Januari 6, 2010 at 6:47 am (Artikel, Karya Ilmiah, Uncategorized)

Habukung Dalam Upacara Kematian

Di Kecamatan Mentaya Hulu Kabupaten Kotim

Oleh : Pranata

Dalam suatu upacara kematian di kecamatan Mentaya Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur dikenal suatu acara yang disebut dengan Habukung. Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh-tokoh agama Hindu Kaharingan mengenai latar belakang diadakannya Upacara Ritual Habukung yaitu  berawal dari suatu legenda pada zaman dahulu kala pada sebuah dusun atau pemukiman yang terdiri dari 7 (tujuh) buah rumah, terjadilah suatu peristiwa yang menimpa seorang pemuda dusun tersebut yang baru saja membina rumah tangga kurang lebih berjalan 1 (satu) tahun. Pada hari itu terjadilah suatu musibah yang tidak disangka-sangka, istrinya yang sedang menggandung sekitar 7 bulan , tiba-tiba meninggal dunia. Karena  istrinya meninggal dunia tersebut, sang suami sangat bersedih sekali dan selalu menangis sambil memeluk mayat istrinya. Dan selama itu juga sang suami tidak mau makan dan berbicara dengan siapa pun. Orang tua dan pihak keluarga pemuda tersebut selalu berupaya untuk menesehati pemuda tersebut  agar mayat istrinya segera dimakamkan, tetapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pemuda tersebut dan ia pun tetap berbaring sambil memeluk mayat istrinya.

Pihak keluarga mulai gelisah guna mencari jalan keluar untuk membujuk sang pemuda tersebut agar mau memakamkan istrinya, dan kurang lebih berjalan 15 (lima belas) hari, pada suatu malam ayah sang pemuda bermimpi  bertemu seseorang dan orang tersebut berkata kami akan menolong bapak untuk menghibur anak bapak yang ditinggalkan istrinya dengan cara berangsur – angsur dan beritahu kepada penduduk lainnya jangat takut atas kedatangan kami yang aneh-aneh. Setelah terbangun pada pagi harinya, maka sang ayah segera bangun untuk memberitahukan mimpi tersebut kepada warga setempat.

Pada malam harinya sekitar pukul 21.00, terdengarlah suara gemuruh  dan derap-derap kaki dan diselingi suara musik gong dan lainya, kemudian muncullah orang banyak sekali memakai suatu topeng yang terbuat dari kayu Palawi. Topeng inilah yang disebut dengan Bukung. Sambil membunyikan alat-alat musik dan disertai dengan berbagai macam tarian sambil membunyikan bamboo yang dibuat sedemikian rupa yang disebut dengan “Selekap”. Tarian tersebut dibuat dengan gaya yang lucu-lucu sehingga membuat orang yang melihat terhibur dan tertawa-tawa.

Begitulah bukung tersebut datang setiap malam, sehingga sang pemuda yang istrinya meninggal tersebut berangsur-angsur membaik sudah mau makan dan berbicara dengan orang lain.

Bukung – bukung itu datang setiap malam sambil membawa uang, barang- barang lainya yang akan disumbangkan kepada keluarga yang mengalami musibah menginggal dunia tersebut. Hal ini berlangsung selama beberapa malam, sehingga bermacam-macam  bentuk dan pakaian yang dipakai serta da yang membungkus dirinya dengan rumput, daun pisang dan lain-lain. Selama beberapa malan tersebut setelah adanya bukung tersebut, maka banyak sekali barang-barang sumbangan yang diberikan menumpuk  seperti beras, gula, kopi, ayam, babi dan lainnya.

Selanjutnya pada suatu malam pihak keluarga sang pemuda memyampaikan kepada pemuda yang istrinya meninggal dunia rencana untuk memakamkan istrinya. Hasilnya sang suami setuju untuk memakamkan istrinya sampai pada ketentuan bahwa keluarga harus menyiapkan biaya untuk pelaksanaan penguburan dengan bantuan bukung tadi (biaya yang sudah ada). Menyelang hari pelaksanaan pemakaman bukung berjalan terus tiap malam tanpa henti. Tepat pada hari pemakaman, bukung terus diadakan sampai peti jenasah (raung) dibawa ke liang lahat (dikuburkan). Dan bukung yang terakhir ikut mengangkat dan membawa peti jenasah ke kuburan, bukung yang ikut mengangkat peti jenasah tersebut yaitu bukung kinyak atau bukung belang.

Berdasarkan dari legenda/mitos itulah maka bagi pemeluk agama Hindu Kaharingan di kecamatan Mentaya Hulu kabupaten Kotawaringin Timur selalu melaksanakan Habukung setiap ada keluarga yang meninggal dunia.

Permalink 2 Komentar

PILOSOFIS PERKAWINAN NYAI ENDAS BULAU LISAN TINGANG DENGAN RAJA GARING HATUNGKU MENURUT AGAMA HINDU KAHARINGAN

Oktober 29, 2009 at 4:14 pm (Artikel, Karya Ilmiah)

PILOSOFIS PERKAWINAN NYAI ENDAS BULAU LISAN TINGANG DENGAN RAJA GARING HATUNGKU

MENURUT AGAMA HINDU KAHARINGAN

Oleh

Pranata

Menurut ajaran Agama Hindu Kaharingan upacara perkawinan adalah suci  dan harus dilaksanakan oleh setiap pasangan yang akan hidup berumah tangga yang mempunyai kesadaran tentang tanggung jawab  sebagai suami dan istri dan yang paling penting adalah bagaimana suami istri tersebut mempu mengedepankan ajaran agama. Hal ini seperti yang tertuang dalam Kitab Suci Panaturan Pasal 19 ayat 3 yaitu :      Ewen due puna palus lunuk hakaja panting baringen hatamuei bumbung, awi ewen sintung due dapit jeha ije manak manarantang hatamunan aku huang pantai danum kalunen ije puna ingahandak  awi – Ku tuntang talatah panggawi manjadi suntu akan pantai danum kalunen. selanjutnya adalah tentang makna perkawinan  Nyai endas Bulau Lisan Tingang dan Raja Garing Hartungku sebagaimana yang tertuang dalam pasal 30 ini menuturkan tentang anak dari Raja Tantaulang Bulau yaitu Nyai Endas Bulau Lisan Tingang yang kesohoran kecantikannya yang sampai juga kepada Raja Uju Hakanduang. Lalu mereka berpikir bahwa hanya Garing Hatungku yang mampu mencari semua yang diminta oleh Nyai Endas Bulau Lisan Tingang. Setelah itu Raja Uju Hakanduang turun menuju Bukit Batu Nindan Tarung menyerahkan alat-alat hakumbang Auh. Setelah semuanya sudah dimufakatkan dan waktu pelaksanaan sudah ditetapkan, maka Raja Uju Hakanduang pulang kembali menuju tahta kemuliaannya. Mendekati waktu yang telah dimufakatkan pada saat upacara meminang maka Raja Uju Hakanduang datang lagi untuk menanggar janji waktu pelaksanaan perkawinan. Sudah tiba saatnya mereka akan melasanakan upacara perkawinan, maka Raja Uju Hakanduang memberitahukan terlebih dahulu tentang keberangkatan mereka kepada Ranying Hatalla Langit. Kemudian Ranying Hatalla Langit berfirman. “ Laksanakan oleh kalian upacara untuk Raja Garing Hatungku, disana kalian mamelek sinde uju dan nanti aku akan datang pada upacara itu, karena mereka berdua berjanji dihadapanku “. Setelah upacara dilaksanakan maka diadakan acara Haluang Hapelek yaitu disebut pelek Rujin pengawin semua pelek pengawin seperti yang diucapkan yaitu :

-               Kalata Padadukan

-                Duhung Tejepan Pandung

-               Rabayang Kawit Kalakai

-               Gundi Lumpang Tusu

-               Gahuri nutup sangku

-               Tabasah Sinjang Entang

-               Ehet Peteng Sabangkang, Pisau Pantun Sabangkang.

Pelek Rujin pangawin inilah yang menjadi contoh dari Ranying Hatalla Langit untuk manusia turunan Raja Bunu. Dan pelek kawin inilah yang menjadi awal perempuan ada jalan hadatnya atau ada mas kawinnya. Setelah semua selesai Raja Uju Hakanduang berpesan kepada Raja Garing Hatungku agar melaksanakan pantangan selama tujuh hari tujuh malam. Setelah berakhir masa pantangan, Nyai Endas Bulau Lisan Tingang merasa kurang senang kepada suaminya, karena mas kawinnya belum dilengkapi oleh suaminya, yaitu Banama Bulau Pahalendang Tanjung, Anjung Rabia Pahalingei Luwuk dan Bukit Lampayung Nyahu, dan berkata pula Nyai Endas Bulau Lisan Tingang, kalau engkau suamiku mampu mendapat semua permintaanku demikian pula manusia nantinya mampu memeliharanya, maka mereka akan dapat hidup sampai selama-lamanya.

Berdasarkan permintaan dari Nyai Endas Bulau Lisan Tingang tersebut, maka dimplikasikan dalam kehidupan umat manusia di Pantai Danum Kalunen ini, maka permintaan tersebut berwujud Peti Jenazah dimana hal ini melambangkan bahwa perkawinan ini nantinya tidak akan terpisahkan oleh apapun kecuali kematianlah yang memisahkan, dan Mampu memberikan anak keturunan yang berbudi pekerti luhur dan gagah berani.

Bila Raja Garing Hatungku berangkat yang dibekali oleh istrinya tujuh ruas bambu lamiang, sebuah rambat Behong uang Aeng , Sirat Tatai Hatuen Nyaring. Dan tibalah ia disebelah Bukit yang berada di Kokosongan alam luas, dan disana terdapat sebuah pohon kayu diatasnya yaitu Kayu Erang Tingang , Bulus Andung Nyahu. Dari atas puncak Kayu Erang Tingang, Bulus Andung Nyahu tersebut, terlihatlah Bukit Bulau Lampayung Nyahu dan Banama Bulau Pahalendang Tanjung, Anjung Rabia Pahalingei Luwuk. Lalu Raja Garing Hatungku bersabda dalam kekuasaannya kekuatan dan penciptaannya, menghimpun semua yang diminta istrinya dan dimasukan didalam supu Bulau , supu hintan, yang telah menyatu dengan Nyalung Kaharingan Belum. Setelah Raja Garing Hatungku mengucapkan pujian suci Tukiii tingang lalu terlepas Luhing Salengkat lawungnya dan berubah menjadi Kuwung Bulau Sangkalemu. Setelah itu putus lagi Ulai Telun Penyangnya dan berubah menjadi Darung hanjaliwan, selanjutnya lepas pula panatau penyang karuhei dan berubah menjadi burung kangkang Bulau Sangkalemu . Setelah satu ruas bambu lamiang langsung kejadian menjadi Depung Bulau Sangkalemu . Dan rambat Behong Uang Aeng berubah pula menjadi Bajang Kalingkai Lawung, selanjutnya Bajang Kalengkai Lawung kembali berubah menjadi Karangking Penyang Karuhei tatau. Berasal dari kejadian ini , dalam kehidupan manusia apabila pada saat bertandang, pergi jauh atau melaksanakan perkawinan terdapat Duhung Bajang, Kuwung, Hanjaliwan, Depung, Kangkang, maka mereka harus melaksanakan secara khusus kurban suci kepada Dahiang menuju Raja Garing Hatungku. Lalu Raja Garing Hatungku pulang menemui istrinya dan menyerahkan pelaku istrinya yang benda didalamnya supu Bulau, supu intan yang mengandung Nyalung Kaharingan Belum. Sejak saat itu hubungan mereka sangat baik dan dipelihara bersama untuk selama-lamanya.

 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KITAB SUCI HINDU KAHARINGAN

Oktober 29, 2009 at 4:10 pm (Artikel, Karya Ilmiah)

KITAB SUCI AGAMA HINDU KAHARINGAN

 

Oleh

Pranata

Didalam perkembangannya, Agama Hindu Kaharingan  berusaha untuk  mampu mensejajarkan dirinya dengan agama-agama lain dibumi ini, sebagai sebuah agama, Agama Hindu Kaharingan memiliki suatu pedoman yang menjadi dasar pegangan bagi umatnya  “ Hindu Kaharingan “ Didalam menjalankan kehidupannya yang percaya terhadap     “ RANYING HATALLA LANGIT “   yaitu sebuah kitab suci Panaturan.  Sebagai Kitab Suci PANATURAN, maka didalamnya terdapat kandungan-kandungan tentang nilai-nilai keagamaan yang menjadi pegangan hidup bagi penganutnya, seperti juga yang dimiliki agama-agama lain  “ Alquran oleh Agama Islam, Alkitab oleh Kristen dan lain-lain.

Kitab Suci Panaturan ini memuat tentang pedoman, ajaran, nilai agama Hindu Kaharingan mulai dari proses penciptaaan alam semesta dengan segala isinya sampai kepada  ajaran didalam kehidupan umat manusia hingga penyatuan kembali kepada pencipta Ranying Hatalla Langit. Nilai-nilai atau pedoman-pedoman yang terkandung didalam Kitab Suci Panaturan inilah yang harus selalu dihayati dan diamalkan oleh umat Hindu Kaharingan, sehingga mereka mampu menjadi manusia yang berSradha dan Bakti didalam melaksanakan kewajiban didunia ini.

Kitab Suci Panaturan berasal dari bahasa Sangiang yaitu “ Naturan “ yang artinya menuturkan atau mensilsilahkan (materi Pokok Bahasa Sangiang . 1996 ;15). Yang kemudian mendapatkan awalan Pa sehingga menjadi “ PANATURAN “ yang artinya Kitab Suci yang menuturkan atau mensilsilahkan tentang penciptaan alam semesta beserta isinya, dan fungsi bagi umat manusia yang merupakan wahyu Ranying Hatalla Langit yang diyakini oleh seluruh umat Hindu Kaharingan.

Penaturan berasal dari Bahasa Sangiang yaitu kata “NATURAN” yang artinya menuturkan / mensilsilahkan.

( Materi pokok Bahasa Sangiang , 1996; 15 ).

Yang  mendapatkan awalan Pa, maka menjadi kata “PANATURAN” yang berarti Kitab Suci yang menuturkan / mensilsilahkan tentang proses penciptaan alam semesta beserta isinya, para malekat dan fungsinya bagi umat manusia, tata aturan dikehidupan manusia serta tata cara ritual umat Hindu Kaharingan.

Panaturan adalah memuat tentang ajaran-ajaran, norma- norma didalam agama Hindu Kaharingan yang memuat tentang wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang oleh umat Hindu Kaharingan disebut dengan Ranying Hatalla Langit Tuhan Tambing Kabanteran Bulan Raja Tuntung Matan Andau  Jatha Balawang Bulau Kanaruhan Bapager Hintan.

( Panaturan, 2001; 7 ).

Hal ini dapat kita lihat dari ayat Tawur yang berbunyi “ Balang Bitim Jadi Isi Hamtampuli Balitan Jadi Daha Dia Balang Bitim Injam Akan Tuntung Luang Rawei , Uluh Pantai Danum Kalunen Nalatai Tisui Luwuk Kampungan Bunu Dengan Ranying Hatalla , Sahur Parapah Baratuyang Hawun”

( Panaturan, 2001; 7 ).

Kitab Suci Panaturan diyakini dan sebagai pedoman hidup oleh umat Hindu Kaharingan merupakan sumber ajaran , bimbingan, dan tauladan yang sangat diperlukan didalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Kitab Suci Panaturan yang merupakan wahyu dari Ranying Hatalla Langit yang mengandung ajaran atau pedoman hidup didunia ini dan diakhirat nanti merupakan penuntun tindakan umat Hindu Kaharingan sejak ia dilahirkan sampai kepada ia kembali kepada Ranying Hatalla Langit. Ajaran atau pedoman yang tertulis didalam Kitab Suci Panaturan tidak hanya terbatas sebagai tuntunan hidup individual melainkan juga sebagai tuntunan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.       Ajaran yang tertulis didalam Kitab Suci tersebut diwahyukan oleh Ranying Hatalla Langit dan diterima oleh para Basir ( Ulama umat Hindu Kaharingan ) dan disampaikan secara lisan didalam segala kegiatan ritual agama Hindu Kaharingan.

Didalam Kitab Suci Panaturan  yang dikeluarkan oleh Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan ( MB-AHK ) cetakan tahun 2001 memuat 63 pasal yang terdiri dari 2951 ayat.

Permalink 2 Komentar

PERKAWINAN AGAMA HINDU KAHARINGAN

September 18, 2009 at 2:25 pm (Artikel, Karya Ilmiah)

PERKAWINAN MENURUT AGAMA HINDU KAHARINGAN

Oleh

Pranata

A. HAKUMBANG AUH

Hakumbang Auh adalah proses awal dari suatu hubungan bagi proses suatu perkawinan yaitu dari pihak laki-laki memberikan uang (tanda bahwa dari pihak laki-laki menginginkan seorang perempuan) kepada pihak perempuan, yang mana uang tersebut nantinya digunakan oleh pihak pihak perempuan untuk mengumpulkan seluruh keluarganya dan menceritakan maksud dari uang tersebut bahwa ada pihak laki-laki menginginkan anak perempuannya untuk dijadikan istri. Apakah uang tersebut dapat diterima atau ditolak. Setelah hasil kesepakatan keluarga pihak perempuan dapat menerima uang tersebut, maka pihak keluarga perempuan mengirim pesan kepada pihak keluarga laki-laki bahwa uang tersebut dapat diterima dan mengharapkan kehadiran keluarga pihak laki-laki untuk membicarakan kelanjutan dari maksud mereka tersebut sekaligus untuk membicarakan jalan hadat yang digunakan. Setelah kabar diterima oleh keluarga pihak laki-laki, kemudian dari pihak keluarga laki-laki kembali mengunpulkan seluruh keluarganya menceritakan bahwa uang yang diberikan mereka dapat diterima dan kita diharapkan untuk mendatangi mereka untuk merencanakan kelajutan dari rencana tersebut serta sama-sama merundingkan tentang jalan hadat. Setelah seluruh keluarga mengetahui semua , maka mereka lalu merencanakan untuk berangkat misek (Meminang).

B. MAJA MISEK (MAMANGGUL)

Maja Misek /Mamanggul adalah suatu kelanjutan dari Hakumbang Auh yaitu selain untuk meminang serta untuk sama-sama merencanakan kelanjutan dari rencana perkawinan serta sama-sama merundingkan tentang jalan hadat yang akan dilaksanakan pada saat perkawinan nantinya.

Setelah dari pihak laki-laki semua sepakat untuk berangkat Misek (meminang, maka dari pihak keluarga laki-laki menyiapkan Garantung (Gong) satu buah, Lilis Lamiang satu buah, kain pakaian selengkapnya. Setelah semua siap maka mereka berangkat menuju ketempat pihak perempuan . Setelah sampai ditempat pihak perempuan, mereka disambut  oleh pihak perempuan yang mana dirumah tersebut juga berkumpul keluarga dari pihak perempuan untuk bersama-sama merundingkan rencana perkawinan tersebut. Dihadapan seluruh keluarga baik dari pihak laki-laki dan pihak perempuan, ayah dari pihak pihak perempuan menguraikan tentang seluruh jalan hadat yang akan digunakan, serta menentukan lamanya waktu perkawinan serta kedua pihak sepakat menekan kontrak janji peminangan (hisek) . setelah semua selesai mereka semua pulang ketempatnya masing-masing  dan kedua orang tua pihak laki-laki setelah sampai dirumahnya mengikat lilis lamiang kepada anak laki-lakinya dan mambuwur behas hambaruan serta menceritakan lamanya janji perkawinan.

C. MANANGGAR JANJI

Mananggar Janji adalah penegasan waktu dan tempat pelaksanaan perkawinan. Dimana orang tua dari pihak perempuan datang kerumah pihak laki-laki guna mananggar janji serta untuk menagih Rapin Tuak. Setelah kedua belah pihak sepakat tentang tanggal pelaksanaan maka orang tua pihak laki-laki memberikan biaya kepada orang tua pihak perempuan untuk biaya Panginan jandau (Biaya makanan untuk resepsi) serta biaya untuk membelikan tempat tidur penganten sesuai dengan jumlah yang telah disepakati pada saat Maja Hisek.

D. PELAKSANAAN PERKAWINAN

Sehari sebelum hari/tanggal  perkawinan dilaksanakan, maka orang tua pihak laki-laki menyembelih satu ekor ayam untuk manyaki Rambat anaknya yang akan segera melangsungkan perkawinannya, serta sekaligus menyiapkan Rambat, Sipet, Uei ije kadereh (rotan) , rotan tersebut diukur sepanjang satu depa, satu hasa, satu kilan dan tiga jari selanjutnya dibuatkan ukiran patung pada ujungnya. Dari hari manyaki rambat tersebut dari hari tersebut maka sang laki-laki disebut dengan Penganten serta diikatkan lilies lamiang.dan dari hari itu penganten laki-laki tidak boleh keluar rumah sampai pada hari ia berangkat menuju ketempat penganten perempuan.

Pagi harinya maka orang tua pihak penganten laki-laki kembali menyembelih dua atau tiga ekor ayam serta mengundang orang banyak supaya ikut mengantar anak berangkat kawin. (Panganten Mandai) Setelah semua orang kumpul dan menyantap makanan yang telah disediakan serta penganten laki-laki sudah siap dengan pakaiannya maka penganten laki-laki istirahat sebentar, setelah sudah siap maka penganten laki-laki sebelum keluar rumah maka ia berdiri sambil memegang sebatang rotan memakai tangan sebelah kanan dan didampingi  oleh satu orang untuk memegang payung, satu orang membawakan Rambat dan memegang Sipet serta satu orang lagi membawakan tas pakaian penganten laki-laki tersebut. Didalam Rambat yang dibawa dimasukan pakaian untuk penganten laki-laki sebagai ganti pakaiannya, isin baliung, Salipi behas  dan tanteluh manuk. Setelah semua siap barulah penganten laki-laki berangkat menuju ketempat penganten perempuan.

Sampai ditempat penganten perempuan, didepan rumah penganten perempuan pihak penganten laki-laki disambut dengan Lawang Sekepeng yaitu masing-masing dari kedua belah pihak penganten sama-sama mengadakan seni pencak silat untuk membuka Lawang Sekepeng tersebut dengan diiringi tetabuhan gendang dan gong. Setelah Lawang Sekepeng terbuka maka penganten laki-laki berjalan masuk dimana sampai didepan rumah penganten laki-laki dipapas oleh pihak penganten perempuan yaitu mamapas membuang sial, dahiang, dan segala jenis pali setelah itu penganten laki-laki menginjak sebutir telur yang diletakan di atas batu asa.setelah itu baru penganten laki-laki masuk rumah yang disambut oleh calon mertuanya dan penganten laki-laki beristirahat menganti pakaiannya.

Hari itu juga orang tua penganten perempuan menyiapkan satu ekor babi kecil untuk memberikan makanan Pali, dimana langsung membuat sebuah rumah kecil, ketupat empat belas buah, tambak dan hambaruan satu buah, tekang hambaruan basir yang menawur pali, lamiang satu pucuk dan satu buah baliung untuk digigit. Manawur pali ini dimaksudkan agar penguasa pali dimana sifat – sifat buruk dari pali jangan menganggu upacara perkawinan serta jangan mengganggu kehidupan kedua mempelai dalam berumah tangga.

Pada upacara Manawur Pali, Basir          yang melaksanakan Manawur Pali berdiri menghadap Pasah Bantanan (rumah kecil) yang sudah di isi berbagai macam makanan , tambak, sipa ruku serta berdiri sambil menginjak Baliung yang sudah di gigit.

Pada malam harinya, orang tua penganten perempuan menyiapkan Sangku yang di isi beras, Hampatung Tabalien Hampatung Pelek (ukiran patung dari kayu besi), uang logam/perak disusun keliling Sangku, telur ayam kampong, lilies lamiang didirikan di atas beras , botol undus (minyak kelapa), Tampung Tawar, Parepen (tempat menyimpan bara api) untuk garu manyan.

Setelah itu Amak Pasar (tikar pasar), di paparkan di tengah-tengah rumah, serta diberikan pembatas kain panjang untuk membatasi ruangan rumah, ayam di potong satu ekor   untuk saki pelek (manyaki panganten).

Selanjuntya orang tua penganten perempuan menyiapkan satu orang tua sebagai Mantir Mamelek (orang yang bisa mamelek), ditambah dengan tukang luang (yang membantu pelaksanaan mamelek) sebanyak tiga orang.

Mereka berempat ini menjadi mantir pelek dan luang telu inyaki awi ayah penganten perempuan serta diikatkan tekang hambaruae (biasanya diikatkan uang dengan kain).

Selanjutnya orang tua dari pihak penganten laki-laki juga menyiapkan  satu buah lamiang, telur ayam kampong satu buah,  baliung , kain hitam akan tutup uwan, bahalai sinjang entang (kain panjang), benang lapik luang (kain panjang), Salipin behas , Pingan Pananan serta seluruh jalan hadat yang telah disepakati bersama, serta menyiapkan satu orang tua sebagai Mantir Manyambut, orang tua tersebut inyaki malas dan diikatkan tekang hambaruae.

Setelah itu Mantir Mamelek dan Mantir manyambut berdialog melalui perantara luang telu (luang tiga) . seteleh dialog tersebut mencapai suatu kesepakatan, maka ditambah lagi dua orang luang karundi. Setelah menambah luang Karundi tersebut , maka dinding pembatas di buka, dari pihak penganten perempuan mengeluarkan Sangku Pelek, dilanjutkan Mantir Pelek Manyaki semua peralatan Haluang Hapelek.

Isi yang disampaikan oleh Mantir Pelek dalam Manyaki peralatan Mamelek :

  1. Nyakiku purun ije indu lapik haluang hapelek tuh mangat lampang darem tuh ria-riak kilau riak hendan bulau hadare tuah rajaki akan anu ……………..(nama panganten berdua), ewen dua ije matuh kabalumae belum mangun batang panjang huma hai parataran lumbah.
  2. Nyakiku ikau tuh jarati lapik sangku mangat pambelum anu ………………(nama Panganten berdua) ewen due tege kea lapik halapik tuah rajaki untung panjang. Nyakiku ikau Sangkun Pelek bara likut sampai baun, nampara andau alem tuh ewen due tuh mambelum arep mangat sanang mangat , nyambau naharep katatau kasungah.
  3. Nyakiku behas timbuk pelek kilau behas tuh ije nangalan ije supak ije gantang ; tau narantang pulu, kalute kea ampi tuah rajaki ewen due tuh mambelum arep. Nyakiku tinai duit karambang pambelum pelek , mangat ikau tuh akan ngarambang pambelum anu ……………….  ( nama penganten berdua) ewen ndue basa duit tuh ije puna batang pambelum ulun kalunen akan panatau panuhan.
  4. Nyakiku lamiang turus pelek kilau lamiang ije dia tau hubah handing kalute kea ampin itung huang anu ………..(nama penganten berdua), ewen ndue umba kulae. Nyakiku bulau Singah Pelek manggat ikau tuh akan singah pambelum anu ………..(nama mereka berdua) ewen due basa ikau tuh aluh hatampulu nanak mapui nyuhu-nyuhu kahalap dia tau ubah dia tau rusak. Kalute kea ampin pambelum anu …………. (nama mereka berdua) ewen ndue tuh.
  5. Nyakiku Tanteluh manuk, mangat manjadi auhku ije nanggare aram SARUNGKUL SABUNGKAL hapa mungkal tuah rajakin untung anu ……………….(nama penganten berdua), ewen ndue tuh mangat menjadi ije . Nyakiku Bendang Bulau Sangkalemu hapa ikei melek mampah kare rujin palaku bili palus panatau panuhan akan anu …………… (nama penganten berdua) ewen ndue tuh. Kalute kea tabalien hampatung pelek, mangat malabien tarung sewut anu …………………(nama penganten berdua) , ewen ndue tuh kareh mambelum arep.
  6. Nyakiku minyak Bangkang Haselan Tingang Uring Katilambung Nyahu, ije belum gantung-gantung indu tihang lewu pulu, gantung kea tuah rajakin anu …………..(nama penganten berdua) ewen ndue tuh belum . Tampung tawar ije asal bara sadap saribu kambang kayun karuhei ije mangambang tuah rajaki bateras penyang karuhei tatau.

Setelah selesai acara Manyaki peralatan Mamelek , maka dilanjutkan dengan acara Haluang Hapelek yaitu di mulai dengan Mantir Pelek memulai dengan

Pelek Sinde Uju yaitu :

I. LIME SARAHAN

  1. HATALLA KATAMPARAN
  2. LANGIT KATAMBUAN
  3. PETAK TAPAJAKAN
  4. NYALUNG KAPANDUYAN
  5. KALATA PADADUKAN

II.  DUHUNG TAJEPAN PANDUNG

III. RABAYANG KAWIT KALAKAI

IV. GUNDI LUMPANG TUSU

  1. GAHURI NUTUP SANGKU
  2. TABASAH SINJANG ENTANG
  3. EHET PETENG SABANGKANG PISAU PATUN SABANGKANG

Dilanjutkan kemudian dengan Pelek Handue Uju yaitu :

1    .   MANUK SAKIN PELEK

2    .   JARATI LAPIK SANGKU

3    .   BEHAS TIMBUK PELEK

4    .   LAMIANG TURUS PELEK

5    .   BULAU SINGAH PELEK

6    .   DUIT KARAMBANG PELEK

7    .   GARANTUNG KULUK PELEK

8    .   PINGAN PANANAN PAHANJEAN KUMAN

9    .   TIMBUK TANGGA

10. RAPIN TUAK

11. TUTUP UWAN

12. BULAU KANDUNG

13. SINJANG ENTANG/LAPIK LUANG

14. SAPUT/PAKAIAN

15. PALAKU

Barang-barang inilah yang pada acara Haluang Hapelek di serahkan oleh  pihak penganten laki-laki kepada pihak perempuan melalui para luang. Setelah itu dilanjutkan dengan Pelek Hantelu Uju Yaitu :

  1. Arut papan epat, jala ije kabanggunan, tege 2 biti pambujang hatue ije kamburi ije haluan mambesei ie
  2. Haguet bara batang mahalau lawang labehun Jata Pukung Pahewan Antang, te tege Kadandang Kajang Labehun bulau Singah Labehu
  3. Ie sampai lewun empue palus tende intu batang panjang salawi lime. Manggar tampajat malaseh tabalien , tege kamar mandui intu kamburie.
  4. Ije tege intu batang tea rut kurik hai sukup besei teken kalabie tege rahai sarat puat dagang dagangan laut batang jete akan dinding mandui
  5. Palus ie lumpat manetei hejan tabalien lampat saratus uju puluh uju kalampat. Amun danum teah te lampang saratus leteng uju puluh uju kalampat. Amun danum handalem leteng saratus lampang uju puluh uju kalampat.
  6. Sampai hunjun tiwing te ie mite parantaran lumbah hayak bujur tiring akan ngaju ngawa
  7. Intu saran parantaran te tege balai , ije sukup puate kare ramun malauk mambilis. Puket rengge haup hantai salambau pangalau pisi taut harus rawei, embang saluang buwu tali sauk sahar tampirai buwu humbang. Intu panda balai te ganggulang eka manasal, hayak sukup tasal tasalan baputan bawin tasal hayak tege due biti pambujang hatue tukang tasal intu hete
  8. Ie palus mananjung manuju huma empue, sampai palataran tabalien , ie manetei palataran tabalien te ije tambing jahawen tuntung jalatien;
  9. Bara benteng palatar te ie nampayah akan hila ngaju taragitae pukung bua jambu nagka paken dahuyan sungkup rihat, uras kanjera mamua masak sangkelang.

