengsarakan anaknya.

Dalam kondisi peranan orang tua yang demikian maka perlu tatacara perkawinan yang idial yaitu dapat memenuhi semua norma yang ada dimasyarakat. Kondisi ini mengalami tantangan, karena tatacara perkawinan pada masa sekarang cenderung mengarah kepada hal yang cepat dan praktis dengan melupakan  nilai-nilai sakral yang terdapat dalam proses Upacara Ritual perkawinan.

Adapun yang dimaksud dengan perkawinan itu sendiri, cukup banyak para ahli yang sudah mendefinisikan mengenai perkawinan ini diantaranya seperti yang dikemukakan oleh Hilman Hadikusuma, SH dalam bukunya yang berjudul  Hukum Perkawinan Adat, menyatakan bahwa  “ dikalangan masyarakat adat yang masih kuat prinsip kekerabatannya berdasarkan keturunan (Geonologis), maka perkawinan merupakan suatu nilai hidup untuk meneruskan keturunan, mempertahankan silsilah dan kedudukan sosial yang bersangkutan. Selanjutnya seperti yang terdapat didalam Undang – Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 pasal 1 disebutkan bahwa “ perkawinan ialah ikatan lahir dan bathin antara seoarng pria dengan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menurut ajaran Agama Hindu Kaharingan upacara perkawinan adalah suci  dan harus dilaksanakan oleh setiap pasangan yang akan hidup berumah tangga yang mempunyai kesadaran tentang tanggung jawab  sebagai suami dan istri dan yang paling penting adalah bagaimana suami istri tersebut mempu mengedepankan ajaran agama. Hal ini seperti yang tertuang dalam Kitab Suci Panaturan Pasal 19 ayat 3 yaitu :

“ Ewen due puna palus lunuk hakaja panting baringen hatamuei bumbung, awi ewen sintung due dapit jeha ije manak manarantang hatamunan aku huang pantai danum kalunen ije puna ingahandak  awi – Ku tuntang talatah panggawi manjadi suntu akan pantai danum kalunen “.

(MB-AHK, 2001).

Dari berbagai definisi diatas, maka perkawinan merupakan  suatu ikatan lahir bathin antara seorang pria dan seorang wanita yang akan melangsungkan perkawinan. Ikatan lahir dan bathin antara seorang pria dan seorang wanita ini haruslah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya, perkawinan tidak boleh dilaksanakan apabila dilakukan dengan paksaan atau pengaruh orang lain. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerenggangan setelah menjalankan hidup berumah tangga. Karena keberhasilan suatu perkawinan harus didasarkan kepada saling mencintai, saling bekerja sama, saling isi mengisi dalam setiap kegiatan rumah tangga. Perkawinan baru dianggap syah apabila telah dilaksanakan sesuai dengan tatacara agamanya dan dicatatkan berdasarkan hukum yang berlaku.

Dalam kehidupan berumah tangga, haruslah disertai adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban serta kedudukan antara suami dan istri . Artinya hak dan kedudukan istri harus seimbang dengan hak dan kewajiban suami didalam kehidupan rumah tangga, tidak ada kedudukan yang lebih tinggi ataupun kedudukan yang lebih rendah. Segala sesuatu yang terjadi didalam keluarga adalah merupakan hasil putusan bersama antara suami dan istri. Dengan demikian pengertian daripada perkawinan adalah benar-benar merupakan suatu ikatan lahir dan bathin dengan landasan saling mencintai, kasih mengasihi serta membagi suka maupun duka.

Menurut ajaran Agama Hindu upacara perkawinan adalah suci yang harus dilaksanakn oleh setiap pasangan yang akan hidup berumah tangga. Setiap pasangan aayang ingin membentuk rumah tangga harus sadar  tentang tanggung jawab sebagai suami istri dan yang paling penting adalah bagaimana sepasang suami istri tersebut mampu mengedepankan ajaran agama terutama bila ia ingin melangsungkan perkawinan.