10.  Nampayah tinai akan hila ngawa taragitae pukung pinang enyuh derem sinde kanjera mamua laba sangkelang batue mangur.

11.  Intu hila ngawa human empue tege lepau hai ije muat uju karangking parei uju karangking pulut, uju lusuk jelei uju lusuk jahe, intu panda lepau te tege karambang manuk, karambang itik, karambang gasa, intu balikat tege sarangan burung dara . ije 40 pehuk dan 40 jagau karehu nateluh manak.

12.  Hila ngambu lepau te atun pasha lisung intu hete sukup lisung halu kiap halap amak kalaya dan tege due biti pambujang bawi urai-urai balau tukang tepe. Intu panda pasah lisung te tege karambang bawui , bawui hai sumet upun hambie , ije nyarangan naming upun pinding napis uang panda ijang bawui te tege cagat impatei awi empue hapa manyaki mamalas ie.

13.  Nasmpayah tinai akan likut huma empue , taragite kawan sapi hadangan kambing tabir marindem sinde awi kare 40 hatue 40 bawie uras karehu manak batihi

14.  Nampayah tinai human empue , huma hai jalatien ruang , jihi tabalien , laseh tabalien, dinding tabalien , marawung tambaga nyampiang salaka.

15.  Sampai bapatah batu susun uju tinjak telu , hete tege nyadia awi empue pinggan tapak penyau paie bakam batu akan senduk

16.  Ie palus lumapt manetei mandai tangga hete tinai nyadia awi empue bulau singah pakang lamiang tukang sapau manuk ije kungan tatukan sial.

17.  Ie sampai huang huma , ie mite puat hum ate sukup macam panatau, Hatuen balanga 40, hatuen halamaung 40, hatuen barahan 40, hatuen rantian 40, balanga rempah 40, bawin halamaung 40, bawin barahan 40, basir hewah 40, rumus 40, repang garantung kaliling huma, rarehan garing bara dereh, tampung lamiang bara gayung, bantilan timpung pati tabala raja tambuk tanduk galungan penyang, kalabie ramu anak ije salun.

18.  Ie sampai ruang bentuk hete ie mite sukup paramun hapa manjawet njabeta langgei simbel, bilap tantawa, jarenang bahalap handing, kalabie pilus ije sulep betung.

19.  Ie sampai huma dapur ie mite sukup kenceng ketel rinjing landai piring mangkuk senduk kaluir kawu dampuhan kayu lawas haran danum. Balanai siam 40, lalang rangkang 40, bongkong 40, gahuri 40, uras nyuang behas parei kurik bawak. Limbah te lakang asu 40, lakang pusa 40 , kanjera manak batihi. Tege tinai due biti pambujang bawi panjang balau tukang barapi manjuhu.

20.  Mules tinai jalanae maname karung garing lawang tambarirang ije nyadia awi empue eka menter batiruh, hete ie mite purun pararani sadia birang, ranjang gantung-gantung, tilam bagander purun dare lapik hunjue, jangkut sutra tabir aer busi bantal gaguling malang , baun ranjang te tege saramin hai hete tukep saramin te sindur sarak minyak mamburih undussandu taheta tanak. Limbah te tege pinggan tatar matan andau eka kuman garantung sarabun eka munduk, balanga eka basandar

21.  empue mampatei bawui hai sumet upun hambie hapa manyaki mamalas ie. Lilies manas peteng sambil gantau, sanaman akan pangkit, pakayan sinde mendeng akan pakayae, jarati akan sandurung, ragam akan kampuh, garantung akan tanggui, ringgit 4 kabawak tambatun putting sinjang, bawin halamaung  akan pasuk, ba,langa habobot turus panatau. Palus manggulak hampatung pelek hayak hamauh PELEK JETUH PELEK INDU SANGUMANG

22.  Limbah te mantie pelek mameteng lamiang huang panganten ije bawi palus nampung nawar ie hayak nyaki hapan dahan manuk sakin pelek. Kalute kea mantie manyambut mameteng lamiang huang panganten ije hatue nampung nawar nyaki malas. Luang lime mimbit kare ramun haluang hapelek akan huang karung panganten ije bawi, gain haluang hapelek selesai.

Setelah pelaksanaan Haluang Hapelek yang dilaksanakan pada malam harinya, maka pada pagi harinya keluarga yang melaksanakan persta perkawinan, memotong babi atau hewan lainnya. Bawi, ayam atau hewan yang dipotong harus dibawah atap rumah, serta diberikan /diusapkan undus ( minyak kelapa) serta inggraru manyan selengkapnya, setelah selesai barulah hewan-hewan tersebut di potong. Darah dari hewan-hewan tersebut diambil untuk mamalas penganten. Selanjutnya hati babi diperiksa betul-betul apakah dalam keadaan baik atau ada tanda yang yang tidak baik.

Makanan yang akan disajikan untuk orang banyak sudah masak, maka pihak keluarga penganten memberikan atau mempersilahkan kepada Mantir Manyambut, Mantir Mamelek dan luang lime untuk makan terlebih dahulu.

Setelah selesai mereka makan, maka mereka melaksanakan tugas untuk mamalas penganten. Sebelumnya orang tua penganten perempuan menyiapkan batang sawang , uei (rotan), Ranying Bunu, amak pasar(tikar), garantung (gong) tempat penganten duduk, makanan sahur parapah/Putir santang, darah ayam   dan babi, air dalam mangkuk , tanah dipinggir mangkuk, tambak timbuk tangga, baliung, ringgit perak satu buah, jangkut, tasal, katipm, jala, tutup ketel, panginan tingkes , sipa, air minum,parapen, garu manyan, undus (minyak kelapa), lilies manas  dan air untuk cuci tangan.

Batang sawang, uei, ranying bunu didirikan ditengah-tengah amak pasar (tikar) yang sudah dibuka dan peralatan yang lain di letakkan disekeliling batang sawang, garantung (gong) tempat penganten duduk diletakkan pada arah matahari terbit. Setelah semua peralatannya sudah lengkap, maka penganten berdua duduk diatas garantung (gong) sambil memegang batang sawang dan telunjuk penganten berdua menunjuk keatas.

Setelah penganten berdua duduk diatas garantung (gong), maka Mantir Mamelek dengan satu orang luang manyaki semua peralatan yang sudah disiapkan dari yang kecil sampai yang besar.

Isi yang disampaikan pada saat manyaki peralatan hasaki hapalas yaitu :

  1. Nyakiku purun dare, mangat hadare kea tuah rajaki akan anu ………….. (nama penganten berdua) ewen ndue ije matuh kabaluma belum mangun batang panjang huma hai parataran lumbah, hurun-hurun ruhu ruhus ampi kare jawet ramu uang duit panatau panuhan pangkat galar ewen ndue. Nyakiku batang sawang jangkang nyahu, uei rantihan tingang, ranying pandereh bunu, mangat tau mantis bulau untung panjangpanyampah garing manarantang.
  2. Nyakiku sambaing garantung ije eka panganten ewen ndue munduk tuh, mangat kilau garantung ije batengkung auh amun imantu, kalute kea tarung sewut panganten ewen ndue tuh mambelum arep. Nyakiku rangkan panginan manggat hai tawue jurung akan Putir Santang Bawi Sintung Uju, manggat Putir Santang umba nanteman aseng darah belum akan anu …………….. (nama penganten berdua).
  3. Nyakiku tasal, kilau tasal ije tau hapa manasal manampa pisau langgei , narai bewei uras tau manjadi, kalute kea ampi anu ……………… (Nama penganten berdua), ewen ndue tuh tau mambelum arep uras tau murah ie dinun tuah rajaki. Nyakiku katip kilau katip ije tau hapa mangatip barah apui ije balasut mahi ulih dinun.
  4. Nyakiku jangkut kilau jangkut ije tau hapa nalawang nyamuk ranggit, manggat sial kawe pali endus. Nyakiku  tutup kilau tutup ije nalawang rutik puhuk kalurte kea ampin sial kawe pali endus peres badi dia tau manderoh pambelum anu ……………..(nama penganten berdua).

Setelah selesai manyaki peralatan hasaki hapalas, maka dilanjutkan dengan manyaki mamalas penganten berdua, yang dilakukan oleh Mantir Mamelek dan satu orang luang.

Isi yang disampaikan pada saat manyaki penganten berdua yaitu :

  1. Nyakiku tutuk tunjuk sarapumpung panyurung nanjung, nyurung kea tuah rajaki ketun ndue belum palus mumpung panatau panuhan anak jarian
  2. Nyakiku likut tatap malapatap sial kawe tamanang tambisu
  3. Nyakiku buku laling hila luar , maling malewar peteh liau matei, nyakiku buku laling hila huang, bataling aseng nyaman ketua ndue belum
  4. Nyakiku tambang takep mangat nambang kayun penyang karuhei tatau, nambang tuah rajaki.
  5. Nyakiku utut mangat batuntut ketua ndue umba kare gawin uluh ije bujur kabajuran.
  6. Nyakiku kakis hila sambil hapam ngakis mangian utang silih, lau hutus, kukut hila gantau hapam mukut tuah rajaki untung panjang.
  7. Nyakiku sikum hapan nyiku hagagian peres baratus  area manggian tamanang tambisu
  8. Nyakiku Rahepan  hapam naharep kare raja awing beken dia tau giring bulum
  9. Nyakiku Likut hapam hatalikut umba sial kawe pali endus dahiang baya taluh je papa.

10.  Nyakiku Balengkung tingang batengkung kambang tarung ketun belum tatau manyambung

11.  Nyakiku Batu Junjun kare purum mahunjun kea kambang tarung ketun belum

12.  Nyakiku hapan dahan bawui tuh mangat kasaingen aseng nyaman ketun ndue hayak batuah marajaki, te kea muwur kuh behas tuh mangat kilau behas ije tau mangkar manyiwuh nangalan ije supak ije gantang tau naratang pulu, kalute kea ampin tuah rajaki ketun ndue belum. Nantisan kuh minyak bangkang haselan tingang  uring katilambung nyahu  ije belum gantung-gantung  indu tihang lewu pulu, mangat gantung kea sewut saritan ketun ndue belum mangun betang panjang huma hai palataran lumbah. te kea sanaman tuh mangat katekang mahambaruan ketun ndue aluh tampapulu  nyahu batengkung dia tau giring bulu. (Agan, Thian.1996)

Setelah itu penganten berdua makan makanan yang disebut panginan Putir Santang yang telah disiapkan. Dan kemudian mereka berdua  dilanjutkan memakan sipa. Setelah selesai maka mereka berdua berdiri dan berjalan menuju ke pintu rumah dan bersama-sama menangkap tiang pintu rumah sambil manukiy (teriakan khas) sebanyak tujuh kali. Maka selesaikan acara manyaki penganten tersebut.

Selanjutnya para orang tua kedua belah pihak memberikan nasehat-nasehat dan petuah kepada penganten berdua untuk bekal mengarungi rumah tangga. Dan kepada para tamu dan undangan dipersilahkan untuk menikmati makanan yang telah disiapkan dan memberikan ucapan selamat kepada mempelai berdua.

Setelah semua rangkaian acara selesai, maka penganten berdua menjalankan pali (pantangan) selama tujuh hari  yaitu tidak boleh berjalan keluar rumah dan tidak boleh bertamu kerumah orang lain. Setelah pali (pantangan) tersebut selesai maka penganten berdua maruah pali yaitu dengan cara berangkat menimba air, berangkat mencari ikan, berangkat mencari kayu, lawas. Setelah selesai maka dilanjutkan dengan penganten berdua bertamu ketempat keluarga.

Tiga bulan setelah berlangsungnya  upacara perkawinan tersebut, maka penganten laki-laki bias pulang mendatangi orang tuanya dua sampai tiga hari, kemudian baru kembali ketempat istrinya.

Setelah itu mertuanya (orang tua pihak laki-laki) melaksanakan upacara pakaja manantu dengan menjalankan janji yang sesuai dengan apa yang tertuang dalam surat kontrak kawin, maka selesailah seluruh pelaksanakan upacara perkawinan tersebut.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

HINDU KAHARINGAN

September 18, 2009 at 2:17 pm (Artikel, Karya Ilmiah)

Hindu Kaharingan

Oleh

Pranata

Selama ribuan tahun yang lalu penduduk Indonesia yang mendiami kepulauan Kalimantan yang dikenal dengan suku Dayak, telah mengalami perkembangan suatu keyakinan akan keagamaan yang percaya kepada Tuhan  Sebagaimana bangsa-bangsa didunia, akibat bahasa dan budaya yang berbeda-beda  maka penyebutan nama Tuhan juga berbeda-beda, namun secara esensial sangat dipercaya bahwa penguasa alam semesta beserta segala isinya itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, Good, Allah, Sanghyang Widhi Wasa, dan Ranying Hatala Langit.

Sesuai dengan pasal 39 ayat 8 Kitab Suci Panaturan berbunyi :

“      Ie Ranying Hatalla Palus Mukei Kahain Kuasae

, Mampaurai Japa Jimat Tantenge, Hayak Auh

Nyahu Batengkung Ngaruntung Langit,

Malentar Kilat Kilat Basiring Hawun,

Ie Manampa Kakare Kutak Pander

Ewen Sama Hakabeken Tuntang Palus

Mubah Ngabeken Kea Kare Tiruk Tuga,

Itung Pitungae “

Artinya :

“     Ia Ranying Hatalla Menjadikan KehendakNya

Dengan Segala Kekuasaan CiptaanNya, bersama

Suara Nyahu Batengkung Ngaruntung Langit,

Ia Menjadikan bermacam-macam bahasa

Bagi mereka semua, sekaligus Membagi – bagi

Cara berpikir mereka”.

(MB-AHK, Panaturan ; 2001)

Berdasarkan ayat tersebut, maka sangat jelas bahwa bahasa yang berbeda-beda dan tata pikiran yang berbeda-beda antar umat manusia adalah atas kehendak Ranying Hatalla Langit (Tuhan), maka untuk itu kita tidak boleh membeda-bedakan sesuatu hanya karena bahasa, sebutan dan ciri fisik lainnya, karena semuanya adalah atas kehendak Tuhan, Ranying Hatalla Langit. Agama Hindu Kaharingan didalam perkembangannya tidak luput dari pengaruh-pengaruh setelah ia mulai berkembang. Setelah terjadi kontak dengan orang-orang Barat (Penjajah), maka banyak nama yang melekat padanya sesuai dengan misi-misinya; ada yang menyebut dengan agama ngaju, agama hidden dan ada yang menyebutnya agama kapir.

Sesudah kemerdekaan Republik Indonesia, maka tumbuhlah suatu tuntutan baru,  suatu keinginan ikut berperan serta dalam pembangunan, namun karena didalam negara Republik Indonesia ada rumus- rumus tertentu maka kedudukan  ” KAHARINGAN ” masih belum jelas, namun masih dapat bertahan  karena Kaharingan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa yang disebut dengan Ranying Hatalla Langit. Untuk mengaktualisasikan tuntutan-tuntutan  tersebut maka pada tanggal 20 Juli 1950 diadakan konggres Kaharingan pertama dengan membentuk suatu organisasi dengan nama SKDI ( Serikat Kaharingan Dayak Indonesia) yang berkedudukan di Tangkahen dan sejak saat itu disepakati bersama menyebutkan nama agama yang dianut yaitu “ AGAMA KAHARINGAN ”.

Setelah melalui perjalanan yang panjang kemudian pada tahun 1972 oleh para tokoh Kaharingan dibentuklah Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan, yang mempunyai program utama memperjuangkan agar Kaharingan dibina melalui Departemen Agama, dan melalui proses pemerintahan negara Republik Indonesia akhirnya keluarlah SK. Nomor : H/37/SK/1980 tanggal 19 April 1980 dari Departemen Agama RI. Tentang pengukuhan Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan menjadi Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan yang berpusat di Palangka Raya maka sebutan Kaharingan sekarang dikenal nama  “AGAMA HINDU KAHARINGAN “ .Inilah  awal terjadinya integrasi antara Agama Kaharingan dengan Agama Hindu.

Agama Hindu Kaharingan berasal dari kata : A dan Gam, A berarti tidak dan Gam berarti pergi , jadi yang dimaksud dengan agama artinya tidak pergi/ abadi. Sedangkan Hindu berasal dari kata Sindu ( nama salah satu sungai di India) yang berarti air kehidupan, dan Kaharingan berasal dari kata Haring yang berarti hidup dalam kekuasaan Tuhan. Jadi Yang dimaksud dengan Agama Hindu Kaharingan adalah Kehidupan yang kekal abadi yang berasal dari kekuasaan Tuhan dan mengalir air kehidupan ( Danum Kaharingan Belum ). (MB-AHK, 1977).

Kaharingan berasal dari kata Haring artinya hidup (Tjilik, 2003;478). Lebih jauh Tjilik Riwut menjelaskan bahwa Kaharingan tidak dimulai sejak zaman tertentu, Kaharingan telah ada sejak awal penciptaan, sejak awal Ranying Hatalla menciptakan manusia, sejak adanya kehidupan, Ranying Hatalla telah mengatur segala sesuatu yang untuk menuju jalan kehidupan kearah kesempurnaan yang kekal abadi.( Tjilik, 2003;478).

Dananjaya dalam Koentjaringrat (2004;137) menyatakan bahwa agama asli penduduk pribumi (suku Dayak) adalah agama Kaharingan. Sebutan itu dipergunakan sesudah perang dunia ke II, waktu diantara penduduk pribumi di Kalimantan timbul suatu kesadaran akan kepribadian kebudayaan mereka sendiri dan suatu keinginan kuat untuk menghidupkan kembali kebudayaan dayak asli dan sebelum kepercayaan itu disebut dengan nama Kaharingan, disebut dengan istilah helu (dahulu). Kepercayaan itu tidak mempunyai nama, tetapi karena ajaran itu ada sejak dahulu maka disebutlah kepercayaan itu Helu (dulu)

Didalam ajaran Hindu Kaharingan terdapat suatu ajaran tentang kekuasaan yang maha tinggi yang disebutnya Sang Hyang Widhi Wasa atau  Ranying Hatalla Langit. Ia inilah sebagai sumber segala aturan yang ada dialam semesta ini, sumber tata aturan kehidupan, kesucian, kebesaran dan kemuliaan yang termuat didalam sumber ajaran yang dipercaya oleh umatNya yaitu :  Kita Suci Weda dan Kitab Suci Panaturan.

Permalink 1 Komentar

KONSEPSI PENDIDIKAN MENURUT AJARAN HINDU KAHARINGAN

September 15, 2009 at 8:59 am (Pandehen, Siraman Rohani)

Tabe salamat Lingu Nalatai Salam Sujud Karendem Malempang

Bapak-Bapak,Ibu-Ibu dan Saudara dalam kasih Ranying Hatalla Langit

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perkenan bapak/ibu/suadara meminta saya untuk menyampaikan pandehen / dharma wacana  dengan topik Makna sangku Tambak Raja Dalam Upacara Persembahyangan Basarah.

Bapak-bapak, ibu-ibu umat sedharma yang berbahagia.

Didalam ajaran agama Hindu Kaharingan, apabila kita menginginkan mengupas atau meninjau pendidikan dari asfek ajaran Hindu Kaharingan , maka dapat kita lihat dari berbagai segi baik dari Kitab suci Panaturan maupun adari sumber-sumber ajaran lainnya yakni Tawur, Bahasa sangiang dan lainnya.

Berdasarkan Kitab suci Panaturan yang menjadi pegangan umat Hindu Kaharingan didalam menjalankan kehidupannya sebagai manusia yang beragama, maka kita dapat meninjau makna-makna pendidikan didalam Kitab Suci Panaturan tersebut, yang berisikan firman-firman Ranying Hatalla Langit kepada umat manusia yang diturunkan ke pantai danum kalunen (dunia).

Sesuai dengan pasal 41 di Kitab suci Panaturan yaitu “ Bawi Ayah Hadir Di Lewu Telu Menuju Pantai danum Kalunen”, yang mana didalam pasal 41 ini  Dalam pasal 41 ini mengungkapkan tentang firman Ranying Hatala yang memerintahkan Raja Uju Hakanduang , Kanaruhan Hanya Basakati agar segera turun kelewu Telu Kalabuan Tingang, Rundung Epat Kalihulun Talawang. Raja Uju Hakanduang memberitahukan firman dari Ranying Hatalla Langit agar mereka dilewu Telu turun menuju pantai danum kalunen untuk mengajar anak cucu Raja Bunu tentang pelaksanaan upacara Tiwah Suntu dilewu Bukit Batu Nindan Tarung. Dan yang akan turun sebagaimana yang difirmankan oleh Ranying Hatala Langit yaitu Raja Tunggal Sangiang , Raja Mantir Mama Luhing Bungai , Raja Rawing Tempun Telun , yang akan mengajar tentang tata upacara pelaksanaan Balian dan ajaran- ajaran upacara lainnya, dari upacara yang terkecil sampai pada yang terbesar. Demikian pula Raja Duhung Mama Tandang yang akan mengajar tentang Tata cara upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei , perjalanan Banama Nyahu dan macam- macam upacara lainnya yang berhubungan dengan upacara kematian. Dan Raja Linga Rawing Tempun Telun nantinya kalian mengajar tentang tata cara pelaksanaan hanteran sampai kepada tata cara upacara Tiwah. Selanjutnya Raja Garing Hatungku, Nyai Endas Bulau Lisan Tingang, Nyai Inai Mangut yang nantinya mengajar tentang segala peralatan upacara , membuat katupat, kambungan, sanggar, palangka dan peralatan lainnya  serta mengajar tentang upacara perkawinan , upacara kehamilan, dan melahirkan bayi. dan kalian yang turun kepantai danum kalunen nanti akan diberi nama oleh Ranying Hatalla Langit Yaitu “ BAWI  AYAH ‘. Artinya kalian ini nantinya yang pertama kali mengajar orang perempuan dalam melaksanakan Balian dipantai danum kalunen serta menyebutkan nama mereka bernama “ BAWIN BALIAN ‘. Selanjutnya Raja Uju Hakanduang berpesan lagi dengan Raja Ungkuh Batu , Tuhan Jenjang Liang agar ia turun paling dahulu menuju pantai danum kalunen untuk mencari tempat yang cocok. Setelah itu Raja Ungkuh Batu tiba dipuncak Bukit Samantuan dan langsung milir menelusuri sungai menuju kampung yang dilihatnya bercahaya dan singgah disebuah rumah. Setelah bertemu dengan pemilik rumah, Ungkuh Batu lalu membicarakan perjalanannyadan sejak saat itu namanya menjadi  UNGKUH JALAYAN lalu Ungku Jalayan menanyakan nama kampung tersebut kepada pemilik rumah dan diberitahukan nama kampung tersebut bernama “ Lewu Tutuk Juking dan Sungai bernama  KAHEAN. Sekarang aku datang memenuhi firman Ranying Hatalla Langit yang disebabkan keturunan Raja Bunu dipantai danum kalunen sudah banyak lupa terhadap firman  dan ajaran Ranying Hatalla Langit. Sewaktu melakukan Tiwah Suntu dilewu Bukit Batu Nindan Tarung dan setelah saya nanti ada maka dilewu telu turun menuju kampung ini. Pada saat itu nanti yang dipanggil untuk menerima ajaran dari Bawi Ayah adalah :

-       Raja Helu Maruhum Usang

-       Raja Sariantang Penyang

-       Kameluh Rangkang Sangiang

-       Raja Landa Bagatung Batu

-       Raja Sina Bakuncir panjang

-       Raja Siam tempun tambaku mangat

-       Raja Kalung Babilem Pamungkal Garantung

-       Raja Pait Panuang Duit

-       Ratu Jampa panuang Balanga

-       Garahasi Minton panuang Badil Tambun

-       Nyai Siti

-       Diang Lawai

-       Nyai Bitak

-       Nyai Bunum

-       Raja Malayu baratupung Bulau

-       Patih Rumbih

-       Dambung Mangkurat

-       Patih Dadar

Setelah Ungku Jalayan lenyap dari pandangan mereka dan pada suatu pagi mereka disepanjang kampung tiba-tiba mereka mendengar suatu suara yang gumuruh dari arah atas yaitu Palangka Bulau Lambayung Nyahu turun dari lewu telu yang dipimpin oleh Raja Tunggal Sangumang , Raja Linga Rawing Tempun Telun , Raja Duhung Bulau , Sahawung Bulau Tampung Buang Panjang mereka turun membangun Balai tempat mereka mengajar Balian.

Setelah semua bangunan Balai tersebut sudah selesai, disitu Sahawung Bulau Tempun Buang Penyang menanam beberapa pohon pinang tawar disisi bangunan Balai yang merupakan pertanda, apabila pinang ini berbuah maka mereka dari lewu Telu akan datang dan mulai mengajar. Tidak beberapa lama buah pinang tersebut berbuah , maka pada saat itu pula Bawi Ayah turun menuju Lewu Tutuk Juking dan mulai mengajar tentang tatacara Balian dari upacara yang terkecil sampai yang terbesar. Sewaktu Bawi Ayah mengajar mereka Balian , disitu mereka membagi tugasnya. Kemudian untuk keturunan anak cucu Raja Bunu yang hidup menetap dan menyebar diseluruh permukaan bumi ini terdapat banyak perbedaan dan melaksanakan bermacam-macam upacara, hal ini disebabkan mereka menyesuaikan dengan keadaan alam lingkungannya. Setelah itu Bawi Ayah menasehati , mengajar anak turunan Raja Bunu mulai dari tata cara berbicara, tingkah laku dan sopan santun. Seandainya apakah terjadi kesalahan pembicaraan yang sengaja maupun tidak sengaja terhadap kerabat keluarganya maka ia dikenakan singer (denda). Seusai Bawi Ayah melaksanakan tugasnya mengajar, tepat tujuh tahun lamanya ,merekapun pulang kembali menuju Lewu Telu, bersama itu mereka menyebutkan nama tempat mereka mengajar tersebut yaitu :  Lewu Tanjung Nyahu , Rundung Karangan panjang. Begitu pula nama sungai yang menjadi tempat kampung tersebut berada, yaitu : “ Batang Danum Nyahu Maruang Duhung, Guhung Pintih Tambarirang Nahasak Hanyi Dan saat itu pula umat manusia menyebutkan Ranying Hatalla Yaitu :  “ RANYING HATALA LANGIT , RAJA TUNTUNG MATAN ANDAU , TUHAN TAMBING KABUNTERAN BULAN , JATHA BALAWANG BULAU , KANARUHAN BAPAGER  HINTAN “.

Bapak-bapak, ibu-ibu umat sedharma yang berbahagia

Berdasarkan pasal 41 ini maka kita bias melihat suatu proses pembelajaran yang diinginkan oleh Ranying Hatalla langit melalui utusannya Bawi Ayah yang melaksanakan firman Ranying Hatalla Langit kepada anak keturunan Raja Bunu yaitu umat manusia di dunia agar tidak lupa terhadap ajaran-ajaran atau perintah-perintahNya, sehingga umat Hindu Kaharingan dapat menjalankan kehidupannya dengan baik dan bermoral.

Selanjutnya Di dalam Hindu Kaharingan dinyatakan mekanisme , menuju kerukunan, persamaan  visi dan misi demi keutuhan, sebagai berikut:

“ Hatamuei lingu nalatai, hapangaja karendem malempang’ (artinya bermusyawarahlah kamu untuk mempersatukan pikiran, visi, dan misi”).Kemudian;

“ Hapungkal lingu nalatai, habangkalan  karendem malempang(artinya bermufakatlah mencapai kebulatan,  menjadi visi dan misi hal-hal yang mendasar) selanjutnya;

“ hariak lingu nalatai haringkai karendem malempang “(artinya sama-sama menyebar luaskan  visi, misi ,kesepakatan itu dengan penuh rasa tanggung  jawab  dalam pelaksanaannya).

Kalau nilai-nilai tersebut sebagai karangka acuan bagi umat didlam menjalankan kehidupannya  maka isi dan sasaran-sasarannya adalah:

(1) Untuk mempersatukan dan menetapkan persatuan dan kesatuan masyarakat pendukungnya (penyang Hinje Simpei Paturung Humba Tamburak);

(2) Membina Integritas kepribadian identitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Ela Buli Manggetu Hinting Bunu Panjang, Isen Mulang, Manetes Rantai Kamara Ambu);

(3)      Meningkatkan kesejahteraan dalam kehidupan bermasyarakat (Hatangku Manggetu Bunu, Kangkalu penang  mamangun Betang);

(4)Menciptakan manusia yang berkeTuhanan (Ranying Hatalla Langit Katamparan);

(5)       Mewujudkan kehidupan yang damai, adil dan beradab. (Hatamuei Lingu Nalatai, Hapangaja Karendem Malempang = Silahturahmi);

Kemudian kekayaan nilai-nilai tersebut akan mempunyai kemampuan yang perlu didayagunakan dalam pelaksanaan sebagai umat manusia, karena ia mempunyai pranata, lembaga atau norma-norma yang selama ini telah dapat membuktikan diri sebagai landasan hidup bersama.

Pengembangan Pranata tersebut diambil dari filosofi: “ Haring Hatungku Tungket Langit “ (Tiga Tungku Pohon Kehidupan = Kayun Pambelum)

  1. Kayun Gambalang Nyahu;(kaum Agamawan Yang Melaksanakan Firman Tuhan).
  2. Kayu Erang Tingang; (Kaum Ahli Adat dan Hukum Adat).
  3. Kayu Pampang Saribu; (Kaum Cendikkiawan).

Jika ketiganya ini bersatu dan berfungsi di dalam kehidupan bersama, maka mereka dapat berfungsi dan mempunyai mekanisme sendiri dalam menyelesaikan dalam setiap masalah dan dapat pula menghindari dan menyelesaikan konflik semacam katub pengaman  dalam kehidupan bersama

Didalam ajaran agama Hindu Kaharingan ada suatu kalimat didalam bahasa Sangiang yaitu “ Ela Kurang Penyang Panggarasang Belum Batu Panggiri Linggu Maharing Nyangkelan Garing Raja wen Beken” yang maksudnya : “ Janganlah engkau kekurangan terhadap Imanmu serta penuhilah dfirimu dengan kebijaksanaan hidup (ilmu pengetahua) dan beribadat serta beramal sehingga menjadikan hidupmu disegani dan dihormati diantara orang-orang lain yang berkuasa”.

Berdasarkan tinjauan-tinjauan yang berhubungan dengan pendidikan diatas, maka kita dapat menarik suatu ulasan bahwa didalam ajaran agama Hindu kaharingan memiliki 5 (lima) hal pokok yang menjadikan manusia sukses didalam mencapai tujuan yang diharapkan yaitu :

1. Penyang                  : Iman, Ilmu, Kasih Sayang

2. Pangarasang            : Pengetahuan

3. Batu                        : Beribadat laksana batu karang

4. Panggiri                  : Amal

5. Linggum                 : Keteladanan, nilai-nilai luhur kebijaksanaan

Untuk mendapatkan kelima nilai-nilai tersebut, haruslah melalui suatu proses pendidikan dan pengajaran sehingga akhirnya dapat mengabungkan kelima unsure tersebut menjadi suatu yang bulat dan utuh sebagai bekal menjalani kehidupan didunia yang penuh dengan keaneka ragaman sikap dan perilaku.

Demikianlah pandehen/dharma wacana ini disampaikan, semoga memberikan manfaat yang besar bagi kita semua. Sebelumnya saya memohon maaf apabila saya selama menyampaikan pandehen ini ada kata-kata saya yang tidak berkenan dihati umat sekalian, semoga Ranying Hatalla Langit memberikati kita semua ,

Sahiy, Sahiy, sahiy.

Penyampai pandehen

Pranata, S.pd

Permalink 1 Komentar

Pengantar Pendidikan

September 13, 2009 at 2:54 am (Bahan Kuliah, Materi Kuliah Pengantar Pendidikan)

DASAR-DASAR PENDIDIKAN

1.     PENGERTIAN PENDIDIKAN

2.     PUNGSI DAN PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN

3.     KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP DAN BERBAGAI IMPLIKASINYA

4.     PERAN KELUARGA DAN MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN

5.     UTS

6.     SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

7.     DEMOKRASI PENDIDIKAN

8.     ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN

9      PERMASALAHAN PENDIDIKAN

10.   PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN

11.        UAS

I. PENGERTIAN PENDIDIKAN

l    PENDIDIKAN BAGI BANGSA YANG SEDANG MEMBANGUN MERUPAKAN KEBUTUHAN MUTLAK YANG HARUS DIKEMBANGKAN SEJALAN DENGAN TUNTUTAN PEMBANGUNAN SECARA TAHAP DEMI TAHAP

PENDIDIKAN          MANUSIA

SANGAT KOMPLEK DAN BANYAK ASFEK

BATASAN PENDIDIKAN MENURUT FUNGSINYA :

  1. PENDIDIKAN SEBAGAI PROSES TRANSFORMASI BUDAYA

  2. PENDIDIKAN SEBAGAI PROSES          PEMBENTUKAN PRIBADI

  3. PENDIDIKAN SEBAGAI PROSES PENYIAPAN WARGA NEGARA

  4. PENDIDIKAN SEBAGAI PENYIAPAN TENAGA KERJA

PENDIDIKAN SEBAGAI PROSES TRANSFORMASI BUDAYA

l      SEBAGAI SUATU KEGIATAN PEWARISAN BUDAYA DARI SATU GENERASI KE GENERASI YANG LAIN.

ADA TIGA BENTUK TRANSFORMASI YAITU :

1. NILAI-NILAI YANG MASIH COCOK       DITERUSKAN.

2. YANG KURANG COCOK DIPERBAIKI

3. YANG TIDAK COCOK DIGANTI

PENDIDIKAN SEBAGAI SUATU PROSES PEMBENTUKAN PRIBADI

SEBAGAI SUATU KEGIATAN YANG SISTEMATIS DAN TERARAH KEPADA TERBENTUKNYA KEPRIBADIAN PESERTA DIDIK.

SEBAGAI PROSES PENYIAPAN WARGA NEGARA

SEBAGAI SUATU KEGIATAN YANG TERENCANA UNTUK MEMBEKALI PESERTA DIDIK AGAR MENJADI WARGA NEGARA YANG BAIK

PENYIAPAN TENAGA KERJA

SEBAGAI KEGIATAN MEMBIMBING PESERTA DIDIK SEHINGGA MEMILIKI BEKAL DASAR UNTUK BEKERJA

DEFINISI PENDIDIKAN OLEH BEBERAPA AHLI :

DRIYAKARA : PENDIDIKAN ADALAH  UPAYA MEMANUSIAKAN MANUSIA MUDA. PENGANGKATAN MANUSIA DARI TARAF INSANI ITULAH YANG DISEBUT MENDIDIK

MENURUT KI HAJAR DEWANTARA

PENDIDIKAN UMUMNYA BERARTI DAYA UPAYA UNTUK MEMAJUKAN BERTUMBUHNYA BUDI PEKERTI (KEKUATAN BATHIN DAN KARAKTER), PIKIRAN (INTELEK) DAN TUBUH ANAK

DICTIONARY OF EDUCATION

PENDIDIKAN ADALAH PROSES DIMANA SESEORANG MENGEMBANGAN KEMAMPUAN SIKAP DAN BENTUK-BENTUK TINGKAH LAKU LAINNYA DIDALAM MASYARAKAT DIMANA IA HIDUP, SEHINGGA IA MEMPEROLEH ATAU MENGALAMI PERKEMBANGAN SOSIAL DAN KEMAMPUAN INDIVIDU YANG OPTIMUM.

CROW AND CROW

PENDIDIKAN ADALAH PROSES YANG BERISI BERBAGAI MACAM KEGIATAN YANG COCOK BAGI INDIVIDU UNTUK KEHIDUPAN SOSIALNYA DAN MEMBANTU MENERUSKAN ADAT DAN BUDAYA SERTA KELEMBAGAAN  SOSIAL DARI GENERASI KE GENERASI

UNDANG-UNDANG SISDIKNAS
NO. 20 TAHUN 2003

PENDIDIKAN ADALAH USAHA SADAR DAN TERENCANA UNTUK MEWUJUDKAN SUASANA BELAJAR DAN PROSES PEMBELAJARAN AGAR PESERTA DIDIK SECARA AKTIF MENGEMBANGKAN POTENSI DIRINYA  UNTUK MEMILIKI KEKUATAN SPRITUAL  KEAGAMAAN , PENGENDALIAN DIRI, KEPRIBADIAN, KECERDASAN,AHLAK MULIA SERTA KETRAMPILAN YANG DIPERLUKAN DIRINYA, MASYARAKAT , BANGSA DAN NEGARA

DARI PENGERTIAN-PENGERTIAN DIATAS, MAKA PENDIDIKAN DAPAT DIARTIKAN SEBAGAI BERIKUT :

  1. SUATU PROSES PERTUMBUHAN YANG MENYESUAIKAN DENGAN LINGKUNGAN

  2. SUATU PENGARAHAN DAN BIMBINGAN YANG DIBERIKAN KEPADA ANAK DALAM PERTUMBUHANNYA.

  3. SUATU USAHA SADAR UNTUK MENCIPTAKAN SUATU KEADAAN ATAU SITUASI TERTENTU YANG DIKEHENDAKI MASYARAKAT

  4. SUATU PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN DAN KEMAMPUAN ANAK DALAM MENUJU KEDEWASAAN

UNTUK MENGEMBANGKAN POTENSI DIRI GUNA MEMLIKI KEKUATAN SPIRITUAL KEAGAMAAN, PENGENDALIAN DIRI, KEPRIBADIAN, KECERDASAN, AHLAK MULIA, SERTA KETRAMPILAN

DARI BEBERAPA PENGERTIAN  DIATAS DAPAT DIBERIKAN  CIRI ATAU UNSUR UMUM DALAM PENDIDIKAN

  • PENDIDIKAN MENGANDUNG TUJUAN YANG INGIN DICAPAI YAITU INDIVIDU YANG KEMAMPUAN-KEMAPUAN DIRINYA BERKEMBANG  SEHINGGA BERMANFAAT UNTUK KEPENTINGAN HIDUPNYA

  • UNTUK MENCAPAI TUJUAN TERSEBUT PERLU MELAKUKAN USAHA YANG DISENGAJA DAN BENRENCANA DALAM MEMILIH ISI(MATERI) , STRATEGI , DAN TEHNIK PENILAIAN YANG SESUAI

  • KEGIATAN TERSEBUT DAPAT DIBERIKAN DIDALAM LINGKUNGAN KELUARGA, SEKOLAH DAN MASYARAKAT (PENDIDIKAN FORMAN DAN NON FORMAL

DALAM AKTIVITAS PENDIDIKAN ADA ENAM FAKTOR YANG DAPAT MEMBENTUK POLA INTERAKSI YAITU

  1. FAKTOR TUJUAN

  2. FAKTOR PENDIDIK

  3. FAKTOR PESERTA DIDIK

  4. FAKTOR ISI/MATERI

  5. FAKTOR METODE PENDIDIKAN

  6. FAKTOR SITUASI LINGKUNGAN

FAKTOR TUJUAN

DIDALAM PRAKTEK PENDIDIKAN, BAIK DILINGKUNGAN KELUARGA, SEKOLAH DAN MASYARAKAT TENTUNYA MEMILIKI SUATU TUJUAN YANG AKAN DILAKSANAKAN DALAM MEMBINA GENERASI BERIKUTNYA

FAKTOR PENDIDIK

FAKTOR INI DAPAT DIBAGI MENJADI DUA YAITU :

A. PENDIDIK MENURUT KODRAT

B. PENDIDIK MENURUT JABATAN

FAKTOR PESERTA DIDIK

ADA EMPAT KONTEKS YANG DAPAT DILIHAT YAITU :

1. LINGKUNGAN DIMANA PESERTA

DIDIK BELAJAR YANG TIDAK

TERPROGRAM

2. LINGKUNGAN DIMANA PESERTA

DIDIK BELAJAR DISENGAJA DAN

DAN DIKEHENDAKI

3. SEKOLAH DIMANA PESERTA DIDIK

BELAJAR MENGIKUTI PROGRAM YANG

DITETAPKAN

4. LINGKUNGAN PENDIDIKAN OPTIMAL

FAKTOR ISI /MATERI

ADA SYARAT UTAMA YG HARUS DIPERHATIKAN DIDALAM MEMILIH ISI/MATERI YAITU :

1. MATERI HARUS SESUAI DENGAN    TUJUAN PENDIDIKAN

2. MATERI HARUS SESUAI DENGAN PESERTA DIDIK

FAKTOR METODE PENDIDIKAN

AGAR INTERAKSI YANG DIINGINKAN   DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DAPAT BERJALAN SECARA EFEKTIF DAN EFISIEN DALAM MENCAPAI TUJUAN MAKA PERLU DIPILIH METODE  YANG TEPAT

METODE ADALAH CARA YANG DIDALAM FUNGSINYA MERUPAKAN ALAT YANG DIGUNAKAN UNTUK MNCAPAI TUJUAN

FAKTOR SITUASI LINGKUNGAN

FAKTOR LINGKUNGAN SANGAT MEMPENGARUHI PROSES DAN HASIL PENDIDIKAN. SITUASI LINGKUNGAN INI MELIPUTI :

1. LINGKUNGAN FISIK

2. LINGKUNGAN TEKNIS

3. LINGKUNGAN SOSIO KULTURAL

II. FUNGSI DAN PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN

FUNGSI PENDIDIKAN DALAM ARTI MIKRO IALAH MEMBANTU (SECARA SADAR) PERKEMBANGAN JASMANI DAN ROHANI PESERTA DIDIK

FUNGSI PENDIDIKAN SECARA MAKRO ADALAH :

1. PENGEMBANGAN PRIBADI

2. PENGEMBANGAN WARGA NEGARA

3. PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN

4. PENGEMBANGAN BANGSA

PADA PRINSIPNYA MENDIDIK ADALAH

MEMBERI TUNTUNAN, BANTUAN, PERTOLONGAN KEPADA PESERTA DIDIK (PESERTA DIDIK PADA DASARNYA MEMILIKI POTENSI-POTENSI YANG DAPAT BERKEMBANG

UNTUK MENJAMIN BERKEMBANGNYA POTENSI TERSEBUT MAKA DIPERLUKAN PERTOLONGAN DAN TUNTUNAN DARI LUAR (JIKA PERTOLONGAN TIDAK ADA MAKA POTENSI TERSEBUT HANYA MENJADI SEBUAH POTENSI BELAKA)

SEBERAPA BESAR PERANAN PERTOLONGAN TERHADAP PERTUMBUHAN ANAK, CONTOH :

PADA BULAN OKTOBER 1920 DI INDIA TELAH DITEMUKAN DUA ORANG ANAK DI SARANG SRIGALA, DENGAN UMUR DUA DAN DELAPAN TAHUN, AMALA DAN KAMALA NAMANYA. KEMUDIAN MEREKA DIASUH DIDALAM PANTI ASUHAN, SELAMA KAMALA HIDUP DI PANTI ASUHAN SELALU DI PANTAU PERKEMBANGANNYA, YANG SEMULA IA BERLAKU SEPERTI SERIGALA BERJALAN MERANGKAK, SIANG HARI TIDUR DAN KALAU BANGUN MENGHINDAR DARI CAHAYA MATAHARI, MALAM HARI TIDAK TIDUR KADANG-KADANG MERAUNG, MAKANNYA DAGING MENTAH, TIDAK DAPAT MENGUNAKAN JARI-JARI TANGAN UNTUK MEMEGANG

SETELAH SATU SETENGAH TAHUN DIASUH, DIBERI PERTOLONGAN PANTI ASUHAN KAMALA BARU DAPAT BERDIRI TEGAK LURUS, KEMUDIAN DAPAT BERJALAN TEGAK, BARU DAPAT MEMEGANG SEBUAH PIRING.

SESUDAH ENAM TAHUN DIBERI TUNTUNAN, BARU DAPAT BERBAHASA DENGAN MENGUCAPKAN 40 BUAH KATA-KATA DAN MENYUSUN KALIMAT  TERDIRI ATAS DUA ATAU TIGA BUAH KATA. PADA UMUR 17 BELAS TAHUN (AKHIR HIDUPNYA) KAMALA BARU DAPAT BERBAHASA SETARAF ANAK BERUMUR 5 TAHUN

( HANYA DENGAN PERTOLONGAN PENDIDIKAN OLEH MANUSIA DAN DITENGAH MANUSIALAH, MAKA KAMALA ANAK MANUSIA ITU DAPAT MENJADI MANUSIA)

PERBEDAAN PERGAULAN DENGAN PENDIDIKAN

MENURUT PROF. LANGEVELD PERGAULAN ITU MERUPAKAN LAPANGAN PENDAHULUAN  DARI PENDIDIKAN.

PERGAULAN YANG DIMAKSUD ADALAH PERGAULAN ANTARA ORANG DEWASA DENGAN ANAK YANG BELUM DEWASA.

KEMUDIAN TIMBUL PERTANYAAN. BUKANKAH PERGAULAN ANTARA ANAK DENGAN ANAK ? ATAUKAH PERGAULAN ANTARA ORANG DEWASA DENGAN ORANG DEWASA ?

UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN DI ATAS , DAPAT DITERANGKAN DENGAN GAMBAR :

l    KALAU TOH DISINI ADA SIFAT MENURUT SIFAT ITU HANYALAH KARENA TEKANAN ANCAMAN, JADI BUKAN PENDIDIKAN

DEWASA    DNG    DEWASA

HANYA AKAN MEMPERLUAS LAPANGAN PERGAULAN DAN PENDIDIKAN, DAN MENYINGGUNG BANYAK HAL DI LUAR PENDIDIKAN. SEKALIPUN PERGAULAN ANTAR MANUSIA MEMPUNYAI BEBERAPA TITIK  PERSAMAAN DENGAN PENDIDIKAN, JADI BUKAN PENDIDIKAN

DEWASA    DNG      ANAK

PERGAULAN ANTARA  ORANG DEWASA DENGAN ANAK YANG BELUM DEWASA INILAH SIFAT (BERSIFAT) PENDIDIKAN.

CIRI DARI PERGAULAN DALAM RANGKA PENDIDIKAN MEMPUNYAI DUA SIFAT YAITU :

•              DALAM PERGAULAN , ORANG BERUSAHA MEMPENGARUHI, DAN

•              PENGARUH TERSEBUT DATANGNYA DARI ORANG DEWASA ATAU YANG DICIPTAKAN OLEH ORANG DEWASA, BAIK DI SEKOLAH, MAUPUN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DAN DI TUJUKAN KEPADA ANAK YANG BELUM DEWASA.

( SIFAT KHAS DARI SEORANG PENDIDIK ADALAH BAHWA SEMUA USAHANYA, PENGARUHNYA,PERLINDUNGAN DAN BANTUANNYA TERTUJU KEPADA PENDEWASAAN ANAK DIDIKNYA ATAU LEBIH TEPATNYA MEMBANTU PESERTA DIDIKNYA AGAR CUKUP CAKAP MELAKSANAKAN TUGAS HIDUPNYA SEHARI-HARI).

BAGAN SITUASI PENDIDIKAN

APABILA PENGARUH ORANG DEWASA PADA ANAK TIMBUL DALAM PERGAULAN ITU TELAH TERJALIN, BARULAH PENDIDIK MASUK PADA FASE SITUASI PENDIDIKAN YAITU SUATU FASE DIMANA PENDIDIK BERMAKSUD MENGARAHKAN PADA SUATU TUJUAN PENDIDIKAN YANG SEBENARNYA.

SETELAH MELEWATI MASA SITUASI PENDIDIKAN, MAKA TERJADILAH APA YANG DISEBUT DENGAN PENDIDIKAN.

(BAHWA PENDIDIKAN BERLANGSUNG SEJAK DARI PERGAULAN, MEMASUKI SITUASI PENDIDIKAN DAN PENGARAHAN PADA TUJUAN PENDIDIKAN ITU MERUPAKAN KESELURUHAN YANG TIDAK TERPISAH-PISAH).

FUNGSI DAN PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN

DIDALAM MEMBERIKAN PENGARUH TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK , LINGKUNGAN ADA YANG SENGAJA DIADAKAN (USAHA SADAR), ADA YANG TIDAK USAHA SADAR DARI ORANG DEWASA YANG NORMATIF, SEDANG YANG LAIN DISEBUT PENGARUH

LINGKUNGAN YANG DENGAN SENGAJA DICIPTAKAN UNTUK MEMPENGARUHI ANAK ADA TIGA YAITU :

•LINGKUNGAN KELUARGA

•LINGKUNGAN SEKOLAH

• LINGKUNGAN MASYARAKAT

KETIGA LINGKUNGAN INI DISEBUT DENGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ATAU SATUAN PENDIDIKAN

EMBAGA PENDIDIKAN KELUARGA

KELUARGA MERUPAKAN LINGKUNGAN PERTAMA BAGI ANAK, DISINI ANAK AKAN MENDAPATKAN PENGARUH SADAR, KARENA ITU KELUARGA MERUPAKAN LEMBAGA PENDIDIKAN TERTUA. (BERSIFAT INFORMASI DAN KODRATI). AYAH DAN IBU SEBAGAI PENDIDIKNYA.

TUGAS KELUARGA ADALAH MELETAKAN DASAR-DASAR BAGI PERKEMBANGAN ANAK BERIKUTNYA, AGAR ANAK DAPAT BERKEMBANGAN SECARA BAIK.

KELUARGA SEBAGAI LINGKUNGAN PENDIDIKAN PERTAMA  SANGAT PENTING DALAM MEMBENTUK POLA KEPRIBADIAN ANAK , KARENA DIDALAM KELUARGA ANAK  PERTAMA KALI BERKENALAN DENGAN  NILAI DAN NORMA

FUNGSI LEMBAGA PENDIDIKAN KELUARGA

•               MERUPAKAN PENGALAMAN PERTAMA-TAMA BAGI MASA ANAK-ANAK, UNTUK MEMBERIKAN WARNA BAGI PERKEMBANGAN BERIKUTNYA.

•               DAPAT MENJAMIN KEHIDUPAN EMOSIONAL ANAK UNTUK TUMBUH DAN BERKEMBANG (HUBUNGAN EMOSIONAL YANG BERLEBIHAN/KURANG DAPAT MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ANAK)

•               AKAN TERBENTUK PENDIDIKAN MORAL, KETELADANAN ORANG TUA DALAM BERTUTUR KATA  DAN BERPRILAKU AKAN MENJADI WAHANA PENDIDIKAN MORAL ANAK

•               AKAN TUMBUH SIKAP TOLONG MENOLONG, TENGGANG RASA,  SEHINGGA TUMBUHLAH KEHIDUPAN KELUARGA YANG DAMAI DAN SEJAHTERA.

•               BERPERAN DALAM MELETAKAN DASAR-DASAR AGAMA

•               MENGARAHKAN ANAK AGAR MAMPU MENGEMBANGKAN DAN MENOLONG DIRINYA SENDIRI (MENUMBUHKEMBANGKAN INISIATIF, KREATIVITAS, KEHENDAK, EMOSI, TANGGUNG JAWAB KETRAMPILAN.

HAMBATAN DALAM PENDIDIKAN LINGKUNGAN KELUARGA

•               ANAK KURANG MENDAPTKAN PERHATIAN DAN KASIH SAYANG DARI ORANG TUA.

•               FIGUR ORANG TUA YANG TIDAK MAMPU MEMBERIKAN KETELADANAN PADA ANAK

•               SOSIAL EKONOMI KELUARGA YANG KURANG

•               KASIH SAYANG ORANG TUA YANG BERLEBIHAN SEHINGGA CENDERUNG UNTUK MEMANJAKAN ANAK

•               ORANG TUA YANG TIDAK BISA MEMBERIKAN RASA AMAN KEPADA ANAK, DENGAN TUNTUTAN ORANG TUA YANG TERLALU TINGGI

•               ORANG TUA TIDAK BISA MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAK.

•               ORANG TUA TIDAK BISA MEMBANGKITKAN INISIATIF  DAN KREATIVITAS ANAK

(DARI LINGKUNGAN KELUARGA YANG HARMONIS , AKAN LAHIR ANAK-ANAK  YANG MEMILIKI KEPRIBADIAN  DENGAN POLA YANG MANTAP)

LEMBAGA PENDIDIKAN SEKOLAH

SEBAGAI AKIBAT DARI SEMAKIN BERKEMBANGNYA ILMU PENGETAHUAN DAN TENOLOGI DAN TERBATASNYA KEMAMPUAN ORANG TUA, MAKA ORANG TUA TIDAK SANGGUP  UNTUK MENDIDIK ANAKNYA, UNTUK MENJALANKAN TUGAS-TUGAS TERSEBUT DIPERLUKAN ORANG LAIN YANG LEBIH AHLI .

(GURU-GURU DIDALAM LEMBAGA PENDIDIKAN FORMAL ADALAH ORANG DEWASA YANG MENDAPAT KEPERCAYAAN DARI PEMERINTAH UNTUK MENJALANKAN TUGAS TERSEBUT).

TUGAS SEKOLAH SANGAT PENTING DALAM MENYIAPKAN ANAK  UNTUK KEHIDUPAN BERMASYARAKAT. KARENA ITU SEKOLAH PERLU DIRANCANG  DAN DIKELOLA DENGAN BAIK.DALAM HAL INI MENDIKBUD MENETAPKAN MASALAH –MASALAH PENDIDIKAN  SEBAGAI BERIKUT :

PENDIDIKAN SEPERTI YANG DIURAIKAN DIATAS DILAKSANAKAN DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN DENGAN MENGGUNKAN PERJENJANGAN YAITU :

l   PENDIDIKAN DASAR

l   PENDIDIKAN MENENGAH

l   PENDIDIKAN TINGGI

LEMBAGA PENDIDIKAN MASYARAKAT

MASYARAKAT ADALAH ADALAH SALAH SATU LEMBAGA PENDIDIKAN YANG BESAR PENGARUHNYA TERHADAP PERKEMBANGAN PRIBADI  SESEORANG.

MASYARAKAT MEMPUNYAI PERANAN YANG PENTING DALAM MENCAPAI TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL PERAN YANG SUDAH DISUMBANGKAN YAITU BERUPA IKUT MEMBANTU MENYELENGGARAKAN PENDIDIKAN (MEMBUKA LEMBAGA PENDIDIKAN SWASTA) DALAM SISTEM PENDIDIKAN  NASIONAL MASYARAKAT INI DISEBUT  “ PENDIDIKAN KEMASYARAKATAN”

PENDIDIKAN KEMASYARAKATAN

ADALAH USAHA SADAR YANG JUGA MEMBERIKAN KEMUNGKINAN PERKEMBANGAN SOSIAL , KULTURAL KEAGAMAAN, KETRAMPILAN, KEAHLIAN YANG DAPAT DIMANFAATKAN OLEH RAKYAT UNTUK MENGEMBANGKAN DIRINYA DAN MEMBANGUN MASYARAKAT.

BENTUK PENDIDIKAN KEMASYARAKATAN DIHARAPKAN DAPAT MEMPEROLEH  KEMAMPUAN DAN KEAHLIAN  YANG DAPAT DIPRASYARATKAN  MEMASUKI  LAPANGAN KERJA

SECARA KONKRIT PENDIDIKAN KEMASYARAKATAN DAPAT MEMBERIKAN :

•      KEMAMPUAN PROFESIONAL UNTUK MENGEMBANGKAN KARIER MELALUI KURSUS, PENATARAN, LOKAKARYA, SEMINAR.

•      KEMAMPUAN TEKNIS AKADEMIS , SEKOLAH TERBUKA.

•      KEMAMPUAN MENGEMBANGKAN KEHIDUPAN BERAGAMA, PESANTREN, SEKOLAH MINGGU, PASRAMAN

•      KEMAMPUAN MENGEMBANGANKAN KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA, BENGKEL SENI, TEATER, SENI BELA DIRI.

•      KEAHLIAN DAN KETRAMPILAN MELALUI SISTEM MAGANG, AHLI BANGUNAN, MESIN

DALAM MELAKSANAKANNYA PERGURUAN SWASTA BERKEWAJIBAN MELAKSANAKAN KETENTUAN-KETENTUAN  POKOK PENDIDIKAN NASIONAL, STANDARISASI, DAN AKREDITASI

PENDIDIKAN KEMASYARAKATAN MEMPUNYAI ANDIL DALAM MENCAPAI
TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DALAM PERANNYA ANTARA LAIN :

•              PENDIDIKAN MANUSIA SEBAGAI MAHLUK INDIVIDU, MEMBANTU MEMBENTUK MANUSIA YG CERDAS, SESUAI DENGAN KONDISI DAN FUNGSI PERGURUAN SWASTA TERSEBUT.

•              PENDIDIKAN MANUSIA SEBAGAI MAHLUK SUSILA, DENGAN DIBEKALI PENDIDIKAN TENTANG PANCASILA

•              PENDIDIKAN MANUSIA SEBAGAI MAHLUK SOSIAL , DITUMBUH KEMBANGKAN  AGAR MAMPU HIDUP BERSAMA-SAMA SECARA BERTANGGUNG JAWAB UNTUK MENCAPAI KESEJAHTERAAN SOSIAL

•              PENDIDIKAN MANUSIA SEBAGAI MAHLUK RELIGIUS, DIBEKALI DENGAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN

III. KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP DAN BERBAGAI IMPLIKASINYA

DALAM GBHN DINYATAKAN BAHWA “ PENDIDIKAN BERLANGSUNG SEUMUR HIDUP DAN DILAKSANAKAN DIDALAM LINGKUNGAN RUMAH TANGGA, SEKOLAH DAN MASYARAKAT”. KARENA ITU PENDIDIKAN IALAH TANGGUNG JAWAB BERSAMA ANTARA KELUARGA, PEMERINTAH DAN MASYARAKAT.

(KONSEP INI MENGHARAPKAN BAHWA SETIAP MANUSIA INDONESIA SELALU BERKEMBANG SEPANJANG HIDUP).

A. PENDIDIKAN SEKOLAH DAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

DALAM KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP PENDIDIKAN SEKOLAH DAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH HARUS SALING MENGISI DAN SALING MEMPERKUAT.

PHILIP H. COOMBS MENGKLASIPIKASIKAN PENDIDIKAN KEDALAM TIGA BAGIAN

•            PENDIDIKAN INFORMAL

•            PENDIDIKAN FORMAL

•            PENDIDIKAN NON FORMAL

•            PENDIDIKAN INFORMAL ADALAH PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH YANG TIDAK DILEMBAGAKAN

•            PENDIDIKAN FORMAL ADALAH LEMBAGA SEKOLAH

•            PENDIDIKAN NON FORMAL ADALAH PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH YANG  DILEMBAGAKAN

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH YANG TIDAK DILEMBAGAKAN
(PENDIDIKAN INFORMAL)

ADALAH PROSES PENDIDIKAN YG DIPEROLEH SESEORANG DARI PENGALAMAN SEHARI-HARI DENGAN SADAR ATAU TIDAK SADAR PADA UMUMNYA TIDAK TERATUR DAN SISTEMATIS (DALAM KELUARGA, TETANGGA, PEKERJAAN DAN DALAM PERGAULAN SEHARI-HARI/LINGKUNGAN)

PENDIDIKAN SEKOLAH

ADALAH PENDIDIKAN DI SEKOLAH  YANG TERATUR DAN SISTEMATIS , MEMPUNYAI JENJANG DAN DI BAGI DALAM WAKTU TERTENTU YANG BERLANGSUNG DARI TAMAN KANAK-KANAK SAMPAI PERGURUAN TINGGI

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH YANG DILEMBAGAKAN

ADALAH SEMUA BENTUK PENDIDIKAN YG DISELENGARAKAN DENGAN SENGAJA, TERTIB, TERARAH DAN TERENCANA DI LUAR KEGIATAN PERSEKOLAHAN (DALAM HAL INI TENAGA PENGAJAR, WAKTU DAN FASILAS SERTA MATERI DISESUAIKA DENGAN KEADAAN PESERTA).