B.  TUJUAN PERKAWINAN

Setiap orang yang akan kawin harus menyadari arti dan nilai perkawinan bagi kehidupan manusia, sehingga nilai perkawinan itulah yang menjadi landasan dan dasar kehidupan suami istri. Tujuan diadakan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa . tujuan inilah yang sangat didambakan oleh pasangan suami istri dalam kehidupan berumah tangga.

Perkawinan menurut ajaran agama Hindu adalah “Yadnya”, sehingga seorang yang memasuki ikatan perkawinana akan menuju gerbang Grehastha asrama yang merupakan lembaga suci yang harus dijaga keberadaannya serta kemuliaannya. Lembaga suci ini hendaknya dilaksanakan dengan kegiatan suci pula seperti melaksanakan Dharma Agama dan Dharma Negara, termasuk didalamnya pelaksanaan Panca Maha Yadnya.

Didalam Kitab Manawadharmasastra  Buku III Pasal 4  mengatakan :

“ Gurunanumatah snatwa

swawrtto yathawidhi,

Udwaheta dwijo bharyam

Sawarnam laksananwitam “

Artinya :

“ Setelah mandi, dengan seijin gurunya

dan melakukan sesuai dengan peraturan

upacara samawartana, seorang Dwijanti

akan mengawini seorang perempuan

dari warna yang sama yang memiliki

tanda-tanda baik pada badannya “.

(Manawa Dharmasastra, Buku III ,131)

Apabila kita simak makna dari pernyataan diatas, maka apa yang menjadi tujuan dari perkawinan yaitu ingin menciptakan suatu keluarga yang bahagia dan sejahtera akan tercapai apabila pasangan suami istri tersebut berasal dari keluarga yang baik dan yakin kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Begitu juga seperti yang tertuang dalam Kitab Suci Panaturan Pasal 28 ayat 40 yaitu :

“ Limbah jadi malalus kakare gawi akan Raja Bunu ewen due Kameluh Tanteluh Petak maatuh Kabaluma belum mangun batang panjang huma hai parataran lumbah “

(MB-AHK, 2001)

Perkawinan sebagai awal menuju masa Grehastha merupakan masa yang paling penting dalam kehidupan manusia. Didalam Grehastha inilah tiga perilaku yang harus dilaksanakan yaitu :

  1. Dharma adalah aturan-aturan  yang harus dilaksanakan dengan kesadaran yang berpedoman kepada Dharma Agama dan Dharma Negara.
  2. Artha adalah segala kebutuhan hidup berumah tangga untuk mendapatkan kesejahteraan yang berupa materi dan ilmu pengetahuan.
  3. Kama adalah rasa kenikmatan yang diterima dalam keluarga sesuai dengan ajaran agama.

Dengan demikian tujuan perkawinan yang paling pokok adalah terwujudnya keluarga bahagia, kebahagiaan dan kekekalan harus dibina sepanjang masa. Kebahagian dalam keluarga tidak saja menumpuknyaharta benda, tidak saja terpenuhinya sex, tetapi terpenuhinya kebutuhan jasmani dan rohani yang wajar.

Keturunan inilah yang nantinya bertugas untuk melakukan Sradha (Pitra Yadnya) untuk menyelamatkan dan mendoakan agar leluhurnya mendapatkan jalan yang terang. Anak/keturunan merupakan kelanjutan dari siklus kehidupan keluarga, oleh sebab itu diharapkan dalam sebuah keluarga dapat melahirkan anak/keturunan.

C. JENIS PERKAWINAN

Menurut Agama Hindu Kaharingan di desa Taliu kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito selatan , terdapat  suatu ritual keagamaan  dalam melaksanakan upacara perkawinan yang dibagi dalam 3   ( tiga ) jenis  upacara ritual perkawinan, serta mempunyai bermacam-macam syarat yang mesti harus dipenuhi serta tata cara dari pelaksanaan acara perkawinan baik dari proses pelamaran sampai kepada pelaksanaan upacara perkawinan.

Di desa Taliu Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan, upacara ritual perkawinan menurut Agama Hindu Kaharingan terdapat  3 (tiga) Jenis dalam melaksanakan perkawinan yaitu terdiri dari :

  • Kawin Hisek.