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH  YANG DILEMBAGAKAN MEMPUNYAI CALON PESERTA DIDIK YAITU :

•PENDUDUK USIA SEKOLAH YANG TIDAK MENDAPATKAN KESEMPATAN UNTUK SEKOLAH.

•ORANG DEWASA YANG TIDAK PERNAH SEKOLAH

•PESERTA DIDIK YANG PUTUS SEKOLAH

•PESERTA DIDIK YANG TELAH LULUS SATU SISTEM PENDIDIKAN TETAPI TIDAK DAPAT MELANJUTKAN STUDINYA.

•ORANG YANG TELAH BEKERJA, TETAPI INGIN MENAMBAH KETRAMPILAN LAIN

ADA 4 KONSEP KUNCI PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP YAITU :

  1. KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP ITU SENDIRI YAITU PENDIDIKAN YANG DIJALANKAN DARI YANG ANAK SAMPAI YANG TUA.
  2. KONSEP BELAJAR SEUMUR HIDUP YAITU BELAJAR TIDAK MENGENAL BATAS DAN TEMPAT.
  3. KONSEP PELAJAR SEUMUR HIDUP YAITU DENGAN BELAJAR SEUMUR HIDUP MAKA MEREKA SADAR AKAN DIRINYA SEBAGAI PELAJAR SEUMUR HIDUP
  4. KURIKULUM YANG MEMBANTU PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP YAITU DIDESAIN ATAS DASAR PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP, TELAH MENGHASILKAN PELAJAR SEUMUR HIDUP  DAN SECARA BERURUTAN MELAKSANAKAN BE;LAJAR SEUMUR HIDUP

IV. PERANAN KELUARGA DAN MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN

•              PERANAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN.

KELUARGA ADALAH LEMBAGA PENDIDIKAN YANG PERTAMA DAN UTAMA, KARENA DALAM KELUARGALAH MANUSIA DILAHIRKAN, BERKEMBANG MENJADI DEWASA DIDALAM KELUARGA AKAN TERCIPTA  WATAK, BUDI PEKERTI DAN KEPRIBADIAN  TIAP MANUSIA,

(PENDIDIKAN YANG DITERIMA DALAM KELUARGALAH YANG AKAN DIGUNAKAN OLEH ANAK SEBAGAI DASAR UNTUK MENGIKUTI PENDIDIKAN SELANJUTNYA DI SEKOLAH)

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB ORANG TUA DALAM KELUARGA  TERHADAP PENDIDIKAN ANAK BERSIFAT :

  1. PEMBENTUKAN WATAK
  2. BUDI PEKERTI
  3. LATIHAN KETRAMPILAN
  4. PENDIDIKAN SOSIAL
  5. NILAI RELIGIUS

PERANAN MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN

MASYARAKAT MERUPAKAN LEMBAGA PENDIDIKAN YANG KETIGA  YANG MEMPUNYAI KERAGAMAM BENTUK DAN SIFAT TETAPI AKIBAT DARI KERAGAMAN INILAH YANG AKAN MENAMBAH KHASANAH BUDAYA BANGSA .

PERANAN MASYARAKAT TERSEBUT DILAKSANAKAN MELALUI JALUR :

•             PERGURUAN SWASTA

•             DUNIA USAHA

•             KELOMPOK PROFESI

•             LEMBAGA NASIONAL SWASTA LAINNYA.

PERANAN PERGURUAN SWASTA

YANG DIMAKSUD PERGURUAN SWASTA YAITU USAHA-USAHA DARI MASYARAKAT YANG SECARA LANGSUNG MENGELOLA DAN MENYELENGGARAKAN PENDIDIKAN FORMAL YANG BERBENTUK BADAN HUKUM SERTA MENJALAN PERUNDANGAN YANG BERLAKU, STANDARISASI DAN AKREDITASI.

PERGURUAN SWASTA DAPAT MENYELENGGARAKAN SEMUA JENIS DAN JENJANG PENDIDIKAN KECUALI PENDIDIKAN KEDINASAN

PERANAN DUNIA USAHA

HUBUNGAN DUNIA USAHA DENGAN PENDIDIKAN DAPAT DILIHAT DARI DUA SEGI YAITU :

•              DUNIA USAHA SEBAGAI KONSUMEN PENDIDIKAN DALAM ARTI DUNIA USAHA MEMANFAATKAN  DAN MENGAMBIL HASIL PENDIDIKAN YAITU BERUPA LULUSAN.

•              DUNIA USAHA SEBAGAI PENGEMBANG DAN PELAKSANA DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

PERANAN KELOMPOK PROFESI

KELOMPOK PROFESI MENJADI SANGAT PENTING KARENA MEREKA MEMILIKI KETRAMPILAN DAN KEAHLIAN. PERANAN KELOMPOK PROFESI DALAM PENDIDIKAN ANTARA LAIN ADALAH :

•            MERENCANAKAN DAN MENYELENGGARAKAN  LATIHAN KETRAMPILAN DAN KEAHLIAN.

•            MENJAMIN DAN MENGUJI KUALITAS KETRAMPILAN DAN KEAHLIAN TERSEBUT

•            MENYEDIAKAN TENAGA-TENAGA PENDIDIKAN  UNTUK BERBAGAI JENIS PENDIDIKAN TERUTAMA PENDIDIKAN KEMASYARAKATAN DAN PENDIDIKAN KHUSUS.

PERANAN LEMBAGA SWASTA LAINNYA

DIDALAM MASYARAKAT BERKEMBANG PULA LEMBAGA-LEMBAGA SWASTA NASIONAL LAINNYA YANG MENGELOLA DAN MENYELENGGARAKAN KEGIATAN SOSIAL, KEBUDAYAAN , KEAGAMAAN , PENELITIAN , KETRAMPILAN DAN KEAHLIAN

PERANAN INI TERUTAMA DIHARAPKAN DALAM RANGKA PELAKSANAAN KEGIATAN PENDIDIKAN KEMASYARAKATAN  YANG MEMPUNYAI EFEK SOSIAL.

TUGAS KELOMPOK

l     BUATKAN MAKALAH

l     FORMAT MAKALAH

A. PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

2. PERMASALAHAN

3. TUJUAN PENULISAN

B  PEMBAHASAN

D. KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

(CATATAN DAFTAR PUSTAKA MINIMAL 5 LITERATUR )

JUDUL MAKALAH

l           PERANAN PENDIDIKAN DALAM PENGEMBANGAN PESERTA DIDIK

l           FUNGSI DAN PERAN PENDIDIKAN FORMAL DALAM  PENGEMBANGAN PESERTA DIDIK

3.    FUNGSI DAN PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN KELUARGA DALAM MENGEMBANGAN BUDI PEKERTI ANAK

VI. SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

l   PENGERTIAN SISTEM : Istilah sistem berasal dari bahasa Yunani     “ Systema” yang berarti sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan

ISTILAH SISTEM DIPAKAI UNTUK MENUNJUK BEBERAPA PENGERTIAN MISALNYA

l    Dipakai untuk menunjuk adanya suatu himpunan bagian-bagian yang saling berkaitan secara alamiah sehingga menjadi suatu kesatuan yang bulat dan terpadu contoh : sistem tata surya

l    Sistem dapat menunjuk adanya alat-alat atau organ tubuh secara keseluruhan yang mempunyai andil didalaam menjalankan fungsi tubuh contoh : Sistem Saraf

l    Sistem dapat dipakai untuk menunjuk sehimpunan gagasan atau ide yang tersusun dan terorganisasi sehingga membentuk suatu kesatuan yang logis contoh : Sistem pemerintahan

l    Sistem dapat digunakan untuk menunjuk pada suatu cara atau metode contoh : Sistem belajar jarak jauh

MANURUT DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, SETIAP SISTEM MEMPUNYAI CIRI-CIRI SEBAGAI BERIKUT :

l      TUJUAN , Setiap sistem mempunyai tujuan sebagai contoh lembaga pendidikan adalah memberikan palayanan pendidikan kepada yang membutuhkan

l      FUNGSI-FUNGSI, Dengan adanya tujuan yang harus dicapai, oleh suatu sistem menuntut terlaksananya berbagai fungsi yang diperlukan yaitu dengan adanya fungsi perencanaan, fungsi pelaksanaan, pengawasan dan penilaian

l      KOMPONEN-KOMPONEN, sistem ini terdiri dari komponen-komponen dan masing-masing komponen memiliki fungsi khusus

l      INTERAKSI ATAU SALING HUBUNGAN, Semua sistem yang ada tentunya saling berinteraksi atau saling berhubungan satu dengan yang lain

l      PENGAMBUNGAN YANG MENIMBULKAN PERPADUAN, Mengadakan suatu pengambungan dari beberapa sistem sehingga akan terjalin suatu keterpaduan sasaran yang diinginkan

l      PROSES TRANSFORMASI, semua sistem mempunyai misi untuk mencapai tujuan. Untuk itu diperlukan suatu proses yang memproses masukan (input) menjadi hasil (output)

l      UMPAN BALIK UNTUK KOREKSI, untuk mengetahui apakah masing-masing fungsi terlaksana dengan baik, maka diperlukan kontrol untuk memberikan koreksi, hasil koreksi dijadikan bahan pertimbangan untuk penyempuarnaan lebih lanjut

l      DAERAH BATASAN ATAU LINGKUNGAN, Antara suatu sistem yang satu dengan dengan lain tentunya mempunyai daerah batasan tertentu.

PENDIDIKAN SEBAGAI SUATU SISTEM

l   PENDIDIKAN MERUPAKAN SUATU USAHA UNTUK MENCAPAI TUJUAN PENDIDIKAN

l   SUATU USAHA PENDIDIKAN MENYANGKUT TIGA UNSUR POKOK YAITU UNSUR MASUKAN, UNSUR PROSES USAHA DAN UNSUR HASIL USAHA

PROSES PENDIDIKAN SEBAGAI SUATU SISTEM

DEPARTEMEN PENDIDIKAN MENJELASKAN BAHWA PENDIDIKAN MERUPAKAN SUATU SISTEM YANG MEMPUNYAI UNSUR-UNSUR

l    TUJUAN / SASARAN PENDIDIKAN

l    PESERTA DIDIK

l    PENGGELOLA  PENDIDIKAN

l    STRUKTUR /JENJANG

l    KURIKULUM

l    PERALATAN/PASILITAS

( UNSUR-UNSUR TERSEBUT SALING BERKAITAN DAN SALING MEMPENGARUHI SATU DENGAN LAIN)

P.H. COMBS , MENGEMUKAKAN 12 KOMPONEN PENDIDIKAN YAITU

1.   TUJUAN DAN PRIORITAS

2.   PESERTA DIDIK

3.  MANAJEMEN DAN PENGGELOLAAN

4.  STRUKTUR DAN JADWAL WAKTU

5.  ISI DAN BAHAN PELAJARAN

6.  GURU DAN PELAKSANA

7.  ALAT BANTU BELAJAR

8.  FASILITAS

9.  TEKNOLOGI

10.  PENGAWASAN MUTU

11. PENELITIAN

12. BIAYA

1. TUJUAN DAN PRIORITAS

fungsinya mengarahkan kegiatan sistem , hal ini merupakan informasi tentang apa yang hendak dicapai dan urutan pelaksanaannya

2. PESERTA DIDIK

Fungsinya ialah belajar, diharapkan peserta didik mengalami proses perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan pendidikan

3. MANAJEMEN ATAU PENGGELOLA

Fungsinya mengkoordinasikan, mengarahkan dan menilai sistem pendidikan

4. STRUKTUR DAN JADWAL WAKTU

Fungsinya mengatur pembagian waktu dan kegiatan kegiatan pendidikan

5. ISI DAN BAHAN PELAJARAN

Fungsinya untuk mengambarkan luas dan dalamnya bahan pelajaran yang harus dikuasai peserta didik, juga mengarahkan  dan mempolakan kegiatan dalam proses pendidikan

6. GURU DAN PELAKSANA

Fungsinya menyediakan bahan pelajaran dan menyelenggarakan proses belajar untuk  peserta didik

7. ALAT BANTU BELAJAR

Fungsinya untuk memungkinkan terjadinya proses pendidikan yang lebih menarik dan lebih bervariasi

8. FASILITAS

Fungsinya untuk tempat terselenggaranya proses pendidikan

9. TEKNOLOGI

Fungsinya memperlancar dan meningkatkan hasil guna proses pendidikan

10. PENGAWASAN MUTU

Fungsinya membina peraturan-peraturan  dan standar pendidikan

11.  PENELITIAN

Fungsinya untuk memperbaiki dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan

12. BIAYA

Fungsinya memperlancar proses pendidikan

PENGERTIAN PENDIDIKAN NASIONAL

MENURUT SUNARYA (1969) PENDIDIKAN NASIONAL ADALAH SUATU SISTEM PENDIDIKAN YANG BERDIRI DIATAS LANDASAN DAN DIJIWAI OLEH FALSAFAH HIDUP SUATU BANGSA DAN TUJUANNYA BERSIFAT MENGABDI KEPADA KEPENTINGAN DAN CITA-CITA NASIONAL BANGSA TERSEBUT.

UNDANG-UNDANG NO.20 TAHUN 2003 TENTANG SISDIKNAS

PENDIDIKAN NASIONAL ADALAH PENDIDIKAN YANG BERDASARKAN PANCASILA DAN UUD 1945 YANG BERAKAR PADA NILAI-NILAI AGAMA, KEBUDAYAAN NASIONAL INDONESIA DAN TANGGAP TERHADAP TUNTUTAN PERUBAHAN ZAMAN

PENGERTIAN SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

l     MENURUT UU NO 20 TAHUN 2003 YAITU KESELURUHAN KOMPONEN PENDIDIKAN YANG SALING BERKAITAN SECARA TERPADU  UNTUK MENCAPAI TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

l     ZAHAR IDRIS ADALAH KARYA MANUSIA  YANG TERDIRI DARI KOMPONEN-KOMPONEN  YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN FUNGSIONAL DALAM RANGKA MEMBANTU TERJADINYA  PROSES TRANSFORMASI ATAU PERUBAHAN TINGKAH LAKU

BAB. VII DEMOKRASI PENDIDIKAN

l           PENGERTIAN DEMOKRASI PENDIDIKAN DALAM PENGERTIAN YANG LUAS MENGANDUNG TIGA HAL YAITU :

l           RASA HORMAT TERHADAP HARKAT MANUSIA

l           SETIAP MANUSIA MEMILIKI PERUBAHAN KEARAH PIKIRAN YANG SEHAT

l           RELA BERBAKTI UNTUK KEPENTINGAN BERSAMA

PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI DALAM PENDIDIKAN

l           SELALU TERKAIT DENGAN MASALAH-MASALAH :

l           HAK AZASI SETIAP WARGA NEGARA UNTUK MEMPEROLEH PENDIDIKAN

l           KESEMPATAN YANG SAMA BAGI WARGA NEGARA UNTUK MEMPEROLEH PENDIDIKAN

l           HAK DAN KESEMPATAN ATAS DASAR KEMAMPUAN MEREKA

JIKA PENGEMBANGAN DEMOKRASI PENDIDIKAN BERORIENTASI PADA CITA-CITA DAN NILAI DEMOKRASI BERARTI SELALU MEMPERHATIKAN PRINSIP-PRINSIP

l         MENJUNJUNG TINGGI HARKAT DAN MARTABAT MANUSIA SESUAI DENGAN NILAI-NILAI LUHURNYA

l         WAJIB MENGHORMATI DAN MELINDUNGI HAK AZASI MANUSIA YANG BERMARTABAT DAN BERBUDI PEKERTI LUHUR

l         MENGUSAHAKAN SUATU PEMENUHAN HAK UNTUK MEMPEROLEH PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

DEMOKRASI PENDIDIKAN DI INDONESIA DAPAT DILIHAT DALAM

l         UUD 1945 PASAL 31 YAITU:

l          TIAP-TIAP WARGA NEGARA BERHAK MENDAPAT PENGAJARAN

l          PEMERINTAH MENGUSAHAKAN DAN MENYELENGGARAKAN SATU SISTEM PENGAJARAN NASIONAL YANG DIATUR DENGAN UNDANG-UNDANG

UNDANG-UNDANG RI NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

BAB IV

HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA, ORANG TUA, MASYARAKAT DAN PEMERINTAH

PASAL 5

AYAT 1. SETIAP WARGA NEGARA MEMPUNYAI HAK YANG SAMA UNTUK MEMPEROLEH PENDIDIKAN YANG BERMUTU

VIII. ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN

l    ALIRAN – ALIRAN PENDIDIKAN  DIMULAI SEJAK AWAL HIDUP MANUSIA.

l    KARENA SETIAP KELOMPOK MANUSIA DIHADAPKAN PADA GENERASI MUDA KETURUNANNYA YANG MEMERLUKAN PENDIDIKAN YANG LEBIH BAIK DARI ORANG TUANYA.

Aliran Klasik dan gerakan baru dalam pendidikan

Pemikiran – pemikran tentang pendidikan telah dimulai pada zaman yunani Kuno, dan dengan kontribusi berbagai bagian dunia lainnya, akhirnya berkembang pesat di eropa dan amerika.

(oleh sebab itulah baik aliran klasik maupun gerakan baru dalam pendidikan pada umumnya berasal dari dua kawasan itu)

Penyebaran yang dilakukan oleh dua kawasan tersebut menyebabkan pemikiran-pemikiran pada umumnya menjadi acuan dalam penetapan kebijakan di bidang  pendidikan di berbagai negara

ALIRAN –ALIRAN Klasik PENDIDIKAN

l   ALIRAN EMPIRISME

l   ALIRAN NATIVISME

l   ALIRAN NATURALISME

l   ALIRAN KONVERGENSI

ALIRAN EMPIRISME

l   BERTOLAK DARI LOCKEAN TRADITION YANG MEMENTINGKAN STIMULASI EKSTERNAL DALAM PERKEMBANGAN MANUSIA, DAN MENYATAKAN BAHWA PERKEMBANGAN ANAK TERGANTUNG KEPADA LINGKUNGAN, SEDANGKAN PEMBAWAAN TIDAK DIPENTINGKAN

TOKOH PERINTIS AJARAN INI ADALAH JHON LOCKE (1704-1932)

l    YANG MENGEMBANGKAN TEORI “ TABULA RASA”, YAKNI ANAK LAHIR KEDUNIA BAGAIKAN KERTAS PUTIH YANG BERSIH

PENGALAMAN EMPIRIK YANG DIPEROLEH DARI LINGKUNGAN AKAN BERPENGARUH BESAR DALAM MENENTUKAN PERKEMBANGAN ANAK

ALIRAN NATIVISME

l    ALIRAN INI BERTITIK TOLAK PADA KEMAMPUAN DARI DALAM DIRI ANAK, SEHINGGA FAKTOR LINGKUNGAN, TERMASUK FAKTOR PENDIDIKAN, KURANG BERPENGARUH TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK

l    HASIL PERKEMBANGAN DITENTUKAN OLEH PEMBAWAAN YANG SUDAH DIPEROLEH SEJAK LAHIR

SCHOPENHAUER (1788-1860)

l    BERPENDAPAT BAHWA BAYI ITU LAHIR SUDAH DENGAN PEMBAWAAN BAIK DAN PEMBAWAAN BURUK. OLEH KARENA ITU HASIL AKHIR PENDIDIKAN DITENTUKAN OLEH PEMBAWAAN YANG SUDAH DIBAWA SEJAK LAHIR

l    ALIRAN INI MENEKANKAN BAHWA “ YANG JAHAT AKAN MENJADI JAHAT DAN YANG BAIK AKAN MENJADI BAIK”

ALIRAN NATURALISME

l    Aliran ini hampir sama dengan aliran nativisme, yang dipelopori oleh seorang filsuf prancis J.J. ROUSSEAU (1712-1778)

l    SEMUA ANAK YANG BARU DILAHIRKAN MEMPUNYAI PEMBAWAAN BURUK. PEMBAWAAN BAIK ANAK AKAN MENJADI RUSAK KARENA DIPENGARUHI OLEH LINGKUNGAN. DISINI IA MENEKANKAN BAHWA PENDIDIKAN TIDAK DIPERLUKAN.

ALIRAN KONVERGENSI

l    PERINTIS ADALAH WILLIAM STERN (1871-1939), BERPENDAPAT BAHWA SEORANG ANAK DILAHIRKAN DIDUNIA SUDAH DISERTAI PEMBAWAAN BAIK MAUPUN BURUK, DAN DALAM PROSES PERKEMBANGAN ANAK , BAIK FAKTOR PEMBAWAAN MAUPUN FAKTOR LINGKUNGAN SAMA-SAMA MEMPUNYAI PERANAN YANG SANGAT PENTING.

l    BAKAT YANG DIBAWA PADA WAKTU LAHIR TIDAK AKAN BERKEMBANG DENGAN BAIK TANPA ADANYA DUKUNGAN LINGKUNGAN YANG SESUAI DENGAN BAKAT ITU (SEBALIKNYA).

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Materi Pengembangan Kurikulum

September 12, 2009 at 6:58 am (Bahan Kuliah, Materi Kuliah Pengembangan Kurikulum)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. PENGERTIAN KURIKULUM.

Hingga dewasa ini, definisi kurikulum yang dikemukakan  orang banyak sekali , dan antara satu definisi dengan definisi yang lain tidak sama. Walaupun demikian, terdapat dalam studi kurikulum yang telah dilakukan oleh banyak ahli menunjukan bahwa pengertian kurikulum dapat ditinjau dari dua segi yang berbeda, yakni tinjauan menurut menurut pandangan lama dan tinjauan menurut pandangan baru.

Pengertian kurikulum menurut pandangan lama atau pandangan tradisional merumuskan bahwa : adalah sejumlah  mata pelajaran yang harus ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijazah. Definisi-definisi kurikulum yang bersifat tradisional biasanya masih menampakkan adanya kecenderungan penekanan pada rencana pelajaran untuk menyampaikan mata palajaran kepada anak didik yang biasanya berisi kebudayaan (hasil budi daya) masa lampau atau sejumlah ilmu pengetahuan. Anak yang berhasil melewati tahap ini berhak untuk memperoleh ijazah. Kebudayaan atau sejumlah ilmu pengetahuan yang akan disampaikan tersebut bersumber pada buku-buku yang baik atau dianggap bermutu, sehingga kurikulumterutama dalam hal tujuan intruksional dan pemilihan bahan pengajaran lebih banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh buku-buku tersebut. Dihubungakan dengan kebutuhan pengalaman anak yang diharapkan terpenuhi melalui kegiatan belajar mengajar disekolah, ternyata hal tersebut kurang menguntungkan karena membatasi pangalaman anak dalam proses belajar mengajar di kelas saja dan kurang memperhatikan pengalaman-pengalaman lain yang diperoleh diluar kelasa. Kurikulum yang seperti ini atau dikenal dengan Subjek Centered Curiculum, yaitu kurikulum yang perpusast pada materi pelajaran dan hanya menekankan aspek intelektual saja dan mengabaikan aspek-aspek yang lain yang juga sangat berpengaruh dalam perkembangan kejiwaan siswa.

Sejalan dengan perkembangan jaman dan kebutuhan masyarakat, mulai ditinggalkan orang karena dianggap terlalu sempit dan terbatas dan orang mulai mencari penemuan-penemuan baru. Seperti yang dikemukakan oleh David Pratt dalam Curiculum, Design and Development (1980 ; 4) mendefinisikan kurikulum secara sederhana, yaitu sebagai seperangkat organisasi pendidikan formal atau pusat-pusat latihan. Selanjutnya ia membuat implikasi secara lebih eksplisit tentang definisi yang dikemukakannnya tersebut menjadi enam hal , yaitu

1)      Kurikulum adalah suatu rencana, ia mungkin hanya berupa perencanaan (mental) saja, tapi pada umumnya diwujudkan dalam bentuk tulisan;

2)      Kurikulum bukanlah kegiatan, melainkan perencanaan atau rancangan kegiatan;

3)      Kurikulum berisi berbagai macam hal seperti masalah apa yang harus dikembangkan pada diri siswa, evaluasi untuk menafsirkan hasil belajar, bahan dan peralatan yang dipergunakan, kualitas guru yang dituntut, dan sebagainya;

4)      Kurikulum melibatkan maksud atau pendidikan formal, maka ia sengaja mempromosikan belajar dan menolak sifat ngambang, tanpa rencana atau kegiatan tanpa belajar;

5)      Sebagai perangkat organisasi pendidikan, kurikulum menyatukan berbagai komponen seperti tujuan, isi, sistem penilaian dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan. Atau dengan kata lain, kurikulum adalah sebuah sistem ;

6)      Pendidikan dan latihan dimaksudkan untuk menghindari kesalah pahaman yang terjadi jika suatu hal dilalaikan .

Kemudian menurut Romine (1954). Yang juga dapat digolongkan sebagai pendapat baru yaitu : “ Curiculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, and experiences which pupils have under directions of the school, whether in the classroom or not “.

Implikasi dari perumusan ini adalah :

1)      Tafsiran tentang kurikulum bersifat luas, oleh karena kurikulum bukan saja terdiri dari matapelajaan ( courses ) tetapi meliputi semua kegiatan dan pengalaman yang menjadi tanggung jawab sekolah ;

2)      Kegiatan-kegiatan diluar kelas (yang  dikenal dengan kegiatan ekstra kurikuler ) sudah tercakup dalam pengertian kurikulum. Jadi tidak ada pemisahan antara ekstra dan intra kurikulum.

3)      Pelaksanaan kurikulum tidak dibatasi hanya kepada keempat dinding kelas saja, melainkan dilaksanakan baik didalam maupun diluar kelas, sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai ;

4)      Sistem penyampaian yang dilakukan oleh guru disesuaikan dengan kegiatan atau pengalaman yang akan disampaikan.

Dari berbagai pengertian diatas, baik kurikulum lama (tradisional) maupun kurikulum modern maka dapat kita bedakan sebagai berikut :

1)      Kurikulum lama berorientasi pada masa lampau, yang mana guru mengajarkan pengalaman sebelumnya, sedangkan kurikulum baru berorientasi pada masa sekarang sebagai persiapan untuk masa yang akan datang, pengajaran berdasarkan unit atau topik dari kehidupan masyarakat dan sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa ;

2)      Kurikulum lama berdasarkan pada tujuan pendidikan yang mengutamakan perkembangan segi pengetahuan akademik dan ketrampilan, belajar lebih ditekankan pada unsur mengingat dan latihan-latihan belaka, sedangkan kurikulum baru bertujuan untuk mengembangkan keseluruhan pribadi siswa, belajar bertujuan untuk mampu hidup didalam masyarakat ;

3)      Kurikulum lama berpusat pada mata pelajaran yang diajarkan secara terpisah-pisah. Kadang-kadang memang dilakukan semacam korelasi, tetapi korelasi itu hanya dilakukan diantara unsur-unsur tertentu saja diantara beberapa mata pelajaran, sedangkan kurikulum baru disusun berdasarkan masalah atau topik dimana siswa belajar dengan mengalami sendiri , merupakan suatu proses dalam memperkuat tingkah laku  melalui pengalaman dengan menggunakan matapelajaran . Karena itu kurikulum disusun dalam bentuk bidang studi yang luas yang diintegrasi dari semua matapelajaran;

4)      Kurikulum lama semata-mata didasarkan pada buku pelajaran (texbook) sebagai sumber bahan dalam mengajarkan matapelajaran, sedangkan kurikulum baru bertitik tolak pada masalah kehidupan, yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan, minat dan kebutuhan individu . Bahkan sumber yang paling luas adalah masyarakat itu sendiri.

5)      Kurikulum lama dikembangkan oleh guru-guru secara perorangan, mereka yang menentukan bahan dan pengalaman yang akan diajarkan dan mereka pula yang menentukan  sumber bahan , sedangkan kurikulum baru dikembangkan oleh team guru bersama-sama atau oleh suatu departemen tertentu. Setiap guru terikat pada konsep yang telah disusun oleh team atau oleh departemen dengan tidak mengurangi kebebasan guru untuk mengadakan beberapa penyesuaian dalam batas-batas tertentu.

  1. PERANAN KURIKULUM.

Kurikulum sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara sistematis menggemban peranan yang sangat penting bagi pendidikan para siswa. Disini kita dapat menentukan 3 (tiga) jenis peranan kurikulum yang dinilai sangat penting yaitu  (1). Peranan konservatif ; (2). Peranan Kritis atau Evaluatif, (3). Peranan Kreatif. Ketiga peranan ini sama pentingnya dan diantara ketiganya perlu dilaksanakan secara berkesinambungan.

(1). Peranan Konservatif.

Salah satu tanggung jawab kurikulum adalah mentranspormasikan dan mentransmisikan warisan sosial (kebudayaan) kepada generasi muda. Dengan demikian sekolah sebagai suatu lembaga sosial dapat membina tingkah laku siswa yang sesuai dengan nilai-nilai sosial di masyarakat. Dan juga karena pendidikan itu sendiri pada hakekatnya berfungsi untuk menjembatani antara         siswa dengan orang dewasa didalam suatu proses pembudayaan yang semakin berkembang. Karena adanya peranan konservatif ini, maka sesungguhnya kurikulum itu berorientasi pada masa lampau , namun demikian peranan ini sangat mendasar sifatnya.

(2). Peranan Kritis atau Evaluatif.

Kebudayaan senantiasa berubah dan bertambah. Sekolah tidak hanya mewariskan kebudayaan yang ada , melainkan juga menilai, memilih kebudayaan yang akan diwariskan. Dalam hal ini , kurikulum harus turut aktif berpartisifasi dalam kontrol sosial dan menekankan pada unsur-unsur berpikir kritis. Nilai-nilai yang tidak sesuai lagi dengan keadaan masa mendatang dihilangkan atau dimodifikasikan, dengan demikian kurikulum perlu mengadakan pilihan yang tepat atas dasar kriteria tertentu.

(3). Peranan Kreatif.

Kurikulum melakukan kegiatan-kegiatan kreatif dalam arti mencipta dan menyusun sesuatu yang baru sesuai dengan kebutuhan masa sekarang dan masa mendatang  dalam masyarakat. Guna membantu semua individu dalam mengebangkan semua potensi yang ada padanya maka kurikulum menciptakan pelajaran, pengalaman, cara berpikir, kemampuan dan ketrampilan yang baru, dalam arti yang memberi manfaat dalam masyarakat.

Ketiga peranan tersebut berjalan secara seimbang, dalam arti terdapat keharmonisan diantara ketiganya. Dengan demikian kurikulum akan dapat memenuhi tuntutan waktu dan keadaan dalam membawa para siswa menuju kebudayaan masa depan.

  1. C. FUNGSI KURIKULUM.

Setiap lembaga pendidikan formal maupun nonformal dalam menyelenggaraka pendidikan sehari-hari harus berlandaskan pada kurikulum. Dalam lingkup pendidikan formal kegiatan merancang, melaksanakan dan menilai kurikulum tersebut yaitu yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan , dilaksanakan sebagai program pengajaran. Disamping kurikulum mempunyai peranan, juga mempunyai fungsi kurikulum yang secara umum dapat kita bagi menjadi tiga segi yaitu fungsi bagi sekolah yang bersangkutan, fungsi bagi sekolah tingkat atasnya, dan fungsi bagi masyarakat (Winarno Surahmad).

  1. Fungsi Bagi Sekolah Yang bersangkutan.

Fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan dapat disebutkan menjadi dua macam . Pertama, sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan. Tujuan pendidikan yang akan dicapai tersebut disusun secara berjenjang mulai tujuan pendidikan yang bersifat nasional sampai tujuan intruksional. Jika tujuan intruksional tercapai (hasilnya langsung dapat diukur melalui kegiatan belajar mengajar  dikelas) yang pada gilirannya akan tercapai pula tujuan-tujuan pada jenjang diatasnya. Setiap kurikulum sekolah didalamnya pasti tercantum tujuan-tujuan pendidikan yang harus dicapai melalui kegiatan pengajaran. Kedua, kurikulum dijadikan pedoman untuk mengatur kegiatan-kegiatan pendidikan yang dilaksanakan disekolah misalnya telah ditentukan macam-macam bidang studi, alokasi waktu, pokok bahasan, sumber bahan, metode dan cara mengajar, alat dan media yang diperlukan disamping itu kurikulum juga mengatur mengenai hubungan dengan jenis program , cara penyelenggaraan, strategi pelaksanaan, penanggung jawab dan sebagainya.

  1. Fungsi Bagi Sekolah Yang diatasnya.

Dalam hal ini kurikulum dapat mengontrol atau memelihara kesimbangan proses pendidikan. Dengan mengetahui kurikulum sekolah pada tingkat tertentu , maka kurikulum pada tingkat diatasnya dapat mengadakan penyesuaian yang mana jika suatu bidang studi telah diberikan pada kurikulum sekolah ditingkat bawahnya, harus dipertimbangkan lagi pemilihan bahan pelajaran. Penyesuaian bahan tersebut dimaksudkan untuk menghindari keterulangan materi yang menyebabkan pemborosan waktu, dan lebih penting lagi untuk menjaga kesinambungan bahan pengajaran itu.

  1. Fungsi bagi Masyarakat.

Para tamatan sekolah memang dipersiapkan untuk terjun dimasyarakat atau tegasnya untuk bekerja sesuai dengan ketrampilan profesi yang dimilikinya. Oleh karena itu kurikulum sekolah haruslah mengetahui atau mencerminkan hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat atau para pemakai keluaran sekolah. Untuk itu perlu diadakan kerja sama antara pihak sekolah dengan “pihak luar” dalam hal pembenahan kurikulum yang diharapkan. Dewasa ini kesesuaian antara program kurikulum dengan kebutuhan masyarakat harus benar-benar diusahakan, mengingat seringnya terjadi kenyataan bahwa lulusan sekolah belum siap pakai atau tidak sesuai dengan tenaga yang dibutuhkan dalam lapangan pekerjaan.

Disamping ketiga fungsi umum diatas, Alexander Inglis, dalam bukunya Principle of secondary education (1981) menyatakan bahwa fungsi kurikulum adalah sebagai berikut

  1. Fungsi Penyesuaian ( the adjustive of adaptive function)
  2. 2. Fungsi Pengintegrasian (the integrating function)
  3. 3. Fungsi Deferensiasi (the defferentiating function)
  4. 4. Fungsi Persiapan (the propaedeutic function)
  5. 5. Fungsi Pemilihan (the selective function)
  6. 6. Fungsi Diagnostik (the diagnostic function)

1)   Fungsi Penyesuaian.

Individu hidup dalam lingkungan yang mana individu tersebut harus mampu menyesuaikan dirinya terhadap lingkungannya secara menyeluruh. Lingkungan senantiasa berubah, bersifat dinamis, maka individu-individu harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri secara dinamis. Dan dibalik itu lingkungan juga disesuaikan dengan kondisi perorangan.

2)   Fungsi Pengintegrasian.

Kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi . oleh karena pribadi itu sendiri merupakan bagian integral dari masyarakat, maka pribadi yang terintegrasi itu akan memberikan sumbangan dalam rangka pembentukan / pengintegrasian dalam masyarakat.

3)   Fungsi Deferensiasi.

Kurikulum perlu memberikan pelayanan terhadap perbedaan-perbedaan perorangan dalam masyarakat. Pada dasarnya deferensiasi akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat. Akan tetapi tidak berarti bahwa dengan adanya deferensiasi kita mengabaikan solidaritas sosial , melainkan deferensiasi itu sendiri juga untuk menghindarkan terjadinya stagnasi sosial.

4). Fungsi Persiapan.

Kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk suatu jangkauan yang jauh. Mempersiapkan keampuan untuk belajar lebih lanjut ini sangat diperlukan mengingat sekolah tidak mungkin memberikan semua apa yang diperlukan oleh siswa atau memberikan semua apa yang menarik minat mereka.

5).Fungsi Pemilihan.

Antara  keperbedaan (deferensiasi) dengan pemilihan (seleksi) adalah dua hal yang erat sekali hubungannya . pengakuan atas keperbedaan berarti pula diberikannya kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang diinginkannya dan menarik minatnya. Kedua hal tersebut merupakan kebutuhan bagi masyarakat yang menganut sistem demokrasi . untuk mengembangkan kemapuan-kemampuan tersebut , maka kurikulum perlu disusun secara luas dan bersifat fleksibel atau luwes.

6). Fungsi Diagnostik.

Salah satu segi pelayanan pendidikan ialah membantu dan mengarahkan para siswa agar mereka mampu memahami dan menerima dirinya sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang dimilikinya. Ini dapat dilakukan apabila mereka menyadari  semua kelemahan dan kekuatan yang dimilikinya. Sehingga selanjutnya dia sendiri yang memperbaiki kelemahan itu dan mengembangkan sendiri kekuatan yang ada. Fungsi yang demikian ini merupakan salah satu fungsi kurikulum dalam mengdiagnosa dan membimbing para siswa agar dapat berkembang secara optimal.

Fungsi-fungsi tersebut dilaksanakan     oleh kurikulum secara keseluruhan. Fungsi-fungsi itu memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan para siswa sejalan dengan arah dari filsafat pendidikan dan tujuan pendidikan yang diharapkan oleh institusi pendidikan yang bersangkutan.

  1. D. PENDEKATAN STUDI KURIKULUM.

Studi tentang kurikulum sering mempertanyakan tentang jenis pendekatan apa yang dipergunakan dalam pembahasan atau dalam penyusunan kurikulum tersebut. Penggunaan sesuatu jenis pendekatan (approach) atau orientasi pada umumnya menentukan bentuk dan pola yang dipergunakan oleh kurikulum tersebut. Menurut perkembangannya, dapat dikembalikan kedalam empat teori pendekatan, yakni : pendekatan matapelajaran, pendekatan inter disipliner, pendekatan integratif, dan pendekatan sistem. Keempat pendekatan ini masing-masing memiliki penekanan sendiri-sendiri.

  1. Pendekatan Matapelajaran.

Pendekatan ini bertitik tolak dari matapelajaran (Subject matter) seperti sejarah, ekonomi, ilmu biologi dan sebagainya , setiap matapelajaran masing-masing berdiri sendiri sebagai suatu disiplin ilmu, tersimpan dalam kotak-kotak matapelajaran. Matapelajaran itu terlepas satu sama lain, tidak ada hubungannya satu sama lain. Bahkan terdapat kecenderungan dimana setiap matapelajaran itu menganggap dirinya yang paling penting. Itu sebabnya pola kurikulum merupakan kurikulum yang terpisah-pisah. Sistem pembagian tanggung jawab guru adalah        “ guru matapelajaran “ contohnya matapelajaran Biologi, matematika dan lain-lain , inilah yang mengembangkan kurikulum matapelajaran .

  1. Pendekatan Inter disipliner.

Suatu peristiwa dalam masyarakat akan mempengaruhi segi-segi kehidupan lainnya. Itu sebabnya kita tidak mungkin meninjaunya hanya dari satu segi saja, juga tidak mungkin dibahas hanya dengan menggunakan satu matapelajaran melainkan harus ditinjau dari berbagai macam segi ilmu pengetahuan.  Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, maka para ahli berpendapat , bahwa sebaiknya kurikulum sekolah tidak disusun berdasarkan mata-mata pelajaran yang terpisah, melainkan sejumlah matapelajaran yang memiliki ciri-ciri yang sama dipadukan menjadi suatu bidang studi . pendekatan demikian dewasa ini disebut dengan pendekatan inter-disipliner yang berdasarkan pada bidang studi sepeti Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Matematika, Bahasa dan lain-lain.

Pendekatan inter-disipliner terdiri dari tiga jenis pendekatan , ialah pendekatan strukturil, pendekatan fungsional dan pendekatan daerah.

Pendekatan Struktural bertitik tolak dari suatu struktur tertentu yang  terdiri dari suatu disiplin ilmu yang mempelajari berbagai macam disiplin ilmu-ilmu yang lain contohnya kita mempelajari topik ilmu bumi, kemudian dipelajarilah dari segi sejarahnya, ekonominya, antropologi yang tentu saja berada dalam suatu bidang studi yang sama, dalam hal Ilmu Pengetahuan Sosial.

Pendekatan Fungsional bertitik tolak dari suatu masalah tertentu didalam masyarakat atau lingkungan sekolah. Masalah dipilih dan akan dipelajari tersebut adalah masalah-masalah yang berfungsi dan bermakna bagi kehidupan manusia. Berdasarkan masalah-masalah tersebut maka dipelajarilah aspek-aspek dari berbagai disiplin yang berada didalam suatu bidang studi yang sama, yang dinilai relevan dengan masalah yang sedang dipelajari.

Pendekatan Daerah. Bertitik tolak dari pemilihan suatu daerah tertentu sebagai subjek pelajaran, berdasarkan daerah tersebut kemudian dipelajari tentang ekonominya, antropologinya, geografinya, adat-istiadanya  dan sebagainya. Hal-hal yang dipelajari tentu saja adalah hal-hal yang relevandengan daerah tersebut dan berada dalam bidang studi yang sama.

  1. Pendekatan Integratif.

Pendekatan ini bertitik tolak dari suatu keseluruhan atau suatu kesatuan yang bermakna dan berstruktur. Bermakna berarti bahwa setiap suatu keseluruhan itu memiliki makna, arti, faedah, yang merupakan totalitas yang memiliki maknanya sendiri. Tinjauan ini berasumsi bahwa setiap bagian yang ada dalam keseluruhan itu berada dan berfungsi dalam suatu struktur tertentu. Pendidikan anak adalah pendidikan yang seluruhnya , pendidikan dalam rangka pembentukan pribadi yang terintegrasi. Karena itu kurikulum harus disusun sedemikian rupa sehingga mampu mengembangkan pribadi yang utuh , yang bulat dengan mempertimbangkan bahwa anak adalah potensial dan sedang berkembang dan merupakan suatu organisme yang hidup, yang seimbang, dalam masyarakat yang senantiasa berkembang pula.

  1. Pendekatan Sistem .

Sistem adalah suatu totalitas yang terdiri sejumlah komponen atau bagian-bagian . komponen-komponen itu saling berhubungan dan saling berpengaruh satu sama lain. Pendekatan sistem dipergunakan juga sebagai suatu sistem berpikir. Bahkan pendekatan sistem dewasa ini dikembangkan juga dalam rangka pembaharuan pendidikan. Langkah-langkah yang diikuti melalui proses , indentifikasi dan merumuskan masalah, perumusan tujuan-tujuan yang diinginkan, penentuan alternatif jawaban, penentuan melalui suatu analisis/esperimen , selanjutnya kesalahan tersebut direvisi , dan langkah yang terakhir yakni evaluasi.

Dari uraian diatas, maka jelasnya bahwa dalam penyusunan suatu program pendidikan dan kurikulum sangatlah penting ditentukan terlebih dahulu jenis pendekatan apa yang akan dipergunakan . Namun demikian tidaklah berarti bahwa dalam penyusunan kurikulum hanya digunakan suatu pendekatan saja , melainkan beberapa jenis pendekatan dapat saja dipegunakan sekaligus, hal mana dapat kita temukan dalam pembinaan kurikulum tahun 1975.

  1. E. PERANAN GURU DALAM PEMBINAAN KURIKULUM.

Dalam studi tentang ilmu mengajar dan kurikulum, maka masalah guru senatiasa mendapat temapt dalam pembahasannya, disebabkan oleh karena  guru mengemban peranan yang penting dalam berhasil atau tidaknya proses pendidikan. Bahkan pandangan mutakhir menyatakan bahwa “ betapapun bagus dan indahnya suatu kurikulum, maka berhasil atau gagalnya kurikulum tersebut pada akhirnya terletak ditangan pribadi guru “.

Oleh sebab itu maka masalah profesi keguruan, tantangan-tantangan yang dihadapi oleh seorang guru propesional, peranan guru dalam pembiaan kurikulum dan masalah pendidikan guru sangat perlu kita bahas.

Profesi guru dan tantangan-tantangan yang dihadapi. Bahwa jabatan guru adalah suatu jabatan yang profesional, kiranya sudah bukan merupakan persoalan lagi . Pengakuan terhadap profesi ini sudah meluas dan mendapatkan tempat tersendiri dalam ruang lingkup kehidupan profesional  dalam masyarakat. Guru yang profsional adalah guru yang memiliki keahlian sebagai guru, yang keahlian mana yang tidak dimiliki oleh profesi manapun. Karena itu sebagai suatu profesi tentulah harus berbagai persyaratan khusus. Seorang guru tidak hanya harus memenuhi berbagai kualifikasi, baik kepribadian, kemampuan mengajar, penguasaan spesialisasi dalam bidang studi tertentu tetapi juga harus memiliki kemampuan dalam rangka pembinaan kurikulum, terutama kurikulum dari sekolah dimana ia bertugas.

Dalam hubungan dengan pembinaan dan pengembangan kurikulum itu, beberapa masalah dan tantangan perlu dihadapi secara seksama, seperti masalah-masalah sebagai berikut :

(1)     Masalah-masalah dalam hubungan dengan tujuan dan hasil –hasil kurikulum yang duharapkan oleh sekolah, seperti :

  1. Untuk siapa kurikulum itu disediakan /
  2. Apakah kurikulum itu bermaksud mendidik siswa agar mampu menyesuaikan diri atau agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial ?
  3. Apakah kurikulum bermaksud mempersiapkan siswa untuk masa depannya atau untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan sekarang ?
  4. Apakah kurikulum disesuaikan dengan minat dan kebutuhan perorangan atau minat dan kebutuhan yang bersifat umum ?
  5. Bagaimanakah tujuan-tujuan diperbaiki guna mencapai hasil-hasil pendidikan yang lebih baik ?

(2)     Masalah-masalah yang berhubungan dengan isi dan organisasi kurikulum, seperti :

  1. Ukuran apa yang digunakan untuk memilih bahan dan pengalaman-pengalaman kurikuler ?
  2. Apakah kurikulum disusun berdasarkan mata pelajaran dan apakah diusahakan diadakan korelasi ?
  3. Jenis-jenis kegiatan dan pengalaman-pengalaman apakah yang terdapat dalam kurikuler ?
  4. Pengalaman-pengalaman apakah yang diwajibkan dan yang mana yang bersifat pilihan ?
  5. Bagaimana cara memperbaiki seleksi dan organisasi bahan-bahan pelajaran dan pengalaman-pengalaman ?

(3)     Masalah-masalah dalam hubungan dengan proses penyusunan kurikulum dan revisi kurikulum.

  1. Mulai dari mana kurikulum disusun dan direvisi ?
  2. Sumber-sumber informasi apa yang dapat dimanfaatkan untuk menyusun kurikulum ?
  3. c. Langkah-langkah apa yang akan dilakukan dalam mengadakan perubahan (revisi) kurikulum secara menyeluruh ?
  4. d. Bagaimana cara memperbaiki proses penyusunan kurikulum ?

Kemudian kita akan melihat dari segi peranan guru dalam pembinaan kurikulum, dimana pembinaan kurikulum melibatkan banyak pihak, terutama guru yang bertugas dikelas. Setiap guru mengemban tanggung jawab secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pengadministrasian dan perubahan kurikulum. Sejauh mana guru terlibat didalamnya akan turut menentukan keberhasilan pengajaran disekolah.

Sejauh Manakah Peranan Guru Dalam Perencanaan Kurikulum.?

Kurikulum disusun oleh suatu lembaga tertentu (diIndonesia kurikulum disusun oleh BP3K). umumnya kurikulum dirancang oleh seorang ahli kurikulum dengan bantuan ahli psikologi belajar dan ahli dalam bidang studi, para guru bidang studi yang telah dipandang telah memiliki pengalaman yang luas dan berpandangan luas, juga diikut sertakan dalam penyusunan kurikulum. Sehinggan kurikulum yang baru disusun akan cocok dengan kebutuhan sekolah dan tanggung jawab guru.

Keberhasilan Kurikulum Sebagaian Besar Terletak Di Tangan Guru Selaku Pelaksanaan Kurikulum.

Para guru bertanggung jawab sepenuhnya dalam pelaksanaan kurikulum , baik secara keseluruhan maupun tugas sebagai penyampaian bidang studi /matapelajaran sesuai dengan Garis-Garis Besar Program Pengajaran yang telah dirancang dalam kurikulum itu. Guru hendaknya dapat melakukan penyesuaian seperlunya dengan kebutuhan setempat. Karena itu peranannya baik selaku pengajar, pembimbing, manager, maupun selaku ilmuwan dan selaku pribadi perlu dicurahkan sedemikian rupa sehingga kurikulum tersebut berhasil pelaksanaannya dikelas atau disekolah. Tanggung jawab ini menuntut kepada guru agar memahami sebaik mungkin tentang tujuan, isi dan organisasi serta sistem penyampaian , sehingga kualitas dan kuantitas hasil pengajaran yang diberikannya mencapai target yang dikehendaki.

Bagaimana Peranan Guru Sebagai Penggelola Kurikulum ?

Sebagai penggelola kurikulum, guru bertanggung jawab membuat perencanaan mengajar (rencana tahunan, rencana bulanan, rencana permulaan mengajar, dan rencana harian), baik dalam bentuk perencanaan unit maupun dalam pembuatan model satuan pelajaran. Tugas sebagai penggelola kurikulum sejalan dengan peranan-peranan lainnya, yang sekaligus menunjang pembinaan dan pengembangan kurikulum disekolah.

Peranan Apakah Yang Dilakukan Oleh Guru Dalam Perubahan Kurikulum ?

Perubahan kurikulum merupakan bagian daripada usaha pembaharuan dalam pendidikan, karena itu sudah tentu melibatkan banyak pihak yang terlibat dalam proses pendidikan.

Guru selaku komponen pendidikan, mau tidak mau tentu telibat dalam pembaharuan kurikulum yang dilakukan. Jadi guru harus ikut aktif dalam usaha perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum memandang perlu memperoleh berbagai input berupa saran , pengalaman guu yang bersangkutan dalam rangka perubahan kurikulum, umunya dalam langkah pertama dilakukan penilaian terhadap kurikulum yang sedang berjalan guna melihat kebaikan-kebaikan dan kelemahan-kelemahan yang ada dari berbagai aspek. Bahkan sejumlah guru yang berpengalaman sering diikut sertakan  dalam panitia pembaharuan kurikulum bersama-sama dengan para pejabat yang berwenang  dan ditunjuk oleh Departemen Pendidikan.

BAB II

FILSAFAT PENDIDIKAN, TUJUAN PENDIDIKAN,

DAN KURIKULUM

  1. A. TENTANG FILSAFAT.

Filsafat dalam kehidupan manusia merupakan sesuatu yang tak terpisahkan. Hal itu bukan saja disebabkan sejarahnya yang panjang, melainkan juga karena ajaran filsafat telah menguasai kehidupan manusia masa kini, dan bahkan telah menjangkau masa depan dalam bentuk bentuk idiologi.

Pengertian filsafat itu sendiri sulit didefinisikan apalagi karena ia bersifat abstrak. Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani Filos dan Sofia yang berarti “ Cinta Kebijaksanaan “ atau “ Belajar “ . Dewasa ini kata filsafat kini mengandung dua pengertian, yaitu :

(1). Filsafat sebagai aktivitas pikiran murni ; kegiatan akal manusia dalam usaha untuk mengerti secara mendalam tentang segala sesuatu. Jadi pengertian filsafat disini adalahberfilsafat. Ia merupakan suatu daya pikir manusia yang bertingkat tinggi atau bahkan tertinggi.

(2). Filsafat sebagai produk kegiatan berfikir murni manusia. Filsafat sebagai suatu wujud ilmu sebagai hasil pemikiran dan penyelidikan  kegiatan berfilsafat tersebut. Dengan demikian filsafat dalam arti ini adalah sebagai bentuk perbendaharaan yang terorganisasi yang memiliki sistematika tertentu

Filsafat merupakan suatu ilmu yang tertua yang mendahului ilmu-ilmu pengetahuan yang lain. Pada dasarnya sebagaian besar ilmu dewasa ini berasal dari filsafat.

Filsafat merupakan  suatu lapangan pemikiran dan penyelidikan manusia yang amat luas. Filsafat menjangkau semua persoalan dalam daya pikir manusia, ia mencoba mengerti , menganalisis, menilai, dan menyimpulkan semua persoalan dalam menjangkau pemikiran manusia secara kritis dan mendalam. ia akan melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang hakiki walau juga bersifat relatif dan subjektif .

Ajaran filsafat yang kemudian dijadikan pandangan hidup suatu bangsa didunia ini dapat disebutkan kapitalis, sosialis, komunisme, pancasila dan sebagainya. Tiap ideologi itu masing-masing mengandung sistem nilai yang berisi pandangan tentang baik-buruk, benar-salah apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindarkan . pendeknya ia merupakan sumber hukum yang berlaku. Sistem nilai itu merupakan sesuatu yang telah diyakini betul kebenarannya oleh suatu bangsa.

Oleh karena itu terdapat perbedaan pandangan hidup antara tiap bangsa, maka apa yang dianggap dan diyakini kebenarannya oleh suatu bangsa belum tentu diperlukan sama  oleh bangsa lain.

Seperti dikemukan diatas , adanya perbedaan ajaran filsafat disebabkan adanya nilai relatif dan subyektif manusia . dilihat dari segi ini sebenarnya adanya perbedaan pendapat itu tidak disebabkan oleh maksud buruk manusia , melainkan suatu manisfestasi hasrat kreatif untuk menyumbangkan perbendaharaan kultural bagi kesejahteraan umat manusia.

  1. B. PENGERTIAN FILSAFAT PENDIDIKAN.

Pengertian filsafat pendidikan secara sederhana sudah dapat dimengerti dari namanya sendiri, yaitu filsafat yang dijadikan dasar pandangan bagi pelaksanaan pendidikan. Akan tetapi persoalan sesungguhnya tidaklah sesederhana itu. Pengertian filsafat sebagai ilmu yang paling komprehensif, dan pengertian pendidikan sebagai ilmu dan lembaga pembinaan manusia sedemikian luas lingkup dan permasalahannya.

Pandangan hidup yang telah diyakini kebenarannya oleh suatu bangsa biasanya diwariskan kepada generasi berikutnya. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga kelestarian kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sarana yang paling praktis dan efektif untuk mewariskan ide-ide filsafat kepada generasi penerus bangsa adalah melalui pendidikan. Dalam hal ini tiap filsafat negara berarti pula dasar filsafat pendidikan bangsa itu. Karena pendidikan adalah lembaga yang melaksanakan pembinaan manusia baik sebagai warga negaramaupun sebagai pribadi. Pendidikan harus mampu melaksanakan tugas mengamankan dan mewariskan secara konsekuen nilai-nilai filsafat bangsa dan negara demi kelangsungan hidup dan eksistensi bangsa itu . setiap bangsa yang melaksanakan aktivitas pendidikan secara prinsipal adalah untuk membina nilai-nilai filosofis bangsa itu , setelah itu barulah dimaksudkan untuk membina aspek-aspek pengetahuan dan kecakapan-kecakapan yang lain.

Bidang ilmu pendidikan dengan segala cabangnya merupakan landasan ilmiah bagi pelaksanaan pendidikan yang terus berkembang secara dinamis dan terus menerus. Filsafat pendidikan sesuai dengan peranannya merupakan landasan filosofis yang menjiwai seluruh kebijaksanaan dan pelaksanaan pendidikan. Kedua hal tersebut harus menjadi pengetahuan dasar bagi setiap pelaksana pendidikan.

Aktivitas pendidikan pada hakekatnya adalah membantu manusia untuk mencapai kedewasaan dan kematangan. Potensi manusia yang paling alamiah adalah tumbuh dan berkembang untuk menuju kedua hal itu. Akan tetapi kita melihat kenyataan bahwa tidak semua manusia dapat  berkembang sebagaimana yang diharapkan. Timbulah berbagai pemikiran tentang adanya hal-hal yang mempengaruhi proses kedewasaan dan kematangan tersebut, seperti ada tokoh yang mengatakan bahwa perkembangan manusia mutlak ditentukan oleh faktor (Nativis), sebaliknya ada tokoh yang mengatakan bahwa pengaruh mutlak berasal dari lingkungan atau pendidikan (Empiris), dan ada pendapat yang mengabungkan antara bakat dan pendidikan (Konvergensi).

Dari pembicaraan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam filsafat pendidikan terkandung nilai-nilai, cita-cita, gambaran tentang tingkah laku individu atau masyarakat yang diharapkan. Hal itu mempunyai dampak bagi seorang pendidik sebagai pelaksana pendidikan. Seorang pendidik harus memiliki “Filsafat” yang sistematis-logis, dan menyakini betul nilai-nilai yang menjadi pandangan hidup bangsa. Cara berpikir, berperasaan, bersikap, dan bertingkah laku harus dapat mencerminkan atau merupakan manifestasi gambaran tentang masyarakat yang diharapkan terwujud. Hal itu disebabkan tugas guru yang harus membantu mengarahkan anak-anak untuk membentuk filsafat hidupnya yang sehat yang mencerminkan isi filsafat pendidikan, yaitu Pancasila.

  1. C. FUNGSI FILSAFAT PENDIDIKAN.

Antara filsafat dan pendidikan terdapat suatu pertalian yang tak terpisahkan. Peranan filsafat pendidikan adalah sebagai pendorong dilakukannya aktivitas pendidikan. Filsafat berperanan menetapkan ide-ide, nilai-nilai, cita-cita, sedang pendidikan bertugas merealisasikan ide-ide dalam ajaran filsafat tersebut menjadi kenyataan dalam bentuk tingkah laku dan kepribadian.  Dengan demikian , filsafat pendidikan dijadikan dasar orientasi kegiatan sistem pendidikan, dijadikan arah dan tujuan kegiatan pendidikan yang dijalankan.

Dalam Modern Philosophies Of Education (1962), Brubarcher mengemukakan fungsi-fungsi filsafat pendidikan dalam empat kategori sebagai berikut :

(1)      Fungsi Spekulatif :      Filsapat pendidikan berusaha mengerti keseluruhan  persoalan pendidikan dan mencoba merumuskan dalam satu gambaran pokok sebagai pelengkap bagi data-datayang telah ada dari segi ilmiah. iA berusaha mengerti segala persoalan pendidikan dan hubungannya dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pendidikan.

(2)      Fungsi Normatif    :  Filsafat pendidikan menentukan arah dan maksud pendidikan. Azas ini tersimpul dalam tujuan pendidikan , yaitu macam atau keadaan masyarakat seperti apa yang secara ideal diharapkan khususnya yang berkaitan dengan norma-norma moral. Filsafat pendidikan memberikan norma-norma dan pertimbangan-pertimbangan bagi kenyataan-kenyataan normatif ilmiah.

(3)      Fungsi Kritik           : Filsafat pendidikan memberikan dasar bagi pengertian  kritis dan rasional dalam mempertimbangkan dan menafsirkan data-data ilmiah . misalnya, data pengukuran analisis evaluasi baik kepribadian maupun prestasi , bagaimana menetapkan klasifikasi prestasi itu secara tepat dengan data-data objektif. Disamping itu, ia juga menetapkan asumsi dan hipotesis yang lebih masuk akal.

(4)       Fungsi Teoritis        :    Semua ide, konsepsi, analisis dan kesimpulan filsafat pendidikan adalah berfungsi teoritis. Pada giliran selanjutnya, teori itu dapat dijadikan dasar pijakan bagi pelaksanaan pendidikan. Filsafat pendidikan memberikan prinsif-prinsif umum bagi suatu kegiatan praktik khususnya praktik dalam dunia pendidikan.

  1. D. TUJUAN PENDIDIKAN DAN TUJUAN KURIKULUM.

Tujuan pendidikan terdiri dari dua jenis tujuan, yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan yang secara bertingkat mendasari tujuan pendidikan institusional, tujuan kurikuler dan tujuan instruksional.

1) Tujuan Pendidikan Nasional

merupakan tujuan pendidikan yang didasarkan pada falsafah negara yaitu Pancasila bersifat umum dan luas yang hendak dicapai dalam jangka waktu yang lama (Jangka Panjang) yang merupakan dasar bagi tujuan pendidikan di Indonesia, karena tujuan ini merupakan tujuan akhir dalam pendidikan. Tujuan nasional merupakan landasan bagi semua tujuan pendidikan dari semua institusi pendidikan, baik pendidikan formal, informal maupun non formal.

Karena tujuan pendidikan nasional ini dijadikan pedoman bagi semua kegiatan pendidikan dan lembaga-lembaga pendidikan di negara kita, maka perumusan tujuan tersebut haruslah disusun oleh suatu lembaga yang berfungsi menggariskan kebijaksanaan-kebijaksanaan pada tingkat nasional, yakni Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang mewakili semua aspirasi, keinginan dan cita-cita masyarakat dan bangsa secara keseluruhan.

2)      Tujuan Pendidikan Kelembagaan atau tujuan Institusional.