Dalam pelaksanaan upacara Ritual Perkawinan ini dilaksanakan perkawinan yang biasanya dilakukan oleh umat Hindu Kaharingan yang sesuai dengan adat dan ritual Agama Hindu Kaharingan.

  • Kawin Lari

Dalam pelaksanaan upacara ritual perkawinan ini dilaksanakan yang dilakukan apabila tidak direstui oleh orang tua kedua mempelai, sehingga mereka berdua melaskanakan perkawinannya sendiri yang dilaksanakan oleh seorang mantir .

  • Mandai Balai Sumbang

Dalam Pelaksanaan upacara ritual perkawinan ini adalah dilaksanakan suatu perkawinan yang dilakukan apabila perkawinan tersebut dilakukan kesalahan dalam silsilah keluarga misalnya seorang paman yang mengawinkan keponakannya maka mereka harus melaksanakan upacara perkawinan yaitu Mandai Balai Sumbang yang mana mereka berdua harus makan ditempat makanan babi (dulang Bawui) .

D. SARANA UPACARA RITUAL PERKAWINAN

Dalam melaksanakan upacara Ritual Perkawinan menurut agama Hindu Kaharingan di desa Taliu kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan  tentunya memerlukan suatu sarana-sarana yang harus dipersiapkan.  Dengan sarana inilah, maka proses perkawinan akan lebih sempurna dan mencapai apa yang akan menjadi tujuan dari perkawinan tersebut.

Adapun sarana-sarana yang harus dipersiapkan yaitu :

  • Gong

Digunakan sebagai tempat duduk bagi kedua mempelai dalam upacara mamalas .

  • Sangku

Digunakan sebagai tempat menyimpan/menyampaikan jakah paisek .

  • Rawayang

Digunakan untuk menyambut kedatangan penganten laki-laki dan juga digunakan untuk upacara mamalas yaitu diikat bersama-sama dengan hapatung rotan dan batang sawang.

  • Amak/Tikar

Digunakan untuk tempat duduk dalam upacara Hisek dan pada saat mamalas penganten.

  • Dadinding

Digunakan untuk menghias dibelakang tempat duduk penganten .

  • Lilis

Digunakan untuk di ikat ditangan kedua mempelai setelah upacara mamelek.

  • Bahalai/Kain Panjang

Digunakan sebagai alas tempat duduk penganten yang diletakan diatas gong.

  • Batu Asa

Digunakan sebagai tempat meletakan telur yang diinjak oleh mempelai laki-laki  pada saat sampai pada rumah mempelai perempuan.

  • Lakar

Digunakan sebagai pelengkap upacara perkawinan yang diletakan ditengah-tengah tempat upacara mamalas

  • Lunta/jarring

Digunakan sebagai pelengkap upacara perkawinan yang diletakan ditengah-tengah tempat upacara mamalas.

  • Rambat

Digunakan sebagai pelengkap upacara perkawinan yang diletakan ditengah-tengah tempat upacara mamalas

  • Sawang

Digunakan sebagai syarat upacara yang diletakan ditengah –tengah tempat upacara mamalas dan diikat dengan hampatung rotan dan rawayang

  • kakambat

Digunakan sebagai alat untuk mengikat batang sawang, hampatung rotan dan rawayang ditengah – tengah tempat upacara mamalas.

  • Telur

Digunakan untuk mamalas kedua mempelai

  • Buah Kelapa yang bertunas

Digunakan sebagai syarat upacara mamalas kedua mempelai dan pada saat upacara mamalas tersebut diletakan ditengah –tengah tempat upacara dan apabila upacara mamalas telah selesai, buah kelapa tersebut ditanam didepan rumah.

E.  PROSES PELAKSANAAN PERKAWINAN

Didalam pelaksanaan upacara ritual perkawinan di desa Taliu Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan , yang sering dilaksanakan  dan yang syah sesuai dengan ajaran agama Hindu Kaharingan yaitu Kawin Hisek, sebelum acara perkawinan dilangsungkan memiliki berbagai proses dari awal sampai akhir upacara. Adapun rangkaian dari acara-acara tersebut adalah :

  1. Besi Kurik
  2. Hisek
  3. Upacara Ritual Perkawinan
  4. Pali.
  1. A. Besi Kurik.

Dalam upacara ritual perkawinan bagi pemeluk agama Hindu Kaharingan di desa Taliu Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan , sebagai umat yang beragama, sebelum menginginkan memiliki seorang perempuan untuk dijadikan seorang istri maka pihak keluarga dari seorang laki-laki datang menemui keluarga seorang perempuan yaitu diadakan acara Besi Kurik. Dalam acara Besi Kurik ini keluarga calon mempelai laki-laki menyerahkan sejumlah uang  kepada keluarga calon mempelai perempuan sebagai tanda keinginandari pihak laki-laki yang menginginkan seorang perempuan untuk dijadikan istri. Dan dalam acara Besi Kurik ini sekaligus membuat Surat Perjanjian Pertunangan yang isinya mengenai jangka waktu pelaksanaan perkawinan.

  1. B. HISEK

Dalam pelaksanaan upacara ritual Hisek adalah pihak mempelai laki-laki kembali mendatangi pihak mempelai perempuan yang mana bertujuan untuk menelusuri kembali tentang kesepakatan yang telah ditanda tangani dalam penyampaian Besi Kurik. Dalam pelaksanaan upacara Hisek ini juga dilaksanakan acara Jakah Paisek yang mana dari mempelai laki-laki menyerahkan barang-barang yaitu :

Tapih, Pakaian perempuan lengkap, Selendang, Sabun, sikat, odol, Sandal, Bedak, farfum (alat kosmetik)

Peralatan perempuan lengkap ini disimpan didalam sangku.

Selanjutnya dalam upacara ritual Hisek ini pula diputuskan tentang :

–         Palaku

Palaku yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada  pihak perempuan biasanya dapat berupa tanah pekarangan dan dapat berupa barang emas. Palaku ini merupakan hasil kesepakatan kedua belah pihak.

–         Bulau kandung

Memutuskan tentang panginan jandau (makanan yang akan disiapkan untuk acara perkawinan) . Hal ini juga merupakan hasil kesepakatan kedua belah pihak.

–         Rapin Tuak

Memutuskan tentang minuman yang disiapkan sebagai syarat dalam upacara perkawinan, biasanya minuman yang beralkohol.

Dalam upacara ritual Hisek ini dipimpin oleh Matir Agama Hindu Kaharingan, Majelis Resort/Kelompok Agama Hindu kaharingan.

  1. UPACARA RITUAL PERKAWINAN.

Setelah semua upacara-upacara sebelumnya telah dilaksanakan dan semua persyaratan untuk proses pelaksanaan upacara ritual perkawinan sudah siap, maka proses pelaksanaan upacara ritual perkawinan dapat dilaksanakan.

Pertama –tama pihak mempelai laki-laki  berangkat menuju tempat mempelai perempuan , adapun sarana yang dibawa  oleh mempelai laki-laki dan rombongan  yaitu :

–         Hampatung Uei (rotan) sepanjang 4 meter yang diujungnya dibuatkan patung yang mana rotan ini dipegang ujungnya oleh mempelai laki-laki sampai didepan rumah mempelai perempuan.

–         Keris yang dibungkus dengan selendang

–         Butah (rambat) yang diisi dengan damek dan barang-barang lain yang diperlukan yang dibawa oleh penganpit penganten .

–         Kasur, bantal dan guling.

Selanjtnya mempelai laki-laki diapit oleh dua orang penganpit yang membawa mandau  diarak menuju ketempat mempelai perempuan diiringi dengan tetabuhan gong, gendang . begitu juga dengan alat transportasi yang digunakan (biasanya kapal) juga diberikan hiasan.