Setiap lembaga pendidikan memiliki tujuannya sendiri yang berbeda satu sama lainnya sesuai dengan fungsi lembaga pendidikan bersangkutan. Dalam tujuan ini terkandung rumusan yang bersifat umum yang mengambarkan kualifikasi umum lulusan setiap lembaga pendidikan. Perumusan Tujuan-tujuan institusional berpedoman pada tujuan pendidikan nasional, sehingga menjadi pedoman dalam penyusunan program mengajar dan belajar disekolah tersebut.

3) Tujuan Kurikuler.

Tujuan Kurikuler adalah tujuan yang pencapaiannya dibebankan kepada program suatu bidang pelajaran . perumusan suatu tujuan-tujuan kurikuler ini didasarkan kepada tujuan institusional, sehingga pelajaran untuk bidang pelajaran bersangkutan betul-betul singkron dengan tujuan umum pendidikan. Tujuan ini tertuang dalam GBPP tiap bidang studi. Citra  terhadap tujuan kurikuler ini adalah terbentuknya siswa yang berkepribadian , berilmu pengetahuan dan berketrampilan dalam berbagai macam mata pelajaran. Penanggung jawab terhadap tujuan kurikuler ini adalah guru bidang studi.

4)    Tujuan Intruksional

Tujuan kurikuler tiap bidang studi biasanya masih cukup komplek dan abstrak, maka kemudian ia dijabarkan lagi menjadi tujuan-tujuan yang lebih kongkret dan operasional. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan Intruksional yaitu tujuan yang pencapaiannya dibebankan kepada tiap pokok bahasan yang terdapat dalam tiap bidang studi. Tujuan Intruksional inilah yang lazim disebut sebagai tujuan pengajaran karena pencapaian tujuan itu langsung dapat diketahui pada setiap kegiatan pengajaran yang dilakukan.

Secara struktural tujuan instruksional dibawahi langsung oleh tujuan kurikuler. Citra yang ingin dicapai dari tujuan instruksional adalah siswa dapat mengembangkan kepribadian, kemampuan berpikir dan ketrampilan  dalam hal-hal yang sedang dipelajari.

Perumusan tujuan instruksional ini umunya masih belum operasional, maka dalam pelaksanaan pengajaran disekolah ia masih dijabarkan menjadi tujuan yang benar-benar operasional yang disebut dengan tujuan instruksional Khusus. Tujuan inilah yang paling konkrit dan hasilnya langsung dapat diukur dengan tingkah laku yang operasional.

Untuk mencapai tujuan pendidikan yang bersifat seutuhnya, kurikulum harus mampu menjalankan fungsi mengikat tujuan-tujuan instruksional yang telah dicapai siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian pada diri siswa diharapkan terbentuk menjadi seseorang yang dapat dideskripsikan baik oleh tujuan kurikuler, tujuan institusional maupun tujuan nasional.

  1. MANFAAT TUJUAN.

Kegiatan apapun yang dilakukan agar tidak kehilangan arah dan pegangan  harus mempunyai tujuan yang jelas . tujuan-tujuan yang telah ditentukan itulah yang harus dijadikan dasar orientasi atau acuan dalam pencapaian tujuan tersebut.

Dalam usaha pengembangan kurikulum sekolah kitapun harus medasarkan diri pada tujuan yang berisi gambaran keluaran pendidikan yang diharapkan. Oleh karena itu, masalah tujuan itu termasuk dalam kerangka perencanaan dan penilaian dalam pengembangan kurikulum sekolah dan pengajaran. Kurikulum atau pengajaran tanpa tujuan diibaratkan akan memulai perjalanan tanpa atau bahkan tanpa mempunyai arah.

Peranan atau manfaat tujuan dalam kegiatan pengembangan kurikulum disekolah dapat disebutkan sebagai berikut :

1)      Tujuan akan menjadi pengangan atau membimbing para pengembang kurikulum dalam mendesain materi pelajaran pada kurikulum yang baru yang dirasa lebih efektif (Davies : 73, Pratt : 145).

2)      Tujuan sebagai sarana untuk memberikan , mengajarkan atau mewariskan nilai-nilai , yaitu yang berisi pandangan hidup bangsa yang diyakini betul kebenarannya kepada anak didik.

3)      Tujaun akan memberikan pegangan bagi guru sebagai pelaksana kegiatan pengajaran untuk mengkreasikan pengalaman-pengalaman belajar.

4)      Tujuan memberikan informasi kepada siswa tentang apa yang diharapkan dari kegiatan belajar mereka, atau tentang apa yang harus dipelajari.

5)      Tujuan memungkinkan orang melakukan evaluasi terhadap keberhasilan program kegitan (Belajat mengajar) yang telah dilakukan.

6)      Tujuan akan memungkinkan masyarakat mengetahui secara pasti tentang apa yang akan dicapai (atau misi) oleh suatu sekolah.

  1. F. KRITERIA TUJUAN KURIKULUM.

Kurikulum sekolah yang disusun bagaimanapun juga dimaksudkan agar dapat dilaksanakan dengan efektip dan efisien, karena tujuan merupakan faktor yang menetukan , penyusunan tujuan-tujuan itu harus benar-benar dipertimbangkan dengan cermat yaitu melalui suatu kriteria-kriteria dalam penyusunan kurikulum yaitu :

1)      Tujuan harus selalu konsisten dengan tujuan tingkat atasnya.

Tujuan yang bersifat penjabaran dari suatu tujuan yang lebih tinggi jenjangnya harus sesuai dengan atau tidak bertentangan dengan hal-hal yang diisyaratkan oleh tujuan tersebut.

2)      Tujuan harus tepat, seksama, dan teliti

Tujuan hanya berguna jika dirumuskan secara teliti dan tepat sehinggan memungkinkan orang mempunyai kesamaan pengertian terhadapnya.

3)      Tujuan harus diiddentifikasikan secara spesifik yang mengambarkan keluaran belajar yang dimaksudkan.

Tujuan harus menunjukan secara jelas tentang apa yang akan dicapai setelah melaksanakan suatu kegiatn belajar.

4)      Tujuan bersifat Relevan

Tujuan harus mempunyai relevansi baik terhadap kemampuan personal maupun pada kemampuan sosial.

5)      Tujuan Harus mempunyai kemungkinan untuk dicapai.

Tujuan yang dirumuskan harus memungkinkan orang , pelaksana kurikulum untuk mencapainya sesuai dengan kemampuan yang ada.

6)      Tujuan Harus memenuhi kriteria kepantasan.

Tujuan ini yaitu menyarankan pada kegiatan memilih tujuan yang dianggap lebih memiliki potensi, bersifat mendidik, dan lebih bernilai dari tujuan-tujuan yang lain.

BAB III

TEORI BELAJAR DAN KURIKULUM

  1. PENGERTIAN BELAJAR.

Menurut pandangan tradisional, belajar sekedar diartikan sebagai usaha memperoleh dan mengumpulkan sejumlah ilmu pengetahuan. Atau belajar adalah usaha mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman (Bower dan Hilgard, 1981; 2). Tidak berbeda dengan pengertian tersebut adalah pengertian belajar yang dikemukakan oleh Kimble dan Garmezy (Brown, 1980 ; 7) menurutnya belajar adalah suatu kecenderungan dalam pengubahan tingkah laku yang secara relatif bersifat fermanen dan sebagai hasil dari praktek yang bersifat menguatkan.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa belajar adalah pengubahan tingkah laku yang disebabkan adanya interaksi dengan lingkungan. Lingkungan disini dikatakan sangat luas, bukan semata-mata berupa buku pelajaran, melainkan juga sekolah, individu, orang tua, masyarakat, alam, kebudayaan dan sebagainya. Seseorang dikatakan telah mengalami peristiwa belajar jika ia mengalami perubahan dari tidak tahu menjadi tahu serta mengalami suatu perubahan peningkatan kualitas dari cara sebelum ia belajar. Pada hakekatnya, perubahan tingkah laku juga berarti perubahan kepribadian pada diri si belajar, tingkah laku itu dapat meliputi pengetahuan, sikap, ketrampilan, kemampuan, kebiasaan-kebiasaan, perasaan, interaksi sosial dan sebagainya.

Tafsiran tentang belajar ada bermacam-macam tergantung pada para ahli yang memuat rumusan itu, dalam hal mana sangat ditentukan oleh aliran fsikologi yang dianutnya. Dalam fsikologi belajar kita akan mengenal beberapa aliran yang masing-masing mempunyai konsep tentang belajar. Setiap teori mempunyai implikasinya sendiri terhadap penyusunan kurikulum. Beberapa teori tersebut akan kita bahas berikut ini ;

  1. Fsikologi Daya.

Pandangan ini berpendapat, bahwa dalam diri manusia terdapat berbagai daya , dimana daya-daya tersebut harus dilatih agar dapat berfungsi , seperti mengingat, berpikir, merasakan, berkehendak dan sebagainya.

Implikasinya , bahwa kurikulum harus menyediakan matapelajaran-matapelajaran yang dapat mengembangkan daya-daya itu. Tekanannya bukan terletak pada materinya melainkan terletak dari segi peranan matapelajaran guna pembentukan daya-daya, karena belajar berarti melatih daya-daya , secara efisien dan ekonomis

  1. Teori Mental State (Fsikologi assosiasi ala J. Herbart).

Jiwa manusia sesungguhnya terdiri dari kesan-kesan/tanggapan-tanggapan yang masuk melalui alat indria, dan kemudian berassosiasi satu sama lain yang kemudian membentuk mental/kesadaran manusia. Kesan-kesan itu akan bertambah dalam tertanam dalam kesadaran apabila melalui latihan-latihan. Belajar berarti menanamkan bahan pelajaran sebanyak-banyaknya dan yang memiliki nilai ethis, nilai-nilai yang baik.

Implikasinya adalah kurikulum harus disusun dari sejumlah matapelajaran yang mengandung pengetahuan yang luas. Matapelajaran –matapelajaran itu disusun dalam organisasi yang terpisah satu sama lain.

  1. Fsikologi Behaviorisme .

Aliran ini bertitik tolak dari anggapan , bahwa kesan-kesan dan ingatan sesungguhnya adalah merupakan kegiatan-kegiatan organisme. Jika manusia tidak dapat diamati , tetapi kelakuan  jasmaniah dapat diamati. Kelakuan itulah yang dapat menjelaskan segala sesuatu tentang jiwa manusia. Kelakuan itu adalah sebagai jawaban terhadap perangsang-perangsang atau stimulus dari luar.

Implikasi adalah bahwa dengan mempelajari kelakuam-kelakuan manusia, maka dapat disusun suatu program pendidikan yang serasi dan memuaskan.

B. FAKTOR-FAKTOR BELAJAR.

Dalam penyusunan kurikulum juga perlu kita perhatikan beberapa faktor belajar . faktor-faktor tersebut adalah :

  1. Kegiatan Belajar.

Belajar memerlukan banyak kegiatan yang mana pengajaran yang efektif ialah apabila anak yang aktif  sedangkan guru bertindak selaku pembimbing.

  1. Latihan dan ulangan

Didalam kurikulum diperlukan suatu alokasi waktu yang memadai sehingga memungkinkan untuk diberikan ulangan, latihan dan penggunaan hasil belajar.

  1. Kepuasan dan Kesenangan

Kurikulum harus disusun sedemikian rupa sehingga menyenangkan para siswa dalam melakukan kegiatan belajar, juga kepuasan akan muncul apabila siswa mengetahui akan perkembangan belajarnya.

  1. Asosiasi dan Transfer.

Pengalaman –pengalaman yang diperoleh , antara pengalaman lama dengan pengalaman baru, harus diasosiasikan agar menjadi suatu kesatuan. Pengalaman dan suatu situasi perlu diasosiakan dengan pengalaman dan situasi lain sehinggan mudah untuk transfer hasil belajar.

  1. Pengalaman masa lampau.

Pengalaman dan pengertian yang telah dimiliki oleh siswa , akan memudahkan menerima pengalaman –pengalaman baru.

  1. Kesiapan dan Kesedian Belajar.

Faktor kesiapan turut serta menentukan hasil belajar. Kesiapan mengandung arti kesiapan mental, sosial, emosional dan fisik. Kesiapan akan memudahkan siswa belajar dan akan lebih berhasil.

  1. Minat dan Usaha.

Belajar dengan penuh minat akan lebih mendorong untuk belajar lebih baik dan akan meningkatkan hasil gelajar. Minat belajar akan timbul apabila siswa merasa tertarik terhadap apa yang akan dipelajari .

  1. Psikologis.

Kesehatan dan keseimbangan jasmani siswa perlu mendapat perhatian sepenuhnya , oleh sebab itu kondisi fisikologis ini akan berpengaruh pada kosentrasi, kegiatan dan hasil belajar.

  1. Intelegensi atau kecerdasan.

Kemajuan belajar juga ditentukan oleh tingkat perkembangan intelegensia, sehingga kurikulum harus disusun berdasarkan tingkat intelengensi siswa.

Belajar dan Implikasinya terhadap penyusunan kurikulum adalah :

  1. Perenncanaan kurikulum harus bersifat fleksibel (luwes) dan menyediakan suatu program yang luas guna pengembangannya pangalaman-pengalaman belajar.
  2. Kurikulum harus dikembangkan berdasarkan latar belakang siswa dan keseluruhan lingkungannya agar pengalaman belajar yang diperolehnya bermakna dan bertujuan.
  3. Pengembangan kurikulum hendaknya memberikan pengalaman-pengalaman yang serasi dengan kebutuhan-kebutuhan penyesuaian diri dan mengembangkan kepribadian yang terintegrasi.
  4. Kurikulum disusun dan dilaksanakan dengan memperhatikan kesiapan para siswa, karena hal ini mempengaruhi proses pendidikan.
  5. Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum hendaknya memungkinkan partisifasi aktif dan tanggung jawab para siswa baik secara perorangan maupun secara berkelompok.
  6. Penyusunan kurikulum hendaknya merupakan unit-unit yang luas dan menyeluruh serta memadukan pola-pola pengalaman yang bermakna dan bertujuan.
  7. Proses penyusunan dan pelaksanaan kurikulum hendaknya berusaha memberikan serangkaian pengalaman dimana para guru dan siswa terlibat bersama-sama yang mendorong keberhasilan belajar para siswa itu.
  8. Penyusunan kurikulum hendaknya disertai dengan kegiatan evaluasi yang merupakan faktor penting yang mempengaruhi proses dan hasil belajar.

BAB IV

PENGEMBANGAN BAHAN KURIKULUM

A. SEKITAR BAHAN KURIKULUM

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan bahan kurikulum itu ? secara lebih teknis , Gall mendefinisikan bahan kurikulum sebagai : “ Curriculum materials are physikal enttities, representational  in nature, used to facilitate the learning process (Gall, 1981: 5 ). Jadi  bahan kurikulum adalah sesuatu yang mempunyai sifat fisik , sifat mewakili dan yang dipergunakan untuk mempermudah proses belajar. Lebih lanjut dijelaskan yang dimaksud dengan entitiss fisik (Physical entities) adalah bahan kurikulum itu merupakan objek yang dapat diobservasi , bukan hanya berupa ide-ide atau konsep.

Bahan yang bersifat representational dimaksudkan bahan kurikulum yang dapat menyampaikan sesuatu yang lain lebih dari sekedar barangnya itu sendiri, misalnya buku sejarah, secara bendanya itu sendiri tak mempunyai pengertian pengajaran, dan sebagai objek nyata ia dapat dipandang sebagai sejumlah kertas yang berisi tulisan cetak. Buku sejarah tersebut dianggap sebagai bahan pengajaran karena ia menyampaikan kejadian-kejadian sejarah serta pemikiran tentang peristiwa tersebut.

Karakteristik bahan kurikulum yang lain adalah bahan itu secara sungguh-sungguh memberikan fasilitas belajar . jadi bahan tersebut memang secara sengaja dirancang dan dibuat untuk maksud pengajaran.

  1. B. HUBUNGAN PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN PENYELEKSIAN BAHAN.

Seperti dikemukakan diatas, pengembangan bahan kurikulum merupakan salah satu bagian dari pengembangan kurikulum secara keseluruhan. Adanya penggantian kurikulum yang berlaku biasanya juga dimaksudkan untuk memajukan sekolah. Bahan pengajaran yang dimaksud harus terlebih dahulu diseleksi dan disesuaikan dengan tujuanpengajaran disekolah itu secara keseluruhan. Dengan demikian , penyeleksian bahan kurikulum tak dapat dipisahkan dengan usaha pengembangan kurikulum maupun sekolah itu sendiri.

Perumusan tujuan kurikulum pada umumnya didasarkan pada konsep-konsep sifat belajar, pelajar, dan masyarakat. Mc. Neil (1977) mengemukakan adanya empat perbedaan konsep yang mempengaruhi pengembangan kurikulum dewasa ini, yaitu ; Pandangan Humanis, Rekontruksi Sosial, Teknologi intruksional, dan disiplin Akademis.

Kurikulum yang dikembangkan atas dasar pandangan humanis misalnya, cenderung merumuskan tujuan pendidikan dengan menekankan pada kebutuhan individual demi pertumbuhan dan integritas personal. Dipihak lain pandangan rekontruksi sosial menekankan pada pembaharuan masyarakat dan kebudayaan.

Penyeleksian bahan kurikulum baik oleh tim pengembang kurikulum maupun oleh guru secara individual , harus secara cermat dilihat dari segi relevansinya dengan kurikulum yang dikembangkan, hal itu dapat ditempuh melalui proses pengambilan , penganalisisan, dan penilaian bahan. Jika bahan diseleksi lepas dari hubungannya yang lebih besar, ia akan menghasilkan sesuatu yang tak ada hubungannya dengan program pengajaran, dan itu berarti menghilangkan kemungkinan siswa untuk menghubungankan dengan hal-hal lain.

  1. TAHAP – TAHAP PROSES ADOPSI BAHAN KURIKULUM.

Proses adopsi bahan memuncak pada keputusan untuk memilih atau merekomendasikan tentang penyeleksian terhadap seperangkat bahan yang khusus. Jika kita menyeleksi bahan untuk diri sendiri sebagai penerima dan kemudian mempergunakannya , walau penyeleksian itu tidak bersifat formal dengan setiap langkah didukomentasikan dan dicek orang lain, ia harus sistematik dan dapat dipertanggung jawabkan, tetapi jika penyeleksian bahan itu untuk orang lain , kita harus bersifat dan bertindak formal dengan mengikuti-tahap-tahap tertentu yang dapat dipertanggung jawabkan. Dalam hal ini biasanya dibentuk panitia penyeleksi bahan.

Proses penyeleksian bahan kurikulum yang bersifat formal terdiri dari sejumlah tahap, Gall (18 – 25) mengemukakan ada sembilan tahap yang harus dilalui yaitu :

  1. Identifikasi kebutuhan.
  2. Merumuskan misi kurikulum
  3. Menentukan anggaran pembiayaan
  4. Membentuk tim penyeleksi
  5. Mendapatkan susunan bahan
  6. Menganalisis bahan
  7. Menilai bahan
  8. Membuat keputusan adopsi
  9. Menyebarkan, mempergunakan dan memonitor penggunaan bahan.

Setelah keputusan adopsi ditetapkan, maka selesailah tugas penyeleksian bahan kurikulum sekolah . kegiatan selanjutnya adalah penyebaran bahan itu kesekolah-sekolah dan kemudian memonitor bagaimana pelaksanaan dan hasilnya sebagai umpan balik.

BAB V

ORGANISASI KURIKULUM

Organisasi Kurikulum adalah struktur program kurikulum yang berupa kerangka umum program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Struktur program dapat dibedakan menjadi dua yaitu struktur horizontal dan struktur vertikal.

Struktur Horizontal berhubungan dengan masalah pengorganisasian atau penyusunan bahan pelajaran kedalam pola atau bentuk tertentu, sedangkan struktur Vertikal berhubungan dengan masalah sistem-sistem pelaksanaan kurikulum sekolah, termasuk didalamnya sistim pengalokasian waktu.

  1. A. STRUKTUR HORIZONTAL

Seperti dikemukakan diatas, struktur horizontal dalam pengorganisasian kurikulum adalah suatu bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa.  Masalah pengorganisasian ini sangatlah penting karena disamping bertalian erat dengan tujuan pendidikan juga akan menentukan isi pelajaran  dan mempengaruhi cara atau strategi pnyampaiannya.

Dalam pembicaraan ini akan dibahas tiga macam bentuk penyusunan kurikulum, yaitu :

-         Separate Subject Curriculum

-         Correlated Curriculum

-         Integrated Curriculum

Sebenarnya pemisahan ini hanyalah bersifat teoritis saja, karena pada kenyataannya tidak ada kurikulum yang secara mutlak mendasarkan diri pada salah satunya tanpa mengaitkan dengan yang lain.

  1. Separate Subject Curriculum

Kurikulum yang disusun dalam bentuk ini menyajikan bahan pelajaran dalam  bentuk subjek atau mata-mata pelajaran tertentu. Tiap mata pelajaran tersebut satu dengan yang lainnya bersifat terpisah-pisah, dan tidak dibenarkan jika mengaitkannya.

Mata pelajaran itu biasanya berupa pengetahuan yang telah disusun secara logis dan sistematis yang kemudian disajikan kepada siswa, dan jumlah mata pelajaran yang diberikan cukup berpariasi tergantung tingkat dan jenis sekolah yang bersangkutan. Bahan pelajaran biasanya dibedakan sesuai dengan perbedaan tingkat dan jenis, misalnya di SMA dilakukan dengan kelompok kelas-kelas yang selanjutnya dibedakan lagi dalam kelompok semester demi semester. Jadi dalam bahan pelajaran itu sendiri sudah diadakan batas-batas yang memisahkannya untuk disajikan pada kelas-kelas tertentu yang harus diselsaikan tepat pada waktunya.

Dalam kurikulum bentuk terpisah ini sangat menekankan pada pembentukan intelektual dan kurang mengutamakan pembentukan kepribadian anak secara keseluruhan.

Skope bahan pelajaran atau luas bahan pelajaran yang harus diberikan kepada anak disekolah, biasanya telah disusun dan ditentukan oleh tim pengembang kurikulum yang terdiri dari para ahli. Tim pengembang tersebut disamping menentukan skope yang harus dipelajari juga menentukan kapan suatu bahan harus disajikan. Pengurutan bahan pelajaran tersebut harus disusun sedemikian rupa agar dapat menjamin kesinambungan bahan dan dapat mencegah kemungkinan adanya keterulangan bahan yang telah dipelajari sebelumnya atau sebaliknya ada bahan yang terlewatkan.

Tim pengembang kurikulum ini biasanya merupakan Tim tingkat nasional, karena sifatnya yang demikian maka kurikulum ini sangat dimungkinkan keseragamannya diseluruh negara. Dengan demikian, pendidikan yang diselenggarakan menjalani kurikulum yang sama diseluruh negara. Maka ujian nasional dengan soal yang sama dapat dilakukan secara serentak.

Ada beberapa kekurangan dan keunggulan yang dapat dikemukakan dalam kurikulum bentuk Subject currikulum ini yaitu :

Keunggulan :

-            Bahan pelajaran dapat disajikan secara logis , sistematis dan berkesinambungan. Hal itu disebabkan tiap bahan telah disusun dan diuraikan dengan mengikuti urutan yang tepat.

-            Organisasi kurikulum bentuk ini sangat sederhana, mudah direncanakan, mudah dilaksanakan dan mudah untuk diadakan suatu perubahan.

-            Kurikulum bentuk ini memudahkan para guru sebagai pelaksana kurikulum. Karena disamping bahan pelajaran memang sudah disusun secara terurai, guru hanya mngajar bahan-bahan pelajaran tertentu sesuai dengan bidang studinya.

  1. Correlated Subject Kurikulum .

Adanya suatu usaha untuk menghubungkan antara  berbagai mata pelajaran, serta memberikan bahan pelajaran atau pengalaman pendidikan yang ada sangkut pautnya dengan yang lain inilah yang dikenal dengan Correlated Subject Kurikulum.

Ini tidak berarti kita harus memaksakan adanya hubungan antara mata pelajaran tersebut, melainkan kita juga tetap mempertahankan adanya batas-batas yang ada. Usaha – usaha memberikan korelasi antara mata pelajaran yang satu dengan ;ainnya tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

- menghubungkan antara dua mata pelajaran atau lebih secara insedental.

- menghubungkan secara lebih erat jika terdapat suatu pokok bahasan atau masalah tertentu yang dibicarakan dalam berbagai mata pelajaran.

- menghubungkan beberapa mata pelajaran dengan menghilangkan batas-batas yang ada, jika hal itu memang memungkinkan.

Organisasi dalam bentuk Correlated Subject mempunyai beberapa keunggulan dan kelemahan yaitu :

-         Keunggulan.

  1. Adanya korelasi antara berbagai mata pelajaran dapat menopang kebulatan pengalaman dan pengetahuan murid berhubung mereka menerimannya tidak secara terpisah-pisah.
  2. Adanya korelasi antara berbagai mata pelajaran memungkinkan murid untuk menerapkan pengetahuan dan pengalamannya secara fungsional,

-         Kelemahan.

  1. Kurikulum bentuk ini pada hakekatnya masih bersifat subject contered dan belum memilih bahan yang langsung berkaitan dengan minat dan kebutuhan anak.
  2. Penggabungan beberapa mata pelajaran menjadi satu kesatuan dengan lingkup yang luas tidak memberikan pengetahuan yang sistematis dan tidak mendalam.

3. Integrated Curriculum.

Berbeda halnya dengan bentuk correlated Subject yang hanya menghubungkan  antara beberapa mata pelajaran dan masing-masing mempertahankan atau menampakkan eksistensinya, kurikulum bentuk integrated ini benar-benar menghilangkan batas-batas diantara berbagai mata pelajaran itu. Mata pelajaran tersebut dilebur menjadi satu keseluruhan dan dissajikan dalam bentuk unit.

Didalam unit harus terdapat hubungan antara berbagai kegiatan anak, antara pelajaran yang satu dengan yang lain, dan kesemuanya ini merupakan satu kesatuan.

Kurikulum bentuk unit ini mempunyai ciri-ciri sevagai berikut :

  1. Unit merupakan satu kesatuan bulat ari seluruh bahan pelajaran. Faktor yang menyatukan adalah masalah-masalah yang diselidiki dan dipecahkan oleh murid. Dengan demikian unit menghilangkan batas-batas diantara berbagai mata pelajaran.
  2. Unit didasarkan pada kebutuhan anak baik yang bersifat pribadi maupun sosial, baik yang menyangkut kejasmanian maupun kerohanian. Kebutuhan anak biasanya ditentukan oleh latar belakang kemasyarakatannya.
  3. Dalam unit anak dihadapkan pada berbagai situasi yang mengandung permasalahan yang biasanya berhubungan dengan pelajaran-pelajaran disekolah sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
  4. Unit mempergunakan dorongan-dorongan sewajarnya pada diri anak dengan melandaskan diri pada teori-teori belajar.

Kurikulum bentuk unit ini mempunyai beberapa keunggulan dan kelemahan.

- Keunggulan

  1. Segala hal yang dipelajari dalam kurikulum unit bertalian erat satu dengan yang lain. Anak tidak hanya mempelajari fakta-fakta yang lepas dan kurang fungsional untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi.
  2. Kurikulum ini sesuai dengan teori baru tentang belajar yang mendasarkan berbagai kegiatan pada pengalaman , kesanggupan, kematangan dan minat siswa.
  3. Kurikulum ini lebih memungkinkan adanya hubungan yang lebih erat antara sekolah dan masyarakat karena masyarakat dapat dijadikan laboratorium temapt anak melakukan kegiatan pra ktek.

- Kelemahan

  1. Organisasi bentuk ini tidak mempunyaqi organisasi yang logisdan sistematis. Bahan pelajaran tidak dapat ditentukan terlebih dahulu secara sepihak oleh guru atau lembaga, melainkan harus dirancang secara bersama-sama dengan murid.
  2. Para guru tidak dipersiapkan untuk menjalankan kurikulum bentuk unit, maka jika mereka disuruh melaksanakan kurikulum ini, kiranya hal ini sangat memberatkannya.
  3. Dengan kurikulum bentuk unit , tidak memungkinkan untuk melaksanakan ujian secara bersama-sama karena permasalahan yang dihadapi setiap sekolah tidak sama.
  1. B. STRUKTUR VERTIKAL

Struktur vertikal berhubungan dengan masalah sistem-sistem pelaksanaan kurikulum sekolah, yaitu apakah kurikulum itu dijalankan dengan  sistem kelas atau tanpa kelas, sistem unit waktu yang dipergunakan dan masalah pembagian waktu untuk masing-masing bidang studi pada tiap tingkatan.

  1. Pelaksanaan Kurikulum Melalui Sistem Kelas.

Kurikulum yang dikembangkan menuntut dilaksanakan melalui kelas-kelas tertentu. Dalam kurikulum tersebut sudah ditentukan bahan apa saja yang harus diajarkan yang mencakup beberapa luas dan dalam serta bagaimana urutannya untuk disajikan pada tiap-tiap kelas itu.

Sebagai konsekwensi adanya sistem kelas adalah adanya kenaikan yang diadakan setiap tahun pada setiap akhir tahun ajaran secara serempak.

Adapun keunggulan dari pada sistem kelas ini dapat dilihat dari kelogisan, kesistematisan dan ketepatan perjenjangan bahan pelajaran yang harus diajarkan. Juga memudahkan penyusunan, pengembangan dan penilaian-penilaian, juga memberikan pegangan yang kokoh pada guru.

Adapun kelemahan sistem kelas ini antara lain dapat menimbulkan efek fisikologis bagi murid yang tidak naik kelas, juga adanya muncul faktor-faktor subjektif oleh pihak-pihak tertentu yang dapat merugikan siswa.

  1. Sistem Tanpa Kelas.

Pelaksanaan sistem tanpa kelas tidak mengenal adanya jenjang-jenjang tertentu dan yang ada hanyalah tingkat-tingkat program tertentu. Setiap anak diberikan kebebasan untuk berpindah program setiap waktu tanpa harus menunggu kawan yang lain. Hal itu mungkin saja dilaksanakan jika seseorang siswa telah merasa mampu atau menguasai tingkat program tertentu. Sistem tanpa kelas ini biasanya dapat dilihat pada kursus-kursus .

Keunggulan sistem ini terletak pada kebebasan siswa dan cukup demokratis, anak boleh memilih tingkat-tingkat program yang sesuai dengan kemampuannya.

Kelemahan sistem ini sulit untuk  scope tiap program untuk mencegah adanya keterulangan materi.