Setelah pihak mempelai laki-laki sampai ditempat upacara yaitu tempat mempelai perempuan, maka pihak mempelai perempuan sudah mempersiapkan daun sawang sebanyak 7 (tujuh) lembar yang beri tanda  Lapak Lampinak (Cacak Burung) yang digantung didepan rumah mempelai perempuan, kemudian memasang bendera merah putih dan dipinggir tebiung sungai dipasang bendera dari kain panjang (bahalai). Selanjutnya Mantir dari pihak pihak perempuan mempersiapkan Rawayang yang digunakan untuk menyambut mempelai laki-laki.

Setelah mempelai laki-laki sampai ditempat mempelai perempuan, maka disambut oleh Mantir dari mempelai perempuan dengan mendorong alat transportasi (biasanya Kapal/perahu) dengan menggunakan Rawayang sebanyak 3 (tiga) kali.

–         Dorongan yang pertama Mantir mendoakan agar menolak segala sial dari mempelai laki-laki.

–         Dorongan yang kedua Mantir mendoakan agar menolak segala omongan yang tidak baik.

–         Dorongan yang ketiga Mantir mendoakan agar menolak segala iri dengki.

Setelah sudah tiga kali dorongan yang dilakukan oleh Mantir, maka Mantir untuk yang terakhir kalinya mengait kapal/perahu yang digunakan mempelai laki-laki dengan menggunakan Rawayang sambil mendoakan agar mempelai laki-laki dalam menjalankan kehidupannya  mendapatkan tuah rejeki, umr panjang dan kebahagian hidup.

Sebelum mempelai laki-laki dan rombongan naik ketempat mempelai perempuan, maka Mantir melaksanakan upacara Manawur Pali yang bertujuan agar upacara perkawinan yang akan dilaksanakan tidak mendapatkan halangan dan gangguan . Setelah selesai Mantir Manawur Pali, maka mempelai laki-laki dan rombongan naik dan disambut denganolesan bedak dan minyak oleh pihak mempelai perempuan. Setelah selesai acara pengolesai bedak dan minyak, maka mempelai laki-laki dan rombongan disambut dengan Banjang (pantan), yang mana mantir dari pihak perempuan menanyakan maksud kedatangan rombongan dan dijawab oleh mantir mempelai laki-laki dan setelah selesai Tanya jawab maka mantir dari pihak laki-laki memotong Banjang (pantan) tersebut. Setelah Banjang(pantan) terpotong, pihak mempelai laki-laki dan rombongan dipersilahkan untuk menuju kedepan rumah, yang mana didepan rumah mempelai perempuan, mempelai laki-laki dibersihkan dengan acara Tampung Papas dan menginjak telur yang diletakkan diatas batu asa, setelah itu mempelai laki-laki baru dipersilahkan untuk masuk ke rumah tempat upacara perkawinan dilaksanakan dan beristirahat didalam kamar yang telah disiapkan yang terbuat dari dinding kain. Disaat mempelai laki-laki beristirahat mantir dari pihak laki-laki dan mantir dari pihak perempuan berunding tentang waktu dan persiapan untuk upacara Mamelek pada malam harinya.

Sebelum upacara Mamelek dilaksanakan maka diadakan Basarah (persembahyangan) bersama dan baru setelah selesai basarah dilanjutkan dengan upacara Ritual Mamelek. Adapun yang dipersiapkan dalam upacara Ritual Mamelek yaitu :

–         Mantir Pelek

–         Surat Nikah

–         Surat Pelaksanaan Mamelek

–         Surat Bukti Palaku

–         Surat Perjanjian Kawin

Adapun sarana dan prasaranan yang dipersiapkan dalam upacara ritual Mamelek yaitu :

–         Sangku 2 (dua) buah

–         Uang logam 21 (dua puluh satu) biji

–         Luang Panatup 4 (empat) orang

–         Sapatung Bendang 7 (tujuh) buah.

Setelah semua sarana dan prasarana telah dipersiapkan, maka dilanjutkan dengan upacara ritual Mamelek yang dipimpin oleh Mantir Pelek. Upacara ritual Mamelek adalah suatu upacara untuk menagih barang adat (palaku) dalam sebuah upacara perkawinan oleh mantir pihak perempuan  kepada pihak mempelai laki-laki. Adapun barang adat (palaku) yang ditagih yaitu :

–         Tutup Uwan ( Kain hitam)

–         Sinjang Entang (Kain Panjang/Bahalai)

–         Saput (Pakaian)

–         Lapik Ruji (Duit Ringgit)

–         Bulau Singah Pelek (Cincin kawin)

–         Rapin Tuak (Minuman)

–         Gatang Ijang Mantir (uang) dari kedua belah pihak

–         Akan Mantir Mangalakar (uang) dari kedua belah pihak sesuai kesepakatan.

Setelah upacara ritual Mamelek selesai, maka kedua mempelai keluar dari kamar dan disandingkan  diatas tikar dengan berpakaian adat, kemudian petugas mamalek (tukang luang) memasang lilies kepada kedua mempelai yang mana luang dari pihak perempuan memasang lilies untuk mempelai laki-laki dan luang dari pihak laki-laki memasang lilies untuk mempelai perempuan. Setelah selesai mengikat lilies, maka acara dilanjutkan dengan pembacaan surat kawin, surat pelek, surat nikah dan surat bukti palaku dan ditanda tangani oleh kedua mempelai dan dilanjutkan oleh ahli waris kedua mempelai, setelah selesai penanda tanganan maka selesailah upacara ritual Mamelek.

Keesokan harinya para Mantir menpersiapkan sarana dan prasarana untuk melaksanakan upacara mamalas penganten yaitu :

Lilis 14 buah (7 dari pihak laki-laki dan 7 dari pihak perempuan), Tikar, Gong, Dadinding, Lakar, Bahalai, Batu asa, Lunta, Rambat, Batang sawang, Kakamban, Rawayang, Sapatung uwei, Kelapa yang bertunas.

Semua peralatan tersebut diletakan ditengah-tengah tempat upacara mamalasa dilaksanakan. Setelah semua peralatan sudah siap , maka dilanjutkan dengan upacara Manawur Santang oleh Mantir. Adapun sarana yang dipersiapkan untuk Manawur Santang yaitu :

Beras tawur, 1 (satu) dulang makanan, Parapen, Tampung tawar, Undus (minyak).

Setelah selesai upacara Manawur Santang, maka kedua mempelai duduk diatas gong sambil memegang batang sawang dan kemudian para Matir yang berjumlah tujuh orangbergiliran mamalas penganten dan setelah selesai para Mantir mamalas penganten, maka kedua mempelai makan makanan yang telah disiapkan. Kemudian kedua mempelai disuruh berdiri dan tangannya diangkat keatas oleh Ketua Mejelis Resort/Kelompok Agama Hindu Kaharingan untuk acara pemberkatan penganten sambil menukiiy sebanyak 3 (tiga) kali.

Setelah selesai upacara Mamalas dan pemberkatan, kedua mempelai dipersilahkan keluar ke ruang tamu supaya dapat dilihat oleh para tamu yang diluar.

Selanjutnya kedua mempelai masuk kembali kekamar untuk menganti pakaian mereka dan setelah selesai menganti pakaian mereka , kedua mempelai kembali ke tempat upacara Mamalas dan duduk diatas kursi yang telah dipersiapkan. Dilanjutkan dengan Mantir lalu menyampaikan kepada kedua belah pihak yaitu :

  1. Mantir menyerahkan hasil tagihan luang berupa Rapin Tuak dari pihak perempuan dan diserahkan kepada pihak mempelai laki-laki selanjutnya diserahkan kembali kepada Mantir untuk membuka Tajau Tuak.
  2. Mantir menyerahkan penganten kepada ahli waris kedua belah pihak dan menyatakan tugas Mantir telah selesai untuk diserah terimakan kemudian dilanjutkan ahli waris pihak laki-laki menyerahkan penganten laki-laki  kepada ahli waris pihak perempuan.
    1. Mantir memberikan nasehat/tingak ajar kepada kedua mempelai.