  1. Sistem Unit Waktu Yang dipergunakan.

Dalam sistem unit waktu yang digunakan ini adanya sistem catur wulan dan semester. Dengan sistem unit catur wulan, satu tahun dibagi menjadi tiga unit waktu masing-masing selama 4 bualn, yaitu dikenal dengan catur wulan I, II, III. Penyusunan kurikulum disesuaikan dengan pembagian unit waktu pada tiap tingkatan. Kepada anak diberikan nilai hasil belajarnya selama tiga kali dalam setiap tahun.

Sistem unit waktu yang lain dapat dijumpai pada sistem semester, dalam sistem semester ini satu tahun dibagi menjadi dua unit waktu masing-masing selama enam bulan. Tiap semester yang berlangsung enam bulan tersebut merupakan satuan waktu pelaksanaan pengajaran. Bahan pelajaran yang disusun dalam kurikulum pun dibedakan kedalam semester-semester tersebut.

  1. C. STRATEGI PELAKSANAAN KURIKULUM

Strategi pelaksanaan kurikulum adalah cara-cara yang harus ditempuh untuk melaksanakan suatu kurikulum sekolah. Strategi tersebut dapat meliputi pelaksanaan pengajaran , dan pengaturan kegiatan sekolah secara keseluruhan.

  1. Pelaksanaan Pengajaran.

Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan, pelaksanaan pengajaran merupakan yang sangat penting dalam hubungannya dengan strategi pelaksanaan kurikulum. Dari pelaksanaan pengajaran inilah hasil suatu proses belajar mengajar dinilaiu berhasil atau tidaknya.

Dalam setiap jenis kurikulum sekolah biasanya sudah ditentukan tentang bagaimana cara-cara pelaksanaan pengajaran yang dikehendaki. Termasuk dalam bagian pelaksanaan pengajaran ini adalah masalah pemilihan metode dan alat media pendidikan yang dipergunakan.

  1. Pendekatan Ketrampilan Proses.

Kurikulum tahun 1984 menyarankan agar kegiatan pengajaran yang dilaksanakan tidak hanya merupakan komunikasi satu arah saja, melainkan merupakan komunikasi dua arah. Dalam proses pengajaran dengan komunikasi dua arah  baik guru maupun siswa dituntut untuk sama-sama aktif . siswa harus dilibatkan baik secara fisik, mental maupun berupa penampilan diri. Siswa dibiasakan untuk tidak hanya menerima saja, melainkan diajak untuk belajar mendapatkan sendiri informasi, mengelola, mempergunakan dan mengkomunikasikan perolehannya itu.

Pelibatan siswa yang dimaksud antara lain dapat berupa pemberian kesempatan untuk :

  1. Mempelajari materi atau konsep dengan penuh pemahaman melalui perbuatan.
  2. Mempelajari sendiri kegunaan, mengembangkan rasa ingin tahu, jujur,  disiplin dan kreatif.
  3. Mempelajari, mengalami dan menemukan sendiri bagaimana menemukan suatu pengetahuan.
  4. Memikirkan, mencobakan sendiri dan mengembangkan konsep dan nilai tertentu.
  5. Menunjukan kemampuan untuk mengkomunikasikan cara berfikir, hasil penemuan dan penghayatan nilai-nilai baik secara lisan, tertulis, gambar maupun berupa penampilan diri.

Dengan pelaksanaan pengajaran melalui pendekatan ketrampilan proses, diharapkan siswa akan berlatih mencari, menemukan dan mengembangkan sendiri masalah-masalah pengetahuan dan tidak hanya terbiasa mengantungkan penemuan-penemuan orang lain. Untuk itu guru diharapkan memiliki kemampuan untuk bertanya, mengaktifkan siswa, menjawab pertanyaan siswa dan mengorganisasikan kelas.

BAB VI

PENGEMBANGAN KURIKULUM

  1. PRINSIP DASAR.

Dalam usaha pengembangan kurikulu, terdapat sejumlah prinsip dasar yang menjadi landasan agar kurikulum yang dihasilkan memenuhi keinginan yang diharapkan, baik oleh sekolah, murid, orang tua , masyarakat maupun pemerintah. Prinsip inilah yang menjadikan landasan atau pedoman yang menjiwai usaha pengembangan kurikulum yang dilakukan.

Adapun prinsip-prinsip dasar yang sering digunakan sebagai landasan pengembangan kurikulum adalah :

  1. Prinsip Relevansi
  2. Prinsip Efektifitas
  3. Prinsip Efisiensi
  4. Prinsip Kesinambungan
  5. Prinsip Fleksibelitas
  6. Prinsip Berorientasi Pada Tujuan
  7. Prinsip Pendidikan Seumur Hidup
  8. Prinsip Sinkronisasi.

1.1.  Prinsip Relevansi

Relevansi dalam dunia pendidikan dimaksudkan adanya kesesuaian antara hasil pendidikan (lulusan) dengan tuntutan kehidupan yang ada dimasyarakat.

Masalah relevansi pendidikan dengan kehidupan dimasyarakat paling tidak dapat ditinjau dari tiga segi :

  1. Relevansi pendidikan dengan lingkungan murid dan masyarakat
  2. Relevansi pendidikan kaitannya dengan tuntutan pekerjaan
  3. Relevansi pendidikan dengan perkembangan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang.

1.2.  Prinsip Efektifitas.

Efektifitas daloam suatu kegiatan berhubungan dengan masalah sejauh mana hal-hal yang direncanakan dapat terlaksana.

Masalah efektifitas tersebut dapat ditinjau dari segi :

  1. Efektifitas mengajar guru
  2. Efektifitas belajar siswa

1.3.  Prinsip Efesiensi.

Dalam efesiensi dipermasalahkan perbandingan antara hasil yang dicapai dengan usaha yang dijalankan atau biaya yang dikeluarkan. Jika hasil yang dicapai sesuai dengan usaha atau biaya yang dikeluarkan bisa dikatakan bahwa kegiatan tersebut sudah cukup efesien.

Dalam efisiensi ini pula termasuk didalamnya masalah efesiensi pembagian waktu , tenaga dan biaya.

1.4.  Prinsip Kesinambungan.

Dengan istilah kesinambungan dimaksudkan adanya hubungan yang saling menjalin berbagai tingkatan dan jenis program pendidikan, terutama mengenai bahan pengajaran.

Kesinambungan ini  meliputi kesinambungan program pengajaran antara berbagai tingkatan juga terdapat kesinambungan antara berbagai bidang studi.

1.5.  Prinsip fleksibelitas.

Dimaksudkan adanya semacam ruang gerak yang memberikan sedikit kebebasan dalam bertindak atau mengambil kegiatan yang akan dilaksanakan.

Dalam kurikulum sekolah pengertian fleksibelitas itu mencakup kebebasan murid untuk memilih program pendidikan yang disenangi, sedangkan bagi guru kebebasan untuk mengembangkan program pengajaran yang akan dilakukan.

1.6.  Prinsip Berorientasi Pada Tujuan.

Dengan prinsip ini dimaksudkan agar semua kegiatan pengajaran didasarkan dan berkiblat pada tujuan yang akan dicapai. Tujuan-tujuan pengajaran tersebut harus diketahui dan dirumuskan terlebih dahulu secara jelas, agar kegiatan belajar mengajar mempunyai arah yang jelas.

Perumusan tujuan hendaknya meliputi aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap.

1.7.  Prinsip Pendidikan Seumur Hidup.

Prinsip ini dimaksudkan adanya kesadaran dan kemauan setipa manusia Indonesia untuk selalu membuka diri, mengembangkan kemampuan dan kepribadian melalui program belajar.

1.8.  Prinsip Sinkronisasi.

Dengan prinsip sinkronisasi dimaksudkan adanya sifat yang seirama, searah, setujuan pada semua kegiatan yang disarankan oleh Kurikulum.

B. TAHAP-TAHAP PENGEMBANGAN KURIKULUM.

Tahap-tahap pengembangan kurikulum yang dibahas adalah merupakan suatu model pengembangan kurikulum yang diterapkan diIndonesia. Pemilihan suatu model haruslah didahului dengan pengkajian situasi kerja serta keperluan kita. Seperti yang umum terjadi, apabila kita dihadapkan kepada beberapa alternatif pilihan, maka kita akan memilih beberapa model tersebut sekaligus yaitu dengan mengambungkan beberapa model tersebut secara sekaligus.

Pengembangan kurikulum di Indonesia , khususnya yang berorientasi pada tujuan,  akan melalui tahap-tahap perkembangan pada tingkat lembaga, pengembangan program tiap mata pelajaran, dan pengembangan program pengajaran disekolah.

  1. Pengembangan Program Tingkat Lembaga.

Pengembangan program tingkat lembaga meliputi tiga kegiatan pokok, yaitu perumusan tujuan Intruksional, penetapan isi dan struktus program, serta  penyusunan strategi pelaksanaan kurikulum secara keseluruhan.

  1. Perumusan Tujuan Institusional.

Tujuan intruksional dimaksudkan tujuan yang diharapkan dikuasai para lulusan suatu jenis dan tingkatan sekolah setelah mereka menyelesaikan pendidikan sekolah

  1. Penetapan Isi dan Struktur Program.

Kegiatan menetapkan isi dan struktur program dilakukan setelah perumusan tujuan institusional selesai. Penetapan isi program berupa penetapan mata pelajaran yang akan diajarkan disekolah yang dapat menopang untuk mencapai tujuan .

  1. Penyusunan Strategi Pelaksanaan Kurikulum.

Strategi pelaksanaan kurikulum berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum dilapangan atau disekolah yang termasuk dalam strategi ini adalah masalah pengajaran yang berupa paket-paket pelajaran, pelaksanaan pengajaran dengan model SP atau modul, kemudian apa metode dan media yang dipergunakan.

  1. Pengembangan Program Setiap Mata Pelajaran.

Langkah –langkah pengembangan program tiap mata pelajaran mencakup beberapa kegiatan yaitu :

  1. Merumuskan Tujuan Kurikuler.

Dalam tujuan kurikuler dirumuskan tujuan-tujuan yang mencakup aspek pengetahuan , ketrampilan dan sikap-sikap serta nilai yang diharapkan dimiliki oleh setiap mata pelajaran. Perumusan tujuan kurikuler harus mendasarkan diri pada tujuan instituasional yang telah dirumuskan.

  1. Merumuskan Tujuan Instruksional.

Perumusan tujuan instruksional adalah tujuan instruksional umu, yaitu tujuan yang diharapkan dimiliki oleh siswa untuk tiap pokok bahasan setelah mereka menyelesaikan program tersebut.

  1. Menetapkan pokok dan sub Pokok Bahasan

Kegiatan menetapkan pokok dan sub pokok bahasan dilakukan setelah perumusan tujuan instruksional. Hal ini disebabkan penetapan pokok bahasan harus mendasarkan diri pada tujuan karena pada hakekatnya pokok-pokok bahasan itulah yang dipakai sebagai sarana untuk mencapai tujuan itu.

  1. Menyusun Garis-garis Besar Program Pengajaran.

Jika tiga kegiatan telah selesai, kegiatan berikutnya adalah menyusun GBPP yang merupakan pedoman pengajaran disekolah oleh para staf pengajar dan untuk menyusun buku pelajaran.

Dalam setiap GBPP akan dijumpai rumusan tujuan-tujuan kurikuler, tujuan intruksional, poko-pokok bahasan dan uraian-uraian pelajaran.

  1. Pengembangan Program Pengajaran di Kelas.

Kegiatan pengembangan kurikulum yang berupa program pengajaran dikelas dilakukan oleh masing-masing guru mata pelajaran yang berupa pembuatan satuan pelajaran (SP) yang terdiri dari :

1.Tujuan Intruksional Umum (TIU)

2. Tujuan Intruksional khusus (TIK)

3. Uraian Bahan Pelajaran

4. Perencanaan Kegiatan Belajar mengajar

5. Pemilihan metode, alat atau media

6. Penilaian.

DAFTAR  PUSTAKA

  1. 1. Burhan Nurgiyantoro  “ Dasar-dasar pengembangan kurikulum sekolah (Sebuah Pengantar teoritis dan pelaksanaan) “ penerbit BPFE Yogyakarta ; 1988.
  2. 2. DR. Oemar Hamalik, “Pengembangan Kurikulum” ,  (Dasar-dasar dan perkembangannya) Penerbit CV. Mandar Maju Bandung ; 1990.
  3. 3. Winarno Surahmad “ Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum “ Proyek Penggadaan Buku Sekolah Pendidikan Guru Jakarta ; 1977.
  4. 4. MPR, “ Garis-Garis Besar Haluan Negara, Penerbit “karunia” Surabaya : 1973.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Perkawinan Hindu Kaharingan

September 12, 2009 at 6:39 am (Artikel, Karya Ilmiah)

SARANA DAN PELAKSANAAN  UPACARA RITUAL PERKAWINAN

AGAMA HINDU KAHARINGAN DI KABUPATEN BARITO SELATAN

Oleh : Pranata

ABSTRAK

Menghadapi Zaman global tentunya  akan membawa angin perubahan terhadap kehidupan masyarakat dan mereka harus siap menghadapi kekuatan global ini agar tetap eksis sebagai masyarakat pemegang budaya.

Pelaksanaan upacara ritual merupakan salah satu kekayaan budaya yang perlu dipertahankan, ditingkatkan dan dikembangkan dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dilandasi oleh iman dan taqwa. Upacara-upacara yang dilakukan oleh umat Hindu Kaharingan dalam menjalankan kehidupannya itu mulai dari sejak dalam kandungan, lahir hingga dewasa dan sampai pada ia kembali kehadapan Ranying Hatalla Langit, selalu dilaksanakan dengan upacara ritual. Salah satunya yang perlu dipertahankan dan dilaksanakan adalah upacara ritual perkawinan (manusia Yadnya).

Sehubungan dengan hal tersebut, kita semua mempunyai tugas untuk melestarikan tata nilai ritual terutama tentang upacara ritual perkawinan yang sangat erat hubungannya dengan perkembangan agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tentang jenis upacara ritual perkawinan,untuk mengetahui tentang Sarana yang dipakai dalam upacara ritual perkawinan dan untuk mengetahui tentang tata cara Upacara Ritual Perkawinan menurut agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan.

Berdasarkan dari hasil penghimpunan data dan wawancara peneliti dengan para nara sumber di Kabupaten Barito Selatan Kecamatan Karau Kuala Desa Talio  menyatakan bahwa upacara ritual perkawinan menurut agama Hindu Kaharingan terdapat  3 (tiga) jenis perkawinan yaitu disebut dengan :

  1. Kawin Hisek
  2. Kawin Lari
  3. Mandai Balai Sumbang

Adapun sarana atau peralatan  yang harus dipersiapkan untuk proses pelaksanaan upacara Ritual Perkawinan yaitu gong, Sangku, Rawayang, Amak/Tikar. Dadinding, Lilis, Bahalai/Kain Panjang, Batu Asa, Lakar, Lunta/Jaring, Rambat, Sawang, Kakambat, Telur, Buah Kelapa yang Bertunas

Sedangkan proses dari tata cara  ritual perkawinan menurut Agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan Kecamatan Karau Kuala Desa Talio yaitu melalui proses :

  • Besi Kurik
  • Hisek
  • Upacara Perkawinan
  • Pali

Kata Kunci : Sarana , Ritual  Perkawinan

I. PENDAHULUAN

Menghadapi  Zaman yang serba Globalisasi dewasa ini, yang mana sektor pendidikan akan mendapat suatu tantangan yang besar dan berat, karena dituntut untuk menciptakan dan menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Persiapan menyongsong zaman yang serba global yang penuh dengan persaingan global harus dilakukan dengan cermat dan terarah, sehingga mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang kita harapkan.

Zaman globalisasi membawa angin perubahan terhadap kehidupan masyarakat, hubungan masyarakat indonesia yang berpedoman pada budaya Pancasila harus siap menghadapi kekuatan global ini, agar tetap eksis sebagai masyarakat pemegang budaya.

Pelaksanaan upacara-upacara ritual Keagamaan merupakan salah satu kekayaan budaya yang ada  di Kalimantan Tengah  sangat perlu kita pertahankan, ditingkatkan dan dikembangkan, dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dilandasi oleh iman dan taqwa. Upacara-upacara keagamaan yang dilakukan oleh umat Hindu Kaharingan dalam menjalankan kehidupannya itu mulai dari sejak dalam kandungan, ia lahir hingga dewasa dan sampai pada ia kembali kehadapan Ranying Hatalla Langit, selalu dilaksanakan dengan dengan upacara Ritual Keagamaan.

Salah satu upacara Ritual Keagamaan yang selalu dilaksanakan dan perlu dipertahankan adalah Upacara Ritual Keagamaan Perkawinan (Manusa Yadnya).

Upacara Ritual Perkawinan adalah merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan sehingga perkawinan tersebut dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat, secara Hukum dan Agama. Bagi pemeluk Agama Hindu Kaharingan upacara ritual perkawinan mempunyai arti dan kedudukan  yang sangat penting dalam menjalankan kehidupannya seperti yang terdapat dalam Hukum Hindu  yang dikenal dengan WIWAHA. Wiwaha atau perkawinan yang dilaksanakan harus memenuhi persyaratan-persyaratan perkawinan yang berpedoman pada Hukum Adat Perkawinan dan khususnya pada Hukum Agama Hindu Kaharingan yang berlaku bagi umat Hindu Kaharingan.

Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana dipaparkan diatas, permasalahan pokok yang akan dibahas melalui kegiatan penelitian ini adalah apa saja tingkatan perkawinan dan  sarana yang digunakan serta bagaimanakah tata cara pelaksanaan Upacara Ritual Perkawinan menurut Agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan.

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Barito Selatan Kecamatan Karau Kuala desa Taliu.

II. PEMBAHASAN

A.  PENGERTIAN PERKAWINAN

Orang tua kita dulu dalam hal melangsungkan proses awal perkawinan  yaitu menentukan dan menetapkan calon bagi anak-anaknya dengan asumsi yang kuat bahwa tidak ada orang tua yang sengaja ingin menyengsarakan anaknya.

Dalam kondisi peranan orang tua yang demikian maka perlu tatacara perkawinan yang idial yaitu dapat memenuhi semua norma yang ada dimasyarakat. Kondisi ini mengalami tantangan, karena tatacara perkawinan pada masa sekarang cenderung mengarah kepada hal yang cepat dan praktis dengan melupakan  nilai-nilai sakral yang terdapat dalam proses Upacara Ritual perkawinan.

Adapun yang dimaksud dengan perkawinan itu sendiri, cukup banyak para ahli yang sudah mendefinisikan mengenai perkawinan ini diantaranya seperti yang dikemukakan oleh Hilman Hadikusuma, SH dalam bukunya yang berjudul  Hukum Perkawinan Adat, menyatakan bahwa  “ dikalangan masyarakat adat yang masih kuat prinsip kekerabatannya berdasarkan keturunan (Geonologis), maka perkawinan merupakan suatu nilai hidup untuk meneruskan keturunan, mempertahankan silsilah dan kedudukan sosial yang bersangkutan. Selanjutnya seperti yang terdapat didalam Undang – Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 pasal 1 disebutkan bahwa “ perkawinan ialah ikatan lahir dan bathin antara seoarng pria dengan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Menurut ajaran Agama Hindu Kaharingan upacara perkawinan adalah suci  dan harus dilaksanakan oleh setiap pasangan yang akan hidup berumah tangga yang mempunyai kesadaran tentang tanggung jawab  sebagai suami dan istri dan yang paling penting adalah bagaimana suami istri tersebut mempu mengedepankan ajaran agama. Hal ini seperti yang tertuang dalam Kitab Suci Panaturan Pasal 19 ayat 3 yaitu :

“ Ewen due puna palus lunuk hakaja panting baringen hatamuei bumbung, awi ewen sintung due dapit jeha ije manak manarantang hatamunan aku huang pantai danum kalunen ije puna ingahandak  awi – Ku tuntang talatah panggawi manjadi suntu akan pantai danum kalunen “.

(MB-AHK, 2001).

Dari berbagai definisi diatas, maka perkawinan merupakan  suatu ikatan lahir bathin antara seorang pria dan seorang wanita yang akan melangsungkan perkawinan. Ikatan lahir dan bathin antara seorang pria dan seorang wanita ini haruslah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya, perkawinan tidak boleh dilaksanakan apabila dilakukan dengan paksaan atau pengaruh orang lain. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerenggangan setelah menjalankan hidup berumah tangga. Karena keberhasilan suatu perkawinan harus didasarkan kepada saling mencintai, saling bekerja sama, saling isi mengisi dalam setiap kegiatan rumah tangga. Perkawinan baru dianggap syah apabila telah dilaksanakan sesuai dengan tatacara agamanya dan dicatatkan berdasarkan hukum yang berlaku.

Dalam kehidupan berumah tangga, haruslah disertai adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban serta kedudukan antara suami dan istri . Artinya hak dan kedudukan istri harus seimbang dengan hak dan kewajiban suami didalam kehidupan rumah tangga, tidak ada kedudukan yang lebih tinggi ataupun kedudukan yang lebih rendah. Segala sesuatu yang terjadi didalam keluarga adalah merupakan hasil putusan bersama antara suami dan istri. Dengan demikian pengertian daripada perkawinan adalah benar-benar merupakan suatu ikatan lahir dan bathin dengan landasan saling mencintai, kasih mengasihi serta membagi suka maupun duka.

Menurut ajaran Agama Hindu upacara perkawinan adalah suci yang harus dilaksanakn oleh setiap pasangan yang akan hidup berumah tangga. Setiap pasangan aayang ingin membentuk rumah tangga harus sadar  tentang tanggung jawab sebagai suami istri dan yang paling penting adalah bagaimana sepasang suami istri tersebut mampu mengedepankan ajaran agama terutama bila ia ingin melangsungkan perkawinan.

B.  TUJUAN PERKAWINAN

Setiap orang yang akan kawin harus menyadari arti dan nilai perkawinan bagi kehidupan manusia, sehingga nilai perkawinan itulah yang menjadi landasan dan dasar kehidupan suami istri. Tujuan diadakan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa . tujuan inilah yang sangat didambakan oleh pasangan suami istri dalam kehidupan berumah tangga.

Perkawinan menurut ajaran agama Hindu adalah “Yadnya”, sehingga seorang yang memasuki ikatan perkawinana akan menuju gerbang Grehastha asrama yang merupakan lembaga suci yang harus dijaga keberadaannya serta kemuliaannya. Lembaga suci ini hendaknya dilaksanakan dengan kegiatan suci pula seperti melaksanakan Dharma Agama dan Dharma Negara, termasuk didalamnya pelaksanaan Panca Maha Yadnya.

Didalam Kitab Manawadharmasastra  Buku III Pasal 4  mengatakan :

“ Gurunanumatah snatwa

swawrtto yathawidhi,

Udwaheta dwijo bharyam

Sawarnam laksananwitam “

Artinya :

“ Setelah mandi, dengan seijin gurunya

dan melakukan sesuai dengan peraturan

upacara samawartana, seorang Dwijanti

akan mengawini seorang perempuan

dari warna yang sama yang memiliki

tanda-tanda baik pada badannya “.

(Manawa Dharmasastra, Buku III ,131)

Apabila kita simak makna dari pernyataan diatas, maka apa yang menjadi tujuan dari perkawinan yaitu ingin menciptakan suatu keluarga yang bahagia dan sejahtera akan tercapai apabila pasangan suami istri tersebut berasal dari keluarga yang baik dan yakin kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Begitu juga seperti yang tertuang dalam Kitab Suci Panaturan Pasal 28 ayat 40 yaitu :

“ Limbah jadi malalus kakare gawi akan Raja Bunu ewen due Kameluh Tanteluh Petak maatuh Kabaluma belum mangun batang panjang huma hai parataran lumbah “

(MB-AHK, 2001)

Perkawinan sebagai awal menuju masa Grehastha merupakan masa yang paling penting dalam kehidupan manusia. Didalam Grehastha inilah tiga perilaku yang harus dilaksanakan yaitu :

  1. Dharma adalah aturan-aturan  yang harus dilaksanakan dengan kesadaran yang berpedoman kepada Dharma Agama dan Dharma Negara.
  2. Artha adalah segala kebutuhan hidup berumah tangga untuk mendapatkan kesejahteraan yang berupa materi dan ilmu pengetahuan.
  3. Kama adalah rasa kenikmatan yang diterima dalam keluarga sesuai dengan ajaran agama.

Dengan demikian tujuan perkawinan yang paling pokok adalah terwujudnya keluarga bahagia, kebahagiaan dan kekekalan harus dibina sepanjang masa. Kebahagian dalam keluarga tidak saja menumpuknyaharta benda, tidak saja terpenuhinya sex, tetapi terpenuhinya kebutuhan jasmani dan rohani yang wajar.

Keturunan inilah yang nantinya bertugas untuk melakukan Sradha (Pitra Yadnya) untuk menyelamatkan dan mendoakan agar leluhurnya mendapatkan jalan yang terang. Anak/keturunan merupakan kelanjutan dari siklus kehidupan keluarga, oleh sebab itu diharapkan dalam sebuah keluarga dapat melahirkan anak/keturunan.

C. JENIS PERKAWINAN

Menurut Agama Hindu Kaharingan di desa Taliu kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito selatan , terdapat  suatu ritual keagamaan  dalam melaksanakan upacara perkawinan yang dibagi dalam 3   ( tiga ) jenis  upacara ritual perkawinan, serta mempunyai bermacam-macam syarat yang mesti harus dipenuhi serta tata cara dari pelaksanaan acara perkawinan baik dari proses pelamaran sampai kepada pelaksanaan upacara perkawinan.

Di desa Taliu Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan, upacara ritual perkawinan menurut Agama Hindu Kaharingan terdapat  3 (tiga) Jenis dalam melaksanakan perkawinan yaitu terdiri dari :

  • Kawin Hisek.

Dalam pelaksanaan upacara Ritual Perkawinan ini dilaksanakan perkawinan yang biasanya dilakukan oleh umat Hindu Kaharingan yang sesuai dengan adat dan ritual Agama Hindu Kaharingan.

  • Kawin Lari

Dalam pelaksanaan upacara ritual perkawinan ini dilaksanakan yang dilakukan apabila tidak direstui oleh orang tua kedua mempelai, sehingga mereka berdua melaskanakan perkawinannya sendiri yang dilaksanakan oleh seorang mantir .

  • Mandai Balai Sumbang

Dalam Pelaksanaan upacara ritual perkawinan ini adalah dilaksanakan suatu perkawinan yang dilakukan apabila perkawinan tersebut dilakukan kesalahan dalam silsilah keluarga misalnya seorang paman yang mengawinkan keponakannya maka mereka harus melaksanakan upacara perkawinan yaitu Mandai Balai Sumbang yang mana mereka berdua harus makan ditempat makanan babi (dulang Bawui) .

D. SARANA UPACARA RITUAL PERKAWINAN

Dalam melaksanakan upacara Ritual Perkawinan menurut agama Hindu Kaharingan di desa Taliu kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan  tentunya memerlukan suatu sarana-sarana yang harus dipersiapkan.  Dengan sarana inilah, maka proses perkawinan akan lebih sempurna dan mencapai apa yang akan menjadi tujuan dari perkawinan tersebut.

Adapun sarana-sarana yang harus dipersiapkan yaitu :

  • Gong

Digunakan sebagai tempat duduk bagi kedua mempelai dalam upacara mamalas .

  • Sangku

Digunakan sebagai tempat menyimpan/menyampaikan jakah paisek .

  • Rawayang

Digunakan untuk menyambut kedatangan penganten laki-laki dan juga digunakan untuk upacara mamalas yaitu diikat bersama-sama dengan hapatung rotan dan batang sawang.

  • Amak/Tikar

Digunakan untuk tempat duduk dalam upacara Hisek dan pada saat mamalas penganten.

  • Dadinding

Digunakan untuk menghias dibelakang tempat duduk penganten .

  • Lilis

Digunakan untuk di ikat ditangan kedua mempelai setelah upacara mamelek.

  • Bahalai/Kain Panjang

Digunakan sebagai alas tempat duduk penganten yang diletakan diatas gong.

  • Batu Asa

Digunakan sebagai tempat meletakan telur yang diinjak oleh mempelai laki-laki  pada saat sampai pada rumah mempelai perempuan.

  • Lakar

Digunakan sebagai pelengkap upacara perkawinan yang diletakan ditengah-tengah tempat upacara mamalas

  • Lunta/jarring

Digunakan sebagai pelengkap upacara perkawinan yang diletakan ditengah-tengah tempat upacara mamalas.

  • Rambat

Digunakan sebagai pelengkap upacara perkawinan yang diletakan ditengah-tengah tempat upacara mamalas

  • Sawang

Digunakan sebagai syarat upacara yang diletakan ditengah –tengah tempat upacara mamalas dan diikat dengan hampatung rotan dan rawayang

  • kakambat

Digunakan sebagai alat untuk mengikat batang sawang, hampatung rotan dan rawayang ditengah – tengah tempat upacara mamalas.

  • Telur

Digunakan untuk mamalas kedua mempelai

  • Buah Kelapa yang bertunas

Digunakan sebagai syarat upacara mamalas kedua mempelai dan pada saat upacara mamalas tersebut diletakan ditengah –tengah tempat upacara dan apabila upacara mamalas telah selesai, buah kelapa tersebut ditanam didepan rumah.

E.  PROSES PELAKSANAAN PERKAWINAN

Didalam pelaksanaan upacara ritual perkawinan di desa Taliu Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan , yang sering dilaksanakan  dan yang syah sesuai dengan ajaran agama Hindu Kaharingan yaitu Kawin Hisek, sebelum acara perkawinan dilangsungkan memiliki berbagai proses dari awal sampai akhir upacara. Adapun rangkaian dari acara-acara tersebut adalah :

  1. Besi Kurik
  2. Hisek
  3. Upacara Ritual Perkawinan
  4. Pali.
  1. A. Besi Kurik.

Dalam upacara ritual perkawinan bagi pemeluk agama Hindu Kaharingan di desa Taliu Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan , sebagai umat yang beragama, sebelum menginginkan memiliki seorang perempuan untuk dijadikan seorang istri maka pihak keluarga dari seorang laki-laki datang menemui keluarga seorang perempuan yaitu diadakan acara Besi Kurik. Dalam acara Besi Kurik ini keluarga calon mempelai laki-laki menyerahkan sejumlah uang  kepada keluarga calon mempelai perempuan sebagai tanda keinginandari pihak laki-laki yang menginginkan seorang perempuan untuk dijadikan istri. Dan dalam acara Besi Kurik ini sekaligus membuat Surat Perjanjian Pertunangan yang isinya mengenai jangka waktu pelaksanaan perkawinan.

  1. B. HISEK

Dalam pelaksanaan upacara ritual Hisek adalah pihak mempelai laki-laki kembali mendatangi pihak mempelai perempuan yang mana bertujuan untuk menelusuri kembali tentang kesepakatan yang telah ditanda tangani dalam penyampaian Besi Kurik. Dalam pelaksanaan upacara Hisek ini juga dilaksanakan acara Jakah Paisek yang mana dari mempelai laki-laki menyerahkan barang-barang yaitu :

Tapih, Pakaian perempuan lengkap, Selendang, Sabun, sikat, odol, Sandal, Bedak, farfum (alat kosmetik)

Peralatan perempuan lengkap ini disimpan didalam sangku.

Selanjutnya dalam upacara ritual Hisek ini pula diputuskan tentang :

-         Palaku

Palaku yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada  pihak perempuan biasanya dapat berupa tanah pekarangan dan dapat berupa barang emas. Palaku ini merupakan hasil kesepakatan kedua belah pihak.

-         Bulau kandung

Memutuskan tentang panginan jandau (makanan yang akan disiapkan untuk acara perkawinan) . Hal ini juga merupakan hasil kesepakatan kedua belah pihak.

-         Rapin Tuak

Memutuskan tentang minuman yang disiapkan sebagai syarat dalam upacara perkawinan, biasanya minuman yang beralkohol.

Dalam upacara ritual Hisek ini dipimpin oleh Matir Agama Hindu Kaharingan, Majelis Resort/Kelompok Agama Hindu kaharingan.

  1. UPACARA RITUAL PERKAWINAN.

Setelah semua upacara-upacara sebelumnya telah dilaksanakan dan semua persyaratan untuk proses pelaksanaan upacara ritual perkawinan sudah siap, maka proses pelaksanaan upacara ritual perkawinan dapat dilaksanakan.

Pertama –tama pihak mempelai laki-laki  berangkat menuju tempat mempelai perempuan , adapun sarana yang dibawa  oleh mempelai laki-laki dan rombongan  yaitu :

-         Hampatung Uei (rotan) sepanjang 4 meter yang diujungnya dibuatkan patung yang mana rotan ini dipegang ujungnya oleh mempelai laki-laki sampai didepan rumah mempelai perempuan.

-         Keris yang dibungkus dengan selendang

-         Butah (rambat) yang diisi dengan damek dan barang-barang lain yang diperlukan yang dibawa oleh penganpit penganten .

-         Kasur, bantal dan guling.

Selanjtnya mempelai laki-laki diapit oleh dua orang penganpit yang membawa mandau  diarak menuju ketempat mempelai perempuan diiringi dengan tetabuhan gong, gendang . begitu juga dengan alat transportasi yang digunakan (biasanya kapal) juga diberikan hiasan.

Setelah pihak mempelai laki-laki sampai ditempat upacara yaitu tempat mempelai perempuan, maka pihak mempelai perempuan sudah mempersiapkan daun sawang sebanyak 7 (tujuh) lembar yang beri tanda  Lapak Lampinak (Cacak Burung) yang digantung didepan rumah mempelai perempuan, kemudian memasang bendera merah putih dan dipinggir tebiung sungai dipasang bendera dari kain panjang (bahalai). Selanjutnya Mantir dari pihak pihak perempuan mempersiapkan Rawayang yang digunakan untuk menyambut mempelai laki-laki.

Setelah mempelai laki-laki sampai ditempat mempelai perempuan, maka disambut oleh Mantir dari mempelai perempuan dengan mendorong alat transportasi (biasanya Kapal/perahu) dengan menggunakan Rawayang sebanyak 3 (tiga) kali.

-         Dorongan yang pertama Mantir mendoakan agar menolak segala sial dari mempelai laki-laki.

-         Dorongan yang kedua Mantir mendoakan agar menolak segala omongan yang tidak baik.

-         Dorongan yang ketiga Mantir mendoakan agar menolak segala iri dengki.

Setelah sudah tiga kali dorongan yang dilakukan oleh Mantir, maka Mantir untuk yang terakhir kalinya mengait kapal/perahu yang digunakan mempelai laki-laki dengan menggunakan Rawayang sambil mendoakan agar mempelai laki-laki dalam menjalankan kehidupannya  mendapatkan tuah rejeki, umr panjang dan kebahagian hidup.

Sebelum mempelai laki-laki dan rombongan naik ketempat mempelai perempuan, maka Mantir melaksanakan upacara Manawur Pali yang bertujuan agar upacara perkawinan yang akan dilaksanakan tidak mendapatkan halangan dan gangguan . Setelah selesai Mantir Manawur Pali, maka mempelai laki-laki dan rombongan naik dan disambut denganolesan bedak dan minyak oleh pihak mempelai perempuan. Setelah selesai acara pengolesai bedak dan minyak, maka mempelai laki-laki dan rombongan disambut dengan Banjang (pantan), yang mana mantir dari pihak perempuan menanyakan maksud kedatangan rombongan dan dijawab oleh mantir mempelai laki-laki dan setelah selesai Tanya jawab maka mantir dari pihak laki-laki memotong Banjang (pantan) tersebut. Setelah Banjang(pantan) terpotong, pihak mempelai laki-laki dan rombongan dipersilahkan untuk menuju kedepan rumah, yang mana didepan rumah mempelai perempuan, mempelai laki-laki dibersihkan dengan acara Tampung Papas dan menginjak telur yang diletakkan diatas batu asa, setelah itu mempelai laki-laki baru dipersilahkan untuk masuk ke rumah tempat upacara perkawinan dilaksanakan dan beristirahat didalam kamar yang telah disiapkan yang terbuat dari dinding kain. Disaat mempelai laki-laki beristirahat mantir dari pihak laki-laki dan mantir dari pihak perempuan berunding tentang waktu dan persiapan untuk upacara Mamelek pada malam harinya.

Sebelum upacara Mamelek dilaksanakan maka diadakan Basarah (persembahyangan) bersama dan baru setelah selesai basarah dilanjutkan dengan upacara Ritual Mamelek. Adapun yang dipersiapkan dalam upacara Ritual Mamelek yaitu :

-         Mantir Pelek

-         Surat Nikah

-         Surat Pelaksanaan Mamelek

-         Surat Bukti Palaku

-         Surat Perjanjian Kawin

Adapun sarana dan prasaranan yang dipersiapkan dalam upacara ritual Mamelek yaitu :

-         Sangku 2 (dua) buah

-         Uang logam 21 (dua puluh satu) biji

-         Luang Panatup 4 (empat) orang

-         Sapatung Bendang 7 (tujuh) buah.

Setelah semua sarana dan prasarana telah dipersiapkan, maka dilanjutkan dengan upacara ritual Mamelek yang dipimpin oleh Mantir Pelek. Upacara ritual Mamelek adalah suatu upacara untuk menagih barang adat (palaku) dalam sebuah upacara perkawinan oleh mantir pihak perempuan  kepada pihak mempelai laki-laki. Adapun barang adat (palaku) yang ditagih yaitu :

-         Tutup Uwan ( Kain hitam)

-         Sinjang Entang (Kain Panjang/Bahalai)

-         Saput (Pakaian)

-         Lapik Ruji (Duit Ringgit)

-         Bulau Singah Pelek (Cincin kawin)

-         Rapin Tuak (Minuman)

-         Gatang Ijang Mantir (uang) dari kedua belah pihak

-         Akan Mantir Mangalakar (uang) dari kedua belah pihak sesuai kesepakatan.

Setelah upacara ritual Mamelek selesai, maka kedua mempelai keluar dari kamar dan disandingkan  diatas tikar dengan berpakaian adat, kemudian petugas mamalek (tukang luang) memasang lilies kepada kedua mempelai yang mana luang dari pihak perempuan memasang lilies untuk mempelai laki-laki dan luang dari pihak laki-laki memasang lilies untuk mempelai perempuan. Setelah selesai mengikat lilies, maka acara dilanjutkan dengan pembacaan surat kawin, surat pelek, surat nikah dan surat bukti palaku dan ditanda tangani oleh kedua mempelai dan dilanjutkan oleh ahli waris kedua mempelai, setelah selesai penanda tanganan maka selesailah upacara ritual Mamelek.

Keesokan harinya para Mantir menpersiapkan sarana dan prasarana untuk melaksanakan upacara mamalas penganten yaitu :

Lilis 14 buah (7 dari pihak laki-laki dan 7 dari pihak perempuan), Tikar, Gong, Dadinding, Lakar, Bahalai, Batu asa, Lunta, Rambat, Batang sawang, Kakamban, Rawayang, Sapatung uwei, Kelapa yang bertunas.

Semua peralatan tersebut diletakan ditengah-tengah tempat upacara mamalasa dilaksanakan. Setelah semua peralatan sudah siap , maka dilanjutkan dengan upacara Manawur Santang oleh Mantir. Adapun sarana yang dipersiapkan untuk Manawur Santang yaitu :

Beras tawur, 1 (satu) dulang makanan, Parapen, Tampung tawar, Undus (minyak).

Setelah selesai upacara Manawur Santang, maka kedua mempelai duduk diatas gong sambil memegang batang sawang dan kemudian para Matir yang berjumlah tujuh orangbergiliran mamalas penganten dan setelah selesai para Mantir mamalas penganten, maka kedua mempelai makan makanan yang telah disiapkan. Kemudian kedua mempelai disuruh berdiri dan tangannya diangkat keatas oleh Ketua Mejelis Resort/Kelompok Agama Hindu Kaharingan untuk acara pemberkatan penganten sambil menukiiy sebanyak 3 (tiga) kali.

Setelah selesai upacara Mamalas dan pemberkatan, kedua mempelai dipersilahkan keluar ke ruang tamu supaya dapat dilihat oleh para tamu yang diluar.

Selanjutnya kedua mempelai masuk kembali kekamar untuk menganti pakaian mereka dan setelah selesai menganti pakaian mereka , kedua mempelai kembali ke tempat upacara Mamalas dan duduk diatas kursi yang telah dipersiapkan. Dilanjutkan dengan Mantir lalu menyampaikan kepada kedua belah pihak yaitu :

  1. Mantir menyerahkan hasil tagihan luang berupa Rapin Tuak dari pihak perempuan dan diserahkan kepada pihak mempelai laki-laki selanjutnya diserahkan kembali kepada Mantir untuk membuka Tajau Tuak.
  2. Mantir menyerahkan penganten kepada ahli waris kedua belah pihak dan menyatakan tugas Mantir telah selesai untuk diserah terimakan kemudian dilanjutkan ahli waris pihak laki-laki menyerahkan penganten laki-laki  kepada ahli waris pihak perempuan.
    1. Mantir memberikan nasehat/tingak ajar kepada kedua mempelai.

Setelah Mantir memberikan nasehat selesai, selanjutnya ahli waris kedua mempelai kembali  menyerahkan kepada Mantir dan bertanya apakah masih ada sisa tentang tagihan luang. Dan dijawab oleh Mantir bahwa masih ada tentang tagihan luang yaitu :

-         Tajau Tuak sudah habis

-         Bulau kandung sudah habis

-         Yang belum adalah Mantir baundang-undang.

Mantir baundang-undang yaitu membaca surat kawin, sureat nikah, surat pelaksanaan mamelek dan Mantir langsung mangalakar dan menyampaikan bahwa semua angkos kawin sudah dipenuhi serta janji sangsi untuk mempelai bahwa bagi yang bersalah sampai mengakibatkan terjadinya perceraian, maka yang melakukan kesalahan akan membayar sesuai dengan apa yang tertuang didalam surat perjanjian kawin. Selanjutnya Mantir baundang-undang tentang tuntunan lawatan (memberitahukan kepada orang banyak)  yaitu Mantir menyampaikan tentang pnyerahan oleh orang rumah dan jumlah bantuan yang diberikan oleh orang kampung.

Setelah selesai acara Mantir baundang-undang, maka selesailah seluruh proses upacara ritual perkawinan.

  1. D. PALI

Dalam pelaksanaan upacara ritual perkawinan bagi umat Hindu Kaharingan, maka setelah proses upacara ritual perkawinan selesai,  untuk kedua mempelai wajib melaksanakan Pali/Pantangan. Adapun tanda bagi yang melaksanakan Mamali dalam upacara perkawinan yaitu daun sawang yang berjumlah 7 (tujuh) lembar diangkat  dan dipasang didapan pintu rumah selama 7 hari 7 malam untuk melaksanakan Pali tersebut. Adapun pali/pantangan tersebut yaitu :

-         Tidak boleh ada pertengkaran/perkelahian. Bagi yang melakukan pertengkaran/perkelahian dirumah yang mamali , maka yang bersangkutan harus mengadakan kembali upacara perkawinan bagi kedua mempelai.

-         Orang yang datang dari tempat kematian/melahirkan, sebelum masuk rumah harus dibersihkan terlebih dahulu dengan tampung papas.

-         Tidak boleh pergi bertamu.

Setelah selesai melaksanakan Pali selama 7 hari 7 malam, maka kedua mempelai melepaskan lilies dan pali / pantangan telah selesai dan kedua mempelai wajib melaksanakan untuk berangkat berusaha /bekerja selama 7 hari  7 malam  pula.

Setelah selesai melaksanakan pergi berusaha selama 7 hari 7 malam maka selesailah seluruh rangkaian upacara perkawinan bagi kedua mempelai.

III. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dalam tulisan ini adalah :

  1. Upacara ritual perkawinanmenurut agama Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan Kecamatan Karau Kuala Desa Talio terdapat 3 (tiga) jenis Upacara Ritual Perkawinan yaitu  Kawin Hisek, Kawin Lari, Mandai Balai Sumbang.
  2. Sarana dan prasarana yang dipakai dalam upacara Ritual Perkawinan tersebut yaitu Sangku, Rawayang, Amak/Tikar, Dadinding, Lilis, Bahalai, Batu Asa, Lakar, Lunta/Jaring, Rambat, Ssawang, Kakamban, Telur dan Buah Kelapa yang Bertunas.
  3. Proses Pelaksanaan Upacara Ritual Perkawinan yaitu melalui proses :

a. Besi Kurik

b. Hisek

c. Upacara Perkawinan

d. Pali.

DAFTAR PUSTAKA

Anak Agung Gde Oka Netra, Drs, 1984. Tuntunan Dasar Agama Hindu,

G. Pudja MA, 2002, Manawa Dharma Sastra, CV. Felita Nursatama Lestari, Jakarta.

Hadikusuma, Hilman, 1977, Hukum Perkawinan Adat, Alumni, Bandung,

MB-AHK, 2001, Panaturan, Palangka Raya

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Pandehen

September 12, 2009 at 6:33 am (Pandehen, Siraman Rohani)

PANDEHEN / DHARMA WACANA

MAKNA SANGKU TAMBAK RAJA DALAM UPACARA PERSEMBAHYANGAN BASARAH

Tabe salamat Lingu Nalatai Salam Sujud Karendem Malempang

Bapak-Bapak,Ibu-Ibu dan Saudara dalam kasih Ranying Hatalla Langit

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perkenan bapak/ibu/suadara meminta saya untuk menyampaikan pandehen / dharma wacana  dengan topik Makna sangku Tambak Raja Dalam Upacara Persembahyangan Basarah.

Bapak-bapak, ibu-ibu umat sedharma yang berbahagia.

Agama Hindu Kaharingan yang didalam penyebaran agamanya memiliki dimensi  yang sangat luas serta fleksibel dan didalam perkembangannya selalu diikuti dengan Desa, Kala dan Patra yang berarti selalu menyesuaikan dengan tempat, waktu dan keadaan dimana umat Hindu Kaharingan itu berada, tumbuh dan berkembang dalam menjalankan kehidupan beragamanya. Dengan demikian tidak heran jika disetiap daerah didalam umat Hindu Kaharingan menjalankan ritual agamanya terdapat perbedaan-perbedaan  dari segi wujud  dan sifat pelaksanaannya, namun pada prinsipnya,  inti maksud dan tujuannya adalah sama yaitu mencapai suatu kebaikan (dharma). Dalam keberagaman tersebut bukan berarti agama Hindu Kaharingan didaerah yang satu dengan yang lain adalah berbeda. Satu hal yang mencirikan agama Hindu adalah terdapatnya konsep Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yaitu Tattwa (Ketuhanan), Etika (aturan tingkah laku), dan Upacara (ritual keagamaan).

Khusus umat Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah didalam mendekatkan dirinya dengan Ranying Hatalla Langit mengenal suatu upacara persembahyangan yang disebut dengan          “ BASARAH ”.  Umat Hindu Kaharingan di kabupaten Katingan juga mengenal kegiatan persembahyangan yang disebut juga dengan istilah BASARAH.

Agama Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah didalam mendekatkan dirinya dengan Ranying Hatalla Langit yaitu  melaksanakan persembahyangan Basarah. Yang mana Basarah artinya menyerahkan segalanya kepada Sang Pencipta Ranying Hatalla Langit agar didalam kita menjalani kehidupan  di dunia (lewu injam tingang) selalu disertai dan diberkati oleh Ranying Hatalla Langit.

Dalam upacara persembahyangan basarah haruslah dilaksanakan oleh seluruh umat Hindu Kaharingan yaitu dengan susunan basarah sebagai berikut :

  1. Mangaru Sangku Tambak Raja
  2. Doa Pembuka Basarah
  3. Kandayu Manyarah Sangku Tambak Raja
  4. Mabaca Pampeteh Ranying Hatalla Huang Panaturan
  5. Kandayu Mantang Kayu Erang
  6. Pandehen
  7. Kandayu Parawei
  8. Doa Kahapus Basarah
  9. Mambuwur behas hambaruan

Adapun sarana yang dipergunakan dalam persembahyangan basarah adalah :

  1. Sangku
  2. Behas
  3. Dandang Tingang
  4. Sipa (Giling Pinang) dan Ruku (Rukun Tarahan)
  5. Duit Singah Hambaruan
  6. Behas Hambaruan
  7. Undus Tanak
  8. Tampung Tawar
  9. Parapen/garu,manyan

10. Benang Lapik Sangku

11. Tanteluh Manuk

12. Kambang

Bapak-bapak , ibu-ibu umat sedharma yang saya hormati

Didalam kegiatan persembahyangan basarah ini intinya adalah menyerahkan persembahyangan Basarah suci Sangku Tambak Raja beserta segala isinya kepada Ranying Hatalla Langit melalu persembahyangan basarah, kemudian kita memohon  kepada Ranying Hatalla Langit agar dapat memberikan sinar suci kekuatanNya bagi kehidupan manusia agar menjalani kehidupan ini selalu mendapatkan bimbingan  menuju kejalan yang benar dan selalu mendapatkan berkat dan anugrah dariNya. Hal ini dapat kita lihat didalam kegiatan persembahyang Basarah yaitu pada saat Manggaru Sangku Tambak Raja  yaitu intinya adalah memberikan suatu keharuman Sangku Tambak Raja yang akan diserahkan kepada Ranying Hatalla Langit agar kegiatan Basarah tersebut akan mendapatkan berkah dan rahmad dariNya.

Pada pelaksanaan persembahyangan basarah , seperti yang tertuang diatas tadi yaitu berupa sarana  yang digunakan tentunya mempunyai makna yang harus diketahu oleh umat Hindu Kaharingan yaitu :

1.    SANGKU

Sangku biasanya digunakan dalam setiap upacara keagamaan Hindu Kaharingan khususnya dalam persembahyangan basarah yang dalam bahasa Sangiang disebut “ Sangku Tambak Raja, Saparanggun Dalam Kangatil Bawak Lamiang “ yang artinya “ Sangku yang telah dilengkapi oleh berbagai alat-alat upacara basarah”. Didalam upacara persembahyangan basarah, Sangku Tambak Raja tersebut haruslah ditempatkan diatas meja kecil , sehingga Sangku Tambak Raja tersebut akan nampak lebih tinggi , serta beralaskan kain yang berwarna warni dan bersih. Hal ini terlihat dalam makna Kandayu Manyarah Sangku Tambak Raja  yaitu Kandayu yang berisikan ungkapan syukur tentang maksud dan tujuan upacara persembahyangan Basarah yaitu dengan maksud menyerahkan Sangku Tambak Raja beserta segala isinya kepada Ranying Hatalla Langit melalui persembahyangan basarah tersebut dan kemudian memohon kepada Ranying Hatalla Langit agar dapat memberikan sinar suci kekuatanNya bagi kehidupan manusia agar didalam menjalani kehidupan ini (di lewu injam tingang)  senantiasa mendapat bimbingan  dalam berpikir yang baik, berkata yang benar serta menjalankan perbuatan yang baik dan benar pula.

Filosopis Sangku Tambak Raja ini merupakan suatu perwujudan dari seluruh kemahakuasaan Ranying Hatalla Langit yaitu sebagai simbolis penyatuan lahir dan bathin umat yang melaksanakan persembahyangan basarah tersebut kehadapan Ranying Hatalla Langit.

2.    BERAS

Dalam bahasa Sangiang , behas disebut dengan nama “ Behas Manyangen Tingang” . Berdasarkan mithologi agama Hindu Kaharingan bahwa pada masa penciptaan alam semesta, Ranying Hatalla Langit menciptakan beras untuk menjaga kelangsungan kehidupan  Raja Bunu yang menjadi asal mula umat manusia didunia dan kelangsungan hubungan dengan Ranying Hatalla Langit. Dari mithologi tersebut, maka umat Hindu Kaharingan menyakini bahwa didalam beras tersebut telah terkandung kekuasaan Ranying Hatalla Langit yang akan menjadi sarana penghubung antara manusia dengan Ranying Hatalla Langit.

Hal ini terbukti didalam ayat suci manawur yang berbunyi :

“ Balang Bitim Jadi Isi, Hampuli Balitam jadi Daha, Dia baling Bitim Ijamku Akan Duhung Luang Rawei Pantai Danum Kalunen, Isen Hampuli Balitam Bunu Bamban Panyaruhan Tisui Luwuk Kampungan Bunu “

Artinya :

“ Behas Manyangen Tingang, Bukan Saja Sebagai Kelangsungan Hidup Manusia, Maka Ia Juga Sebagai Perantara Manusia Dengan Yang Maha Kuasa Serta Sebagai Perantara Antara Manusia Dengan Para Leluhur” .

3.    DANDANG TINGANG

Menurut mithologi agama Hindu Kaharingan bahwa burung Tingang adalah salah satu penciptaan Ranying Hatalla Langit , yaitu melalui perubahan wujud Luhing Pantung Tingang yang terlepas dan kejadian dengan keberadaan Nyalung Kaharingan Belum (air suci kehidupan) pada saat Raja Bunu menerimanya dari ranying Hatalla Lngit yang kemudian berubah wujud menjadi seekor burung Tingang yang dalam bahasa Sangiang disebut “ Tinggang Rangga Bapantung Nyahu” yang menempati sebuah pohon beringin besar yang disebut dalam bahasa Sangiang “ Lunuk Jayang Tingang , Baringen Sempeng Tulang Tambarirang “. Oleh karena itu didalam pelaksanaan persembahyangan basarah burung Tingang tersebut dilambangkan dengan Dandang Tingang, yang memiliki khas tersendiri yaitu berupa warna putih diatas, warna hitam ditengah dan warna putih dibawah.

Dilihat dari filosopis agama Hindu Kaharingan mengandung makna:

- Warna putih diatas berarti alam kekauasaan Ranying Hatalla langit.

- Warna Hitam ditengah berarti alam kehidupan manusia didunia yang selalu penuh dengan pertentangan antara kebaikan dan kejahatan.

- Warna putih dibawah artinya kesucian yang didapat melalui usaha individu dalam melawan ketidakbenaran.

4.    SIPA (GILING PINAG) DAN RUKU (RUKUN TARAHAN)

Sipa yang dalam bahasa Sangiang disebut “Giling Pinang” yang terdiri dari daun sirih , kapur dan buah pinang  serta tembakau yang dilipat menyerupai kerucut yang diisi dengan belahan buah pinang dan tembakau.

Ruku yang dalam bahasa Sangiang disebut “ Rukun Tarahan “ yaitu rokok yang terbuat dari daun nipah yang disebut rokok pusuk.

Penggunaan kedua sarana ini dalam persembahyangan basarah berdasarkan mithologi agama Hindu Kaharingan menyebutkan pada saat penciptaan , yaitu Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut, Sahawung Tangkuranan Hariran dengan Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan , Limut Batu Kamasan Tambun yang berubah wujudnya atas kehendak Ranying Hatalla Langit menjadi Mangku Amat Sangen dan Nyai Jaya Sangiang, yang pada suatu ketika tak kala ia mengobati Raja Pampulau Hawun, saat itulah Mangku Amat Sangen dan Nyai Jaya Sangiang mengalami perubahan wujud menjadi beberapa benda seperti biji matanya menyatu pada buah pinang dan rukun tarahan yang digunakan dalam setiap kegiatan keagamaan Hindu Kaharingan.

5.   DUIT SINGAH HAMBARUAN

Duit Singah Hambaruan dalam bahasa Sangiang disebut “ Bulau Pungkal Raja” yaitu mata uang yang digunakan yang hendaknya mata uang logam perak dan akan lebih baik jika menggunakan emas yang maksudnya mata uang tersebut akan memancarkan sinar terang secara rohaniah, sehingga persembahan suci Sangku Tambak Raja akan tampak jelas kehadapa Ranying Hatalla Langit dan para leluhur serta dengan uang tersebut pula berfungsi sebagai pelengkap atas segala kekurangan alat-alat upacara.

6.    BEHAS HAMBARUAN

Behas Hambaruan adalah beras yang dipilih dari beras biasa yang bersih bening dan tidak sedikitpun cacat dengan jumlah 7 (tujuh) biji  beras. Dan beras yang sudah dipilih tersebut dibungkus dengan kain putih dan inilah yang disebut dengan “ Behas Hambaruan”. Yang ditempatkan ditengah Sangku Tambak Raja berdampingan dengan Dandang Tingang dengan maksud bahwa Behas Hambaruan tersebut sebagai perlambang wujud Raja Uju Hakanduang , Kanaruhan Hanya Basakati, yang nantinya  pada akhir persembahyangan basarah diberi/diterima oleh seluruh yang mengikuti persembahyangan basarah tersebut.

7.    UNDUS TANAK

Undus Tanak dalam bahasa Sangiang disebut “ Minyak Bangkang Haselan Tingang, Uring Katilambung Nyahu “ yaitu minyak kelapa yang terbaik . Hal ini sesuai dengan mithologi yang menyatakan bahwa buah kelapa adalah penjelmaan dan penyatuan dari kepala Mangku Amat Sangen dan Nyai Jaya Sangiang, maka oleh karena itu buah kelapa dalam bahasa Sangiang disebut “ Bua Katilambung Nyahu “ . Dengan demikian undus tanak berarti suci sehingga digunakan yang didasarkan pada hakekat minyak yang licin dan terasa hangat, sehingga dapat melepaskan dan memperbaiki sesuatu yang kusut dalam diri manusia dan kehangatan minyak itu dapat menghangatkan iman manusia terhadap Ranying Hatalla Langit, serta segala sesuatu yang diolesi minyak akan terlihat bersih dan mengkilap.

8.    TAMPUNG TAWAR

Tampung Tawar yaitu terbuat dari daun kelapa muda yang dianyam sedemikian rupa yang digunakan untuk memercikan air suci pada upacara Agama Hindu Kaharingan dan air yang disucikan itu sebagai symbol dari Nyalung Kaharingan yang pada akhir Upacara Basarah bersamaan dengan pelaksanaan mambuwur behas hambaruan juga dipercikan kepada semua peserta Upacara Basarah.  Dengan pengertian bahwa selesai melaksanakan basarah selayaknya menerima anugrah dari Ranying Hatalla Langit dan sebaliknya segala sesuatu yang sifatnya jahat, baik pikiran maupun perasaan dapat di netralisir oleh kesucian air suci kehidupan tersebut.

9.    PARAPEN, GARU/MANYAN

Kata Parapen berarti perapian yang berasal dari kata api, kegunaan parapen pada upacara Basarah adalah sebagai tempat membakar garu/manyan yang merupakan sarana untuk mengiringi pengucapan mantra/Do’a. Asap garu/manyan dapat menumbuhkan ketenangan pikiran dan perasaan sehingga dapat memudahkan untuk memusatkan pikirannya kepada Ranying Hatalla Langit. Dengan demikian hendaknya bara api pada parapen jangan sampai padam selama Persembahyangan/Basarah berlangsung.

10.  BENANG LAPIK SANGKU

Benag lapik sangku artinya kain yang digunakan menjadi alas dimana Sangku Tambak Raja ditempatkan. Kain melambangkan keindahan yang didalam mithologi Agama Hindu Kaharingan bukan saja keindahan alam semeta akan tetapi juga keindahan dari kesucian dan kemahakuasaan Ranying Hatalla Langit.

11.  TANTELUH MANUK

Tanteluh manuk dalam Bahasa Sangiang disebut Tanteluh Manuk Darung Tingang. Pada upacara Basarah telur diletakan berdampingan dengan Dandang Tingan yaitu ditengah-tengah Sangku Tambak Raja, setelah berakhir upacara Basarah telur tersebut diambil cairannya dan dioleskan pada kedua tulang salangka serta dioleskan didahi dan diterima oleh semua yang ikut Basarah. Maksunya dengan telur yang telah disucikan tersebut, untuk menyucikan jasmani dan rohani serta menetralisir hal-hal yang tidak baik dari hati nurani dan pikiran manusia.

12.  KAMBANG

Kambang selalu digunakan dlam upacara basarah yang ditempatkan diatas Sangku Tambak Raja yang maknanya agar laksana bunga yang harum semerbak akan menerima anugrah yang baik dari Ranying Hatalla Langit. Pada akhir upacara basarah, bunga tersebut dicampurkan kedalam Tampung Tawar dan di percikan kepada seluruh peserta basarah.

Bunga yang digunakan untuk upacara basarah hendaknya dipilih yang berwarna merah, putih dan kuning. Bunga merah melambangkan Raja Tunggal Sangumang yang melambangkan penciptaan sekaligus lambang keberanian dalam membela kebenaran demi kedamaian hidup.

Bunga putih melambangkan ketulusan dan kesucian hati, bunga kuning melambangkan kekuasaan Ranying Hatalla Langit dalam memelihara ciptaanya serta melambangkan keteguhan hati.

Demikianlah pandehen/dharma wacana ini disampaikan, semoga memberikan manfaat yang besar bagi kita semua. Sebelumnya saya memohon maaf apabila saya selama menyampaikan pandehen ini ada kata-kata saya yang tidak berkenan dihati umat sekalian, semoga Ranying Hatalla Langit memberikati kita semua ,

Sahiy, Sahiy, sahiy.

Penyampai pandehen

Pranata, S.pd. M.Si

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.