Setelah Mantir memberikan nasehat selesai, selanjutnya ahli waris kedua mempelai kembali  menyerahkan kepada Mantir dan bertanya apakah masih ada sisa tentang tagihan luang. Dan dijawab oleh Mantir bahwa masih ada tentang tagihan luang yaitu :

–         Tajau Tuak sudah habis

–         Bulau kandung sudah habis

–         Yang belum adalah Mantir baundang-undang.

Mantir baundang-undang yaitu membaca surat kawin, sureat nikah, surat pelaksanaan mamelek dan Mantir langsung mangalakar dan menyampaikan bahwa semua angkos kawin sudah dipenuhi serta janji sangsi untuk mempelai bahwa bagi yang bersalah sampai mengakibatkan terjadinya perceraian, maka yang melakukan kesalahan akan membayar sesuai dengan apa yang tertuang didalam surat perjanjian kawin. Selanjutnya Mantir baundang-undang tentang tuntunan lawatan (memberitahukan kepada orang banyak)  yaitu Mantir menyampaikan tentang pnyerahan oleh orang rumah dan jumlah bantuan yang diberikan oleh orang kampung.

Setelah selesai acara Mantir baundang-undang, maka selesailah seluruh proses upacara ritual perkawinan.

  1. D. PALI

Dalam pelaksanaan upacara ritual perkawinan bagi umat Hindu Kaharingan, maka setelah proses upacara ritual perkawinan selesai,  untuk kedua mempelai wajib melaksanakan Pali/Pantangan. Adapun tanda bagi yang melaksanakan Mamali dalam upacara perkawinan yaitu daun sawang yang berjumlah 7 (tujuh) lembar diangkat  dan dipasang didapan pintu rumah selama 7 hari 7 malam untuk melaksanakan Pali tersebut. Adapun pali/pantangan tersebut yaitu :

–         Tidak boleh ada pertengkaran/perkelahian. Bagi yang melakukan pertengkaran/perkelahian dirumah yang mamali , maka yang bersangkutan harus mengadakan kembali upacara perkawinan bagi kedua mempelai.

–         Orang yang datang dari tempat kematian/melahirkan, sebelum masuk rumah harus dibersihkan terlebih dahulu dengan tampung papas.

–         Tidak boleh pergi bertamu.

Setelah selesai melaksanakan Pali selama 7 hari 7 malam, maka kedua mempelai melepaskan lilies dan pali / pantangan telah selesai dan kedua mempelai wajib melaksanakan untuk berangkat berusaha /bekerja selama 7 hari  7 malam  pula.

Setelah selesai melaksanakan pergi berusaha selama 7 hari 7 malam maka selesailah seluruh rangkaian upacara perkawinan bagi kedua mempelai.

III. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dalam tulisan ini adalah :

  1. Upacara ritual perkawinanmenurut agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan Kecamatan Karau Kuala Desa Talio terdapat 3 (tiga) jenis Upacara Ritual Perkawinan yaitu  Kawin Hisek, Kawin Lari, Mandai Balai Sumbang.
  2. Sarana dan prasarana yang dipakai dalam upacara Ritual Perkawinan tersebut yaitu Sangku, Rawayang, Amak/Tikar, Dadinding, Lilis, Bahalai, Batu Asa, Lakar, Lunta/Jaring, Rambat, Ssawang, Kakamban, Telur dan Buah Kelapa yang Bertunas.
  3. Proses Pelaksanaan Upacara Ritual Perkawinan yaitu melalui proses :

a. Besi Kurik

b. Hisek

c. Upacara Perkawinan

d. Pali.

DAFTAR PUSTAKA

Anak Agung Gde Oka Netra, Drs, 1984. Tuntunan Dasar Agama Hindu,

G. Pudja MA, 2002, Manawa Dharma Sastra, CV. Felita Nursatama Lestari, Jakarta.

Hadikusuma, Hilman, 1977, Hukum Perkawinan Adat, Alumni, Bandung,

MB-AHK, 2001, Panaturan, Palangka Raya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